“kukuruyyuuuuuuuuk........” ayam berkokok.
Karena suara ayam yang begitu nyaring, Haisa bangun ditengah-tengah mimpi indahnya. Dia melamun sebentar untuk mengumpulkan nyawanya lalu bergegas mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke Sekolah. Namanya Haisa Paramytha, duduk dibangku SMP kelas 9 di SMP Harapan Pertiwi. Lahir dari keluarga yang sederhana, dia punya 1 kakak laki-laki namanya Dicky anak kelas XI di SMA Harapan Periwi pula. Setelah berpakaian rapi, Haisa bergegas keruang makan untuk sarapan. Disana sudah ada ayah, bunda, dan kakaknya. Inilah kebiasaan yang ada dari keluarga ini. Selalu kompak dan harmonis membuat semua orang iri hihihi.
“hai bundaaa, hai ayaaaah, hai Dicky....” sapa Haisa dengan gembiranya.
“hai honeyku.” Jawab bunda.
“wew nasi goreng spesial ala bundaku nih, pasti enak.”
“ah gak juga sih dol.” Sanggah Dicky yang pengen ikutan nimbrung.
“woooo nyambung-nyambung aja sih lu.” Balas Haisa tak mau kalah.
“eeeh udah jangan berantem ini masih pagi juga. Dicky nanti bareng sama Haisa yaaah kan kamu 1 lokasi.” Bunda melerai.
“hah? Yaah bunda aku kan mau jemput nancy. Dia udah aku suruh nunggu.” Keluh Dicky
“ah kamu ini gimana sih. Yaudah berarti Haisa dianter pak Jono. Yaudah deh makan dulu yang bener.”
Setelah selesai sarapan, Haisa langsung lari ke mobil untuk berangkat ke sekolah diantar sopir setianya itu. Pak Jono adalah sopir keluarga Haisa. Dia sudah bekerja sebelum Haisa lahir jadi yaaah bisa dibayangin gimana akrabnya pak Jono sama keluarga Haisa yang sudah menganggapnya saudara itu.
Sesampainya disekolah seperti biasa Haisa tetap menampilkan wajah Charmingnya itu. Mungkin itu juga yang menyebabkan Haisa mempunyai banyak teman dan di puja-puja banyak kaum Adam, tapi tak satu pun dari kaum Adam itu yang bisa mencuri hati Haisa hihi.
Sesampainya dikelas........
Kelas yang sebenernya luas itu terlihat padat bila anak-anaknya sedang mengobrol, bercanda, dan mohon-mohon supaya dikasih contekan dan sebagainya. Haisa sendiri Cuma bisa narik nafas dan memilih langsung duduk di tempat duduk favoritnya di baris ke 4 pojok disamping Chaca, teman sebangku sekaligus sahabat baiknya. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba dia merasa sangat malas untuk melakukan apa pun setelah sampai dikelas, padahal tadi sebelumnya dia sangat bersemangat. Mungkin karena tadi ia bertemu Anto, salah satu penggemarnya disekolah. Sebenarnya Anto mempunyai tampang dan gaya yang lumayan, dan sedikit tajir tapi entah kenapa Haisa selalu muak bila melihatnya. Seperti tadi, saat Haisa turun dari mobil, Anto telah menyiapkan jurus jitu untuk merayu Haisa. Bayangkan saja dia menaburkan bunga Mawar disepanjang koridor hanya untuk Haisa, padahal Haisa sangat risih dan jijik dengan sikap Anto itu dan sempat terjadi perdebatan diantara mereka yang cukup membuat heboh satu sekolah. Waaaaaaw heboh banget dong ya. Tetapi, Haisa harus, wajib, kudu bersyukur karena dia tidak satu kelas dengan Anto. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila ia satu kelas dengan Anto, mungkin ia akan muntah setiap hari dan Chaca pun akan kerepotan untuk membersihkan muntahannya itu uweeeeeek jijik sekali. Dan kejadian tadi pagi, membuat senyum cantik Haisa menjadi luntur seperti noda bila dicuci dengan ditergen paling mahal yang ada didunia. Intinya, hari ini Haisa tidak bergairah untuk belajar. Jangankan belajar, berbicara dengan orang saja dia ogah.
“kriiiiiiinggggg..........” bel tanda usainya kegiatan belajar hari ini berbunyi dengan nyaringnya.
“ALHAMDULILLAH.......!!” teriak anak-anak kelas Haisa dengan gembiranya.
“apaan sih kalian. Berisik banget tau gak !” tiba-tiba Haisa protes dengan sinis.
“kenapa sih lu sa? Lagi dapet bukan? Kok sensian banget?” bisik Chaca.
“enggak !” jawab Haisa singkat.
Chaca yang sudah berteman dengan Haisa sejak lama sudah mengetahui adat dan sikap temannya itu. Bila Haisa sudah cemberut dan tidak berbicara itu tandanya Haisa sedang badmood dan tidak mau diganggu. Jelas setelah mendengar Haisa menjawab pertanyaannya dengan jutek dan singkat, Chaca hanya bisa tarik nafas tanpa bisa berkomentar apapun dan langsung bergegas pulang duluan. Berhubung Haisa sedang badmood ia berniat untuk langsung pulang. Tapi baru saja ia hendak berdiri dari bangkunya muncul seorang yang sangat tak diharapkan kemunculannya.
“halooo Haisa sayaaangku, honeyku.” Anto muncul dari balik pintu.
Melihat Anto, Haisa reflek melotot dan cemberut. Sebenarnya dia bingung harus bagaimana tetapi dia tetap berjalan keluar tidak menghiraukan Anto si cowok menel alias centil. Anto yang merasa tidak terima di cuekin, dia mengejar Haisa dan menarik tangannya. Haisa jelas kaget.
“apaan sih lo!? Lepasin ih !” Haisa mencoba melepaskan tangannya.
“enggak bisa. Lo harus pulang bareng gue.” Kata Anto
“haaah? Ogah banget tau gak !” lepasin gak !?”
“gak. Gue gak bakal lepasin. Pokoknya lo harus pulang bareng gue.”
“eeeh dodol, rumah kita itu gak nempel. Ngapain mesti pulang bareng lo. Ogaaah se ogah-ogahnya. Lepasin tangan gue yaaaah sebelum gue muntah gara-gara enek ngeliat muka lu.” Haisa semakin berontak.
Entah kenapa, perut Haisa memang benar-benar terasa mual. Mungkin tadi saat sarapan ia malah minum susu. Yaaa khusus pada Haisa susu membuat perutnya mual dan akan memuntahkan susu tersebut. Tapi Haisa berusaha agar jangan sampai iya benar-benar muntah.
“emang rumah kita gak searah tapi kan, gue bisa ngantern lo pulang.” Sambung Anto.
“lo kebanyakan ngomong. Jangan sampe gue muntah beneran yaah. Lepasin gak !” jerit Haisa.
“gak ahh. Mana mungkin lo muntah Cuma gara-gara gue ngomong hahaha lucu banget sih.”
“ih lepasin atuh Anto. nanti gue aduin ke Bu Santi yaaah.”
“sok aja aduin kalo beraa...........................”
“UWEEEEEEEEKKK................” Haisa muntah tepat ke baju seragam putih Anto.
Seketika keadaan menjadi hening. Anto yang tadinya nafsu berbicara, menjadi speechlesh dan shcok melihat seragamnya yang putih bersih sekarang seperti sampah busuk. Haisa pun sama, ia tidak berkata apapun yang ia bayangkan hanyalah bagaimana ekspresi mukanya saat ini. Harusnya tadi Chaca tidak pulang duluan agar melihat kejadian ini. Tapi sungguh ini memalukaaaaaan.
“ih makan apaan sih lo sa? Bau banget muntahan lo.” Komentar Anto.
Haisa Cuma bisa nyengir kuda. Tiba-tiba ia berbicara dalam hati, “ ihh parah banget sih gue. Gue kan gak ada niat buat muntah dibajunya Anto tapi kok malah beneran muntah sih? Ih parah banget. Eeh tapi ada si Dona sama Doni gak yaaah? Mereka kan biasanya masih berkeliaran disekolah buat nyari berita terbaru tentang anak-anak. Aduh bisa gawat kalo mereka masih disini dan ngeliat ini semua. Bakal jadi apa gue besook!!? Aduuh parah parah parah parah ih. Tapi kayaknya gak ada. Aman-aman.”
“eh kok lo diem sih? Heloooo gue ngomong sama lo sa.” Anto memulai lagi.
“ih udah deh lo diem aja. Ini juga kan gara-gara lo. Gue jadi beneran muntah. Harusnya lo itu gak usaaa......................................”
Tiba-tiba ada suara kamera....
“JEPREEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEET.......”
“hah? Apaan tuh?” teriak Haisa kaget.
“ciyeeehh berdua-duan disekolah. Gosip baru deeeh nih hahahahahaha” ledek 2 orang laik-laki sambil berlari-lari keluar.
“hah? MAMPUS GUEE !!!! -____-“ teriak Haisa dan Anto bersamaan.
Haisa berguman dalam hati, “mampus kan bener ada mereka. Bakal jadi apa gue besok !?”
TO BE CONTINUE..........


