Sabtu, 24 September 2011

Hitam-Putihnya Haisa Part III




                Ditengah kegalauan itu, sebenarnya Haisa merasa senang karena mungkin baru pertama kali ia merasakan rasa yang sangat asing yang tumbuh di hati lembutnya. Bayangan laki-laki pembawa koran itu masih memenuhi pikiran Haisa sampai akhirnya Haisa tertidur dengan senyuman mungil penuh makna di wajahnya charmingnya itu.


            “Loh gue dimana nih?” Haisa tiba di tempat yang sangat asing baginya.
Tempat yang sebenarnya sangat indah dan cukup membuat Haisa berdecak kagum. Haisa terus berjalan di tempat yang belum pernah di kunjungi sebelumnya. Sambil berjalan, Haisa tetap was-was dan memerhatikan sekelilingnya.
“ Bundaaaa.... Ayaaaaaaahh..... Dickyyyyyyyyyyyyyy......” teriak Haisa memanggil ayah-bundanya.
Dalam hati Haisa takut pada tempat asing ini. Akhirnya dia memilih untuk duduk disebuah Taman yang dihiasi bunga-bunga cantik. Setelah lama berdiam diri Haisa menundukan kepala dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menangis karena ketakutan. Dia tidak tahu ini tempat apa, dimana, dan kenapa dia tiba-tiba bisa berada disini.
            Ditengah tangisnya, tiba-tiba Haisa merasa ada seseorang yang duduk disebelahnya. Pelan-pelan tapi pasti Haisa melepas tangan dari wajahnya dan menoleh ke sebelah dengan hati-hati. Dan siapaa yang sangka bila yang duduk disebelahnya adalah laki-laki pembawa koran yang menolongnya kemarin. Ooooh apakah ini mimpi atau hanya khayalan. Entahlah yang jelas saat ini Haisa merasa batinnya menjadi lebih tenang.
“Gak’ usah nangis. Ada aku kok disini yang temenin kamu.” Ucap laki-laki itu.
Haisa yang mendengarnya hanya  bisa tersenyum tanpa mampu berucap apa-apa lagi. Jujur, ia merasa sangat gugup akan kehadiran laki-laki itu yang sekarang sedang duduk disebelahnya. Setelah berdiam cukup lama barulah Haisa berani berbicara.
“Mmmmmm nama kamu siapa? Pas kita ketemu kemarin, aku lupa nanya nama.”
“Nama aku A......rr.....i..i.i.i.i.i.iiiiiii.” Jawab laki-laki itu pelan.
“Hah siapaa? Sorry gak jelas.”
“A.........rr........iii” Jawab laki-laki itu semakin pelan dan seperti semakin jauh.
Haisa merasa suara laki-laki itu semakin samar dan makin jauh. Semua pandangannya kabur dan gelap.

            “Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing........” Weker berbunyi.
Karena suara jam weker yang kencang, Haisa perlahan membuka matanya. Dan setelah dia lihat sekeliling, oh ternyata dia masih didalam kamarnya yang nyaman. Tiba-tiba Haisa teringat kejadian dimana ia menangis dan datanglah laki-laki pembawa koran itu.
“Ari? Namanya Ari? Ah apasih gue itu kan Cuma mimpi biasa.” Guman Haisa.
Setengah malas Haisa beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas mandi eits tetapi sebentar, bukankah Haisa di skors selama seminggu? Oooh yaa benar Haisa ingat akan hal itu.  Karena itulah Haisa memutuskan untuk tidak langsung mandi dan bergegas menuju ruang makan dengan masih mengenakan piama favoritnya.
            Dari meja makan Bunda sudah teriak menyapa Haisa.
“Hai sayaaaaang. Gimana tidurnya nyenyak gak?” Bunda berbasa-basi.
“Rada galau Nda.” Jawab Haisa sekenannya.
Mendengar jawaban Haisa, bunda sedikit cemas pada putri satu-satunya itu. Bagaimana tidak? Anaknya sedang dihadapi masalah yang sebenarnya spele tapi cukup rumit.
“Kamu mau selai apa? Strawberry atau kacang?” Bunda menawarkan jasanya.
“Mmmmm selai saos cabe ajah deh Nda kalo bisa.” Lagi-lagi Haisa menjawab dengan asal.
“Eh lu tuh kenapa sih Sa? Sakit bukan? Bunda nawarin baik-baik juga.” Bentak Dicky sedikit emosi.
“Apa sih lu Dick !? gue juga Cuma bercanda kali.” Haisa membela diri.
“Eh kok malah jadi pada debat sih anak Ayah nih. Udah buruan makan. Dicky nanti kamu telat loh.” Ayah ambil bagian kali ini untuk melerai mereka.
            Acara sarapan pagi kali ini cukup membuat Haisa badmood. Entah kenapa semenjak masalah ini muncul, Haisa menjadi sedikit sensi dan mudah tersinggung lalu marah. Setelah selesai sarapan Haisa memutuskan untuk mandi. Saat sampai dikamar, handphone bergetar pertanda ada satu sms masuk. Awalnya Haisa mengira sms itu dari Chaca tetapi perkiraannya salah total. Sms itu dari Anto. Anto? sejak kapan Haisa menyimpan nomor si pembawa sial itu? Ah sudahlah. Sebenarnya Haisa tidak berminat sama sekali untuk membuka pesan itu, tapi karena ia ingin tau apakah Anto di skors atau tidak, ia memutuskan untuk membuka dan membaca pesan itu.
Hai Haisa sayang J selamaaaaat pagi putriku. Cuma mau ngasih tau aja nih, berhubung seminggu ini kita sama2 diskors, gue pengen ngajak lo ke vila gue yang di puncak. Mau gak say? Sama orangtua gue juga kok. Ikut yah yah yah yah yah?
From : Anto
           +6286453827538207
“ Ih gila apa yaah ini orang? Orang mah merenung pas di skros ini malah jalan-jalan. Dasaaar gokil !” Komentar Haisa setelah membaca pesan dari Anto.
Karena khawatir akan muntah bila ia membalas pesan itu, Haisa memutuskan untuk langsung mandi.
            Setelah selesai mandi dan ganti baju, Haisa keluar kamar untuk melihat aktivitas Bundanya di bawah. Cukup lama mencari Bundanya itu, akhirnya berhasil juga ditemukan di Ruang Keluarga. Oh ternyata Bunda sedang merangkai bunga sambil bersenandung. Bunda memang memiliki suara yang merdu, tak kalah jika dibandingkan dengan Trio Diva. Haisa langsung memilih duduk disebelah Bunda sambil bersandar dibahu Bundanya itu. Sepertinya Bunda sangat merasakan perasaan risau dan gelisah Haisa dan Bunda dapat mengerti itu. Sesekali Haisa memperhatikan cara tangan Bunda dengan cekatan merangkai bunga-bunga dan memasukannya kedalam vas mungil nan cantik. Bunda membiarkan putrinya itu bermanja di bahunya karena Bunda tau, Haisa sedang membutuhkan itu. Yaaa perhatian yang lebih untuk saat ini. Sambil mendengar Bunda bersenandung, Haisa menjadi mengantuk dan akhirnya terlelap di ruang keluarga. Bersama Bunda yang menemaninya.
            Haisa terbangun saat dikagetkan dengan suara televisi yang cukup keras yang dinyalakan Dicky.
“Aduuuh lo kok iseng banget sih dick ! udah tau ada orang tidur.” Komentar Haisa.
“Yeee siapa suruh tidur disini. Orang mah tidur teh di kamar.” Jawab Dicky tak mau kalah.
“Isssh resee -___-!” Balas Haisa yang akhirnya pergi.
Haisa berniat untuk mencari bundanya lagi tetapi kali ini tidak dapat ia temukan. Akhirnya Haisa memutuskan untuk berjalan-jalan sore sebentar di taman kompleks rumahnya. Siapa tau disana ia dapat mendapatkan inspirasi untuk syair puisinya.
            Sesampainya ditaman, Haisa memilih tempat didepan air mancur yang sebenarnya sudah tidak mancur lagi. Suasana seperti ini cocok untuk mencari inspirasi syair puisinya. Banyak ibu dan anak sedang berjalan-jalan dan ada juga remaja seumur Haisa yang sedang bermain Basket. Melihat pemandagan itu semua Haisa seperti mendapat semangat baru yang ada dalam dirinya. Dengan cepat ia langsung menulis syair untuk puisinya.

Sedihku..... Lukaku.....
Dan Deritaku......
Tak lagi menguasi batin putihku.....
Cacian..... Hinaan....
Serta Kebencian......
Berubah menjadi kedamaian.....
Biar saja kau pergi.....
Tinggalkan aku disini.......
Kan kuhadapi pagi, dengan setitik rasa riang dihati.....
Kegundahan ku bakaaar.....
Menjadi pribadi yang sadar....
Seperti mawar, yang kembali mekar.......

Itulah yang dituliskan Haisa dalam buku catatan koleksi puisinya. Haisa merasa ini puisi terbaik dan setulus yang pernah ia buat. Timbul senyum mempesona dari wajah cantik Haisa yang sudah jarang melengkung. Andai saja Bunda melihat Haisa tersenyum seperti ini, pasti akan lega perasaan Bundanya.
            Samar-samar Haisa mendengar suara sekumpulan anak yang sedang bernyanyi dengan diiringi alunan suara gitar. Terdengar dari suaranya mereka semua bernyanyi dengan riang seperti tanpa ada beban. Karena Haisa sedikit mempunyai jiwa petualang, Haisa mengikuti suara itu agar tau darimanakah sumber suara itu berasal. Setelah cukup lama mencari jejak suara, dilihatnya sekumpulan anak berbaju sedikit “tidak rapi” dan kumal serta ada satu laki-laki yang umurnya sekitar 16 tahunan. Karena penasaran, Haisa menghampiri segerombolan orang-orang mengasyikan itu.
            Semakin dekat dan dekat, Haisa seperti mengenali wajah laki-laki itu. Haisa terus mendekat dan akhirnya yaa Haisa yakn bahwa laki-laki itu lah yang menolongnya kemarin. Laki-laki pembawa koran yang sekarang sedang memainkan gitar untuk anak-anak yang sedikit malang. Entah kenapa, dada Haisa terasa sedikit sesak dan sedikit gemeteran. Mungkin karena Haisa mengingat mimpi yang dialaminya semalam. Dia mengatakan namanya adalah Ari. Tapi apakah betul? Ah satu-satunya cara untuk menngetahui kebenerannya adalah bertanya. Apakah Haisa berani unntuk bertanya? Bagaimana caranya? Apakah nanti laki-laki itu mengenali wajahnya? Ah tapi Haisa harus berani bertanya dan berbicara lagi pada laki-laki itu. Laki-laki pertama yang membuatnya menjadi susah tidur dan gembira disaat membayangkan wajahnya. Akhirnya dengan segenap keberanian Haisa berucap...
“Eh sorry nih yaaah ganggu kalian hehehe.” Haisa tiba-tiba muncul.
Saat menyadari Haisa berbicara, sontak mereka semua berhenti bernyanyi. Laki-laki itu pun cukup heran.
“eh iyaa ada apa yaah?” Jawab laki-laki itu.
Saat menoleh kearah Haisa, terlihat muka kaget dan sedikit menjadi salah tingkah saat mengetahui yang bertanya adalah perempuan yang ditolongnya waktu itu.
“Eh kamu kan yang waktu dicopet yaaah?” Tanyanya salah tingkah.
“Hehehe iyaaaa.” Jawab Haisa sambil memamerkan nyengir kudanya.
“Ada apaan emangnya? Kok bisa kebetulan ketemu.”
“Mmmmmh eh itu tadi suara kamu sama mereka kedengeran, aku penasaran yaudah aku ikutin ajah suaranya. Eh ternyata kamu hehe.” Jelas Haisa.
“Emangnya ada apa?”
“Mmmmh nama kamu, Ari bukan?’” Tanya Haisa tiba-tiba.
Pertanyaan Haisa cukup membuat semua yang ada disana menjadi keheranan dan terjadi keheningan yang cukup lamaa.
*HENING*



TO BE CONTINUE..........

Kamis, 22 September 2011

When You Look Me in The Eyes

haaaaay sobaat semuaa :D selingan ajah nih maaf yaah hhe. saya mau posting suatu hal sekarang. cerita HPHnya diseling dulu yaaah hehe.

mungkin, kalian pada gak asing sama judul postingnya ya kan? yaiyalah gimana enggak !? ini kan judul lagunya Jonas Brothers ckckck. sebenernya lagu ini saya persembahkan untuk sesorang yang jauh disana ckck. ceilaaaaah hehe. kenapa saya pilih lagu ini? karena menurut gue mah yaah emang ini lagu punya makna yang cukup kuat yang bisa mewakilkan perasaan gue keseseorang disana hehe. sorry disini gue gak mau publish siapa orangnya soalnya gue takut dia gak suka hehehe. gue pengen dia tau dan bisa ngerasain rasa sayangnya gue ke dia hehe. lebai yaah? mungkin iya. tapi ini itu cara mau romantis yang simpel hehe. tanpa memerlukan banyak biaya dan cukup membuat dada sesak saat ngebacanya hehe. sesak karena terharu looh hihi.
gak tau juga yaah kenapa pengen posting kayak gini ckck pengen ajah nunjukin suatu hal yang beda. aneh? yaaa sangat aneh.tapi yaaa emang gue aneh mau gimana dong? mmmmh mungkin sebagian dari kalian para pembaca juga banyak yah yang ngerasain kayak gue? mmmmmh emang kita teh ribet ckck. mmmmh apaa lagi yaaah.. oh iyaaaa .... :)
kalo nyampein pesen boleh gak yaah? boleh kalih deh cckck.

buat orang yang jauh disanaaa :
"udah bisa ngerasain? udah tau? mungkin enggak karna emang sedkit atau malah banyak yang gak jelas. berhubung masih ada kesalahan teknis, jadi masih gak bisa denger apa-apa hehe punten atuh yaaa. pernah denger lagunya? enggak? mungkin bakal jadi lagu favorit kamu setelah kamu tau ckck *SOKTAU* kamu yang sebenernya teh baik, perhatian, ngeri aku juga, sabar termasuk juga sih sabar banget malah, kocak, bikin gue ketawa, bahkan nih yaah lo yang jauh disana HARUS TAU gue kalo diangkot pas pulang sekolah, pasti ngebayanginnya lo mulu ngebayangin tingkah lo, banyolan lo, judesnya elo, kalo lo lagi pundung, plus gombalannya elo. hihihihi banyaak kan? dan itu semua berhasil ngebuat gue senyum-senyum sendiri dan hampir ketawa ngakak kayak orang gila di DALEM ANGKOT TANPA ADA YANG NGAJAK NGOBROL. kurang gila apa coba gue yaa kan? kalo pas angkotnya berenti di depan sekolah lo, gue celingak celinguk kayak orang bego ngarep ada keajaiban gitu hehe kali ajah lo tiba-tiba muncul dengan gaya so cool hahaha *ANJAAAAAS* yaa gitu deh pokoknya hahaha xD. yaah tau kan yah gue teh sayang gitu yah sama lo. cerita yang rumit, sulit, ruwet, panjang, penuh kontrofersi seperti sinetronnya nikita willy bahkan lebih, tapi ujungnya kita nyatu jugaa, dideketin lagi. yakin deeh sayaa mah sama kamu hihi"

LIRIK :  Oh yeah oh yeah
If the heart is always searching
Can you ever find a home?
I've been looking for that someone
I'll never make it on my own
Dreams can't take the place of loving you
There's gotta be a million reasons why it's true

When you look me in the eyes
And tell me that you love me
Everything's alright
When you're right here by my side
When you look me in the eyes
I catch a glimpse of heaven
I find my paradise
When you look me in the eyes

How long will I be waiting
To be with you again?
Gonna tell you that I love you
In the best way that I can
I can't take a day without you here
You're the light that makes my darkness disappear

When you look me in the eyes
And tell me that you love me
Everything's alright
When you're right here by my side
When you look me in the eyes
I catch a glimpse of heaven
I find my paradise
When you look me in the eyes

More and more I start to realize
I can reach my tomorrow
I can hold my head up high
And it's all because you're by my side

When you look me in the eyes
And tell me that you love me
Everything's alright
When you're right here by my side
And when I hold you in my arms
I know that it's forever
I just gotta let you know
I never wanna let you go cause

When you look me in the eyes
And tell me that you love me
Everything's alright (it's alright)
When you're right here by my side (by my side)
When you look me in the eyes
I catch a glimpse of heaven (oh)
I find my paradise
When you look me in the eyes
Oh yeah oh whoa yeah
 

udah gitu ajaah sih yaa hehe. sebelumnya  gue mau bilang makasih dulu buat sobat sobat semua yang udah sempetin baca sampe abis walaupun sambil nahan muntah atau bahkan nahan air mata karna gak tega ngebaca pengalaman gue yang super super aneh, gak jelas, basi, atau sebagainya laaah hehe. nuhuun banget semuanyaaaaa. daaaaaaaaaaaaaaah :* :* dan buat seseorang disanaa, baca yaah kamu biar kamu tau hihihi

Kamis, 15 September 2011

Hitam-Putihnya Haisa ----> PART II


..................................................................................................................................................................

                “Tuh kan To ini tuh gara-gara lu tau !” Haisa sontak menjadi marah karena kebingungan.
“Loh kok karena gue?” jawab Anto keheranan.
“Yaiyalaaah karena lo. Kalo lo gak mengangin tangan gue kan gue jadi gak muntah terus bisa langsung pulang. Dan gak’ bakal ada si dua pengacau itu.” Jelas Haisa panjang lebar.
“Ih elunya aja yang gak mau diajak pulang sama gue. Malah bacot-bacotan dulu.” Anto tak mau kalah.
“-____- Terserah lo deh ah. Gue itu benci sama lo tau gak’ ! benci sebenci-bencinya.” Teriak Haisa dan langsung meninggalkan Anto sendirian yang masih berlumuran muntahan dibaju seragamnya.
Haisa pulang dengan perasaan kesal dihatinya. Kenapa dia mesti sesial ini, kenapa dia harus menerima kenyataan bahwa dia satu sekolah dengan Anto, monster mengerikan yang menjadi mimpi buruk dalam hidupnya. Tak terasa sambil menuju gerbang sekolah, Haisa meneteskan air matanya. Dia tidak mau berlama-lama disekolah, Haisa pun menelepon pak Jono untuk segera menjemputnya.
            Sesampainya di Rumah..................
            Haisa langsung lari kekamar dan mengunci pintu kamarnya itu, khawatir bila nanti tiba-tiba Dicky dengan enaknya masuk kamar dan melihat mata sembabnya itu dan pasti langsung meledek adik satu-satunya itu. Setelah mengganti pakaiannya, Haisa membereskan isi tasnya dan berniat untuk langsung belajar.
            Malam harinya, Haisa sangat malas keluar kamar untuk makan malam padahal dari luar Bunda sudah teriak-teriak menyuruhnya untuk makan. Bukannya keluar kamar, Haisa malah membanting dirinya ke tempat tidur yang empuk. Dia kebingungan dalam hal ini. Besok pasti berita “Haisa dan Anto berdua-duan disekolah pas’ pulang sekolah dan Haisa muntah” ah itu berita yang sangat memuakkan. Bagaimana bila si kembar ini membuat berita yang mengada-ada. Hanya itu yang ada dipikiran Haisa saat ini. Huh malas rasanya untuk kesekolah besok.
“Besok pasti Chaca langsung minta penjelasan tentang berita yang ada di mading. Uhh bete bete bete bete. Anto ngeselin’ !! aaaaaaah ! jadi apa gue besok!!?” guman Haisa dalam hati.
Tak terasa setelah lama bergalau-galau ria, Haisa tertidur pulas ditempat tidurnya yang sangat nyaman.
            Dipagi hari Haisa terbangun dengan rasa lapar yang amat sangat. Jelas saja dia merasa lapar, karena malamnya dia tidak makan sedikit pun. Setelah lama melamun, Haisa langsung bergegas mandi dan siap-siap untuk berangkat sekolah. Saat sedang merapikan bajunya, dia teringat kembali dengan masalah baru yang menimpa hidupnya. Haisa bingung harus melakukan apa. Apakah dia harus berpura-pura sakit agar diziinkan Bunda untuk tidak sekolah? Tapi bukankah itu namanya lari dari masalah? Dan bukannya lari dari masalah itu malah tambah membuat kacau keadaan. Ah sudahlaah Haisa memutuskan untuk tetap berangkat kesekolah apapun yang terjadi ! titik !
            Khusus untuk hari ini Haisa berangkat sekolah bersama dengan Dicky naik motor. Saat dijalan tiba-tiba diotak Haisa muncul ide yang lumayan brilian untuk menyelamatkannya hari ini dari tatapan-tatapan mata sinis yang akan menyambutnya nanti saat datang di Sekolah.
“Eh Dicky, nanti anterin gue sampe kelas yaah.” Ujar Haisa tiba-tiba.
“Emangnya ada apaan Sa? Gak’ biasanya lu minta anter sampe kelas haha.” Jawab Dicky sedikit heran.
“Soalnya gue ada problem lah dikit hehe. Ya ya ya? Anterin yaaa? Lo kan pangeran Harapan Periwi, jadi yaaah bisa lah tebar pesona dikit buat ngalihin tatapan anak-anak nanti.”
“mmmhh oke deh :D sekalian buat nyari cewek hahaha.” Tawa Dicky menggelegar.
            Setelah sampai di Sekolah, benar saja saat Haisa baru turun dari motor semua tatapan menuju padanya. Haisa jadi semakin paranoid, apa yang telah diberitakan si kembar itu. Untung saja ada Dicky, jadi dia bisa mengumpat disamping badan Dicky. Dan benar sajaa ide Haisa ternyata berhasil. Tatapan menjadi ke Dicky semua. Alhamdulillah hehe. Untungnya hari ini Dicky sedang berbaik hati untuk menolongnya.
            Ternyata di Kelas Chaca telah menunggunya dari tadi dengan memasang wajah horror. Saat Haisa masuk kelas Chaca langsung menyambutnya dengan teriakan yang cukup nyaring.
“HAISAAAAAAAAAAA !!!!” Panggil Chaca.
 Haisa sangat kaget mendengar teriakan Chaca yang nyaring, sampai membuatnya hampir meloncat.
“apaan Ca?” Jawab Haisa sekenannya.
“Gue butuh klarifikasi dari lo. Lo kok gak’ bilang-bilang sih kalo lo ada main sama Anto?” Todong Chaca tanpa ampun.
“Cuma gosip Ca. Gak usah dipikirin. Kan lo tau kalo gue benci sama dia.”
“Tapi gak’ mungkin kalo Cuma gosip. Orang ada fotonya lo berduan sama dia dikoridor. Terus si Anto megang tangan lo, terus lonya muntah lagi.”
Setelah menarik nafas panjang, Haisa langsung menjelaskan kejadian kemarin dengan sejujurnya pada Chaca. Mendengar penjelasan Haisa, sepertinya Chaca mengerti dan langsung kelihatan sedang berpikir.
“Lo bakal mampus Sa.” Ucapnya tiba-tiba.
“Mampus kenapa emangnnya? Kan gue udah jelasin ke lo yang sebenernya.” Kata Haisa.
“ Yaaa itu gue percaya kok sama lo. Tapi yang lain?”
“Yaelah Ca, emangnya yang lain peduli? Paling Cuma gosip bentaran doang hehe.” Jawab Haisa santai.
“Si kembar nulis beritanya kalo lo itu.... mmmmmh hamil Sa.” Jelas Chaca pelan.
“APAAAAAAAAAAA !!?” Haisa sangat kaget dan langsung menangis tanpa ditahan.
“Chaca, lo harus percaya kalo gue gak’ kayak gitu Ca huhuhu. Lo kan tau kalo gue emang alergi susu. Terus gue harus gimana Ca? Gue gak’ tau harus gimana huhuhu.” Lanjut Haisa sambil menangis.
“Bentar lagi lo dipanggil sama Kepsek Sa. Katanya hukumannya kalo gak’ dikeluarin dari sekolah, lo di skors. Lo harus jelasin yang sebenernya ke Kepsek.”
“Di D.O ? di skors? Tapi kenapa mesti gue yang dihukum. Harusnya kan si Kembar sialan itu huhuhu.”
“sabaar ajaa yaah Sa. Gue ada disamping lo kok. Nanti gue bantu sebisa gue yaaah.” Hibur Chaca.
            Mendengar hal itu, Haisa nyaris pingsan tapi ia berusaha untuk tetap bisa sadar. Tak lama setelah itu, guru pelajaran pertama pun masuk karena bel memang sudah berbunyi dari tadi. Selama pelajaran berlangsung Haisa mencoba untuk tetap fokus pada pelajaran, ia tidak mau prestasinya menurun hanya karena masalah tak berbobot seperti ini. Tapi sialnya, guru itu seperti tidak menganggap kehadiran Haisa. Terlihat pada saat mengabsen, nama Haisa tidak disebutkan, lalu saat Haisa mengacungkan tangannya untuk bertanya, tidak dihiraukan sama sekali. Ah sialnya Haisa saat ini. Akhirnya setelah lama mengoceh, jam pelajaran pertama telah usai. Tiba-tiba pak guru itu berbicara pada Haisa dengan pelan. Katanya Haisa harus menghadap Kepsek diruangannya sekarang.
            Ruangan Kepsek sudah ada di depan mata. Haisa hanya tinggal mengetuk pintu dan masuk saja, tetapi Haisa memilih untuk diam sejenak dan menarik nafas panjang. Setelah menyiapkan mental cukup lama, Haisa mengetuk pintu dengan tidak bergairah.
“tok tok tok....”
“yaaa masuk.” Kepela Sekolah menyaut.
“Ini saya pak, Haisa Paramytha.” Ucap Haisa sopan.
“Oh kamu, masuk nak. Silahkan duduk disini.” Jawabnya lembut.
Entah kenapa Haisa merasa bahwa Bapak Kepala Sekolah memang lembut. Tidak seperti yang anak-anak bilang bahwa katanya Kepala Sekolah itu galak lah,  killer lah, banyak lah. Tapi sekarang Haisa melihatnya lain. Kepala Sekolah terlihat sangat baik dan lembut, tatapannya juga hangat. Perasaan takut Haisa itu hilang sementara.
“Jadi, apa yang saya dengar itu benar atau salah Nak?” Ujarnya membuka pembicaraan.
“Tentu saja salah pak. Saya tidak mungkin se-murahan itu.” Jawab Haisa menahan tangis.
“Coba jelaskan bagaimana cerita yang sebenernya. Tahan dulu air matamu.”
Haisa langsung menjelaskan semuanya secara lengkap dan tidak ada yang ketinggalan. Ia pun menceritkan bahwa Anto itu sudah lama jadi penggemarnya tapi Haisa sendiri jijik dengan apa yang selalu dilakukan Anto. Tak lupa juga dia ceritakan bahwa memang si Kembar itu senang mencari gosip-gosip yang kebenerannya tidak ada sama sekali. Mendengar penjelasan Haisa, Kepala Sekolah sepertinya berusaha mencerna perkataannya tadi. Dia terlihat sedang berpikir. Dan setelah lama hening, dia munyuruh Haisa untuk segera ke meja piket dan mengambil surat kerangan bahwa dia diskors.
“Apaaa pak? Kenapa saya harus diskors?  Saya gak’ salah pak.” Komentar Haisa.
“saya mengungkapkan kebenaran disini, dan untuk itu saya menyuruh kamu skors untuk bisa membantumu agar kamu bisa istirahat dirumah.” Jelas pak Kepsek.
“Tapi kenapa mesti skors? 7 hari lagi. Saya gak mau nilai pelajaran saya turun pak.”
“ikuti saja apa kata saya. sekarang kamu keluar dan langsung ambil suratnya dan langsung pulang.” Katanya kemudian.
            Perasaan Haisa seperti tercabik-cabik saat ini. Ia tidak tahu akan menyalahkan siapa. Yang pasti dia tahu, bahwa dia benci Anto. sangat Membenci Anto. setelah mengambil surat keterangan, dia langsung mengambil tasnya dikelas dan langsung pergi begitu saja. Meninggalkan Chaca yang keheranan, sendirian dibangkunya selama satu minggu. Haisa membuat pertanyaan di otak teman-temannya semua tapi Haisa tidak lagi memperdulikan hal itu. Dia hanya memikirkan dirinya saja untuk saat ini. Apa yang akan dia katakan pada Bunda dan Ayah nanti.
            Haisa memutuskan untuk menghubungi Dicky, tetapi yang diharapkan sia-sia. Dicky tidak membalas sms dan tidak mengangkat telepon, mungkin sedang belajar. Dengan berat hati Haisa mengangkat kakinya untuk segera keluar dari kawasan Harapan Pertiwi. Saat keluar gerbang, dia sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan satpam yang keheranan. Haisa tidak peduli akan hal itu. Tapi satu pertanyaan muncul dibenaknya. Apakah Anto juga di skors? Kenapa dia tidak melihatnya? Ah sudahlah Haisa tidak peduli.
            Selama menunggu di halte bis, Haisa selalu memegang Handphonenya itu. Dia menunggu balasan sms dari Dicky. Tapi yang ditunggu malah tidak membalas apapun. Haisa melamun sambil memegang hp di tangannya.
            Dari jauh seseorang memerhatikan Haisa dengan seksama. Pelan-pelan semakin lama semakin dekat dan dekat. Seorang laki-laki berpakaian acak-acakan, rambut berwarna kuning menyilaukan, memakai celana di bawah pinggul hingga terlihat boxernya. Lekaki itu mulai memperhatikan sekelilingnya. Mulai mengumpat mendekati Haisa. Tiba-tiba
“AH COPEEEEEEEEEET COPET TOLONG-TOLONG !! TOLONG HANDPHONE SAYA DICOPET !” Haisa berteriak berharap ada seseorang yang menolongnya.
Haisa pun mengejar copet itu. Mengejar lumayan jauh. Haisa terus berlari karena sialnya tidak ada yang menolongnya. Tetapi setelah lama bermain kejar-kejaran dengan si copet akhirnya ada juga laki-laki pembawa koran yang melihat Haisa berlari dan langsung ikut mengejar copet itu. Sampai akhirnya setelah lama berlari, si laki-laki itu berhasil mencegat dan memalak kembali hp Haisa. Saat melihat laki-laki itu, si copet kaget dan terlihat ketakutan. Copet itu pun tanpa ragu-ragu langsung memberi hp Haisa. Haisa yang melihat kejadian itu jelas langsung terkesima dengan perbuatan laki-laki itu.
“Nih hp lo.” Laki-laki itu mengangetkan Haisa.
“Hah eh iyaa makasih yaah.” Jawab Haisa gagap
“Ya sama-sama. Lain kali hati-hati yaaaah.”
“iya pasti hehehe.”
“okeh. Gue cabut duluan yah.” Katanya sambil meninggalkan Haisa sendiri di jalan raya.
Kepergian si laki-laki itu membuat Haisa merasakan sesuatu. Sesuatu yang tak pernah Haisa rasakan sebelumnya. Haisa pun memutuskan untuk segera pulang kerumah dan menceritakan yang telah dialaminya hari ini pada bunda. Haisa yakin, Bunda akan mengerti dirinya.
            Siang telah berganti malam. Malam ini mungkin malam yang buruk bagi Haisa karena lagi-lagi dia bingung harus berbuat apa. Besok ia tidak kesekolah, ia akan dirumah seharian bersama bunda, bi Nana, dan Hucy burung kesayangannya. Tapi dia bersyukur karena Bunda dan ayah dapat mengerti dan tak henti-henti memberi semangat pada Haisa. Oh beruntung menjadi Haisa. Beruntung? Tidak untuk masalah ini. Haisa memikiran apa yang sebenernya tidak perlu untuk dipikirkan. Ditengah-tengah kegalauan itu, tiba-tiba terselip ingatan tentang laki-laki yang menolongnya tadi siang. Laki-laki macho, baik hati dan lumayan ganteng itu membuat Haisa terus tersenyum memikirkannya. Haisa berharap dirinya dapat bertemu kembali dengan laki-laki itu. Kira-kira umurnya 16 tahun, tak jauh berbeda dengan umur Haisa. Siapakah namanya? Kenapa dia sebaik itu? Dan dapatkah dirinya bertemu lagi? Hanya pertanyaan itu yang ada dibenak Haisa.
“apa ini yang namanya suka sama orang? Bahagia pas’ mikirin dianya? Tapi.... masa gue suka sama T-U-K-A-N-G  K-O-R-A-N jalanan?” guman Haisa galau.

TO BE CONTINUE............