Rabu, 14 Oktober 2015

Mengapa Aku?

Cerita pendek ini saya dedikasikan untuk para korban kabut asap disetiap wilayah yang terkena musibah tersebut. Semoga Tuhan selalu bersama kalian dalam doa yang akan selalu menguatkan.
Aamiin.

***

Mengapa Aku?

            Hari ini adalah hari yang paling kutunggu-tunggu sejak kemarin. Hari yang dianggap spesial bagi sebagian besar anak seusiaku. Maka dari subuh aku sudah menyiapkan diriku untuk menyambutnya. Aku mandi dengan sabun terwangi yang baru dibeli ibu. Solat subuh dan berdoa banyak-banyak meminta yang terbaik untuk nasibku hari ini.
“Ya Allah Ya Rabb, tunjukanlah keajaibanmu kali ini untukku. Karena aku ingin, sangat ingin menjadi yang terbaik untuk membuat ibu bapak bangga. Bapak janji mau membelikan aku sepeda jika aku menjadi juara pertama. Kabulkanlah doaku. Aamiin.” Begitu doaku pada Tuhan subuh tadi. Kuharap Tuhan mendengar dan dengan malaikat yang mengamininya.
            Aku bercermin sekali lagi untuk memastikan bahwa tidak ada yang salah pada tampilanku saat ini. Aku tidak mau mempermalukan diriku apalagi dihadapan teman-teman. Sebenarnya aku ini cukup berwibawa dan berkharisma dengan kacamata yang menyangkut dihidungku yang mancung. Namun banyak orang yang menganggapku aneh hanya karena aku selalu dengan buku. Tapi kali ini akan kubuktikan pada teman-teman bahwa aku bukan orang aneh dan membuat mereka menganggap jika aku ada. Aku berterimakasih kepada ibu guru telah memberikan aku kesempatan untuk mengikuti lomba puisi ini. Aku menganggap ini sebagai awal untuk semua pengakuan yang aku inginkan.
“Angga! Jangan lama-lama kamu dikamar. Ayo cepat sarapan dulu.” Panggil ibu dari dapur. Tandanya aku sudah harus mengakhiri kegiatan membanggakan diri ini.
            Aku langsung duduk dimeja makan dan menyiduk beberapa centong nasi dan lauk pauk yang telah tersedia diatas meja. Disebelahku sudah ada bapak yang daritadi menyimak berita tv pagi hari ini sambil sesekali menyeruput kopinya. Beritanya masih sama sejak kemarin. Tentang kabut asap yang semakin hari semakin parah saja. Terutama didaerahku di Pekanbaru. Bayangkan saja hari ini jarak pandang hanya sekitar 300 meter akibat tertutup kabut asap yang semakin menebal.
“Kamu duluan aja ya, nak. Gak usah bareng bapak soalnya lampu depan motornya belom bapak betulkan.” Kata bapak tiba-tiba sambil mengerutkan dahinya.
“Terus aku sama siapa?” Aku menjawabnya setelah menelan nasi yang ada dimulutku.
“Naik angkutan umum kan bisa seperti biasa. Takutnya nanti malah bahaya kalau dipaksakan. Nanti bapak menyusul setelah motornya sudah betul.” Perkataan bapak meyakinkan aku bahwa bapak memang akan datang untuk melihatku tampil. Akhirnya aku hanya memberi jawaban dengan anggukan.
***
            Dan disinilah aku. Diatas panggung dihadapan banyak orang yang sebagaian besar tidak kukenal. Namun bisa kupastikan ada ibu guru disamping sebalah sana untuk memberikanku semangat serta beberapa teman yang aku sendiri tidak tahu tujuan mereka ada disini. Dari kejauhan kulihat bu guru tersenyum dan melambaikan tangan memberikan aku sedikit kepercayaan diri. Sekali  lagi aku mencari sosok yang aku tunggu keberadaannya namun belum juga kutemukan hingga aku sadar aku terdiam cukup lama. Aku tersenyum dan membungkuk tanda memberi salam. Aku menarik nafas panjang untuk menghilangkan gugup ini.
Bolehkah aku iri?
Bolehkah aku mendapatkan apa yang mereka dapatkan?
Sederhana.
Katanya kita manusia yang sama. Ada dialam yang sama.
Aku hanya ingin udara untuk semua yang bernafas.
Apakah salahku? Hingga alam begitu marah.
Maka untuk kali ini biarkan aku serakah.
Karena semua yang terjadi sudah terlanjur parah.
Akankah kita jadi manusia yang lain?
Ketika udara dilangit yang sama telah berbeda.
***
            “Yakin mau tetap pergi pak? Ibu takut nanti malah bapak yang kenapa-napa.” Tanya seorang wanita kepada suaminya dengan menunjukkan raut wajah khawatir.
“Kasian Angga, bu. Dia kan sudah berharap banget. Masa iya bapak tega bikin dia kecewa lagian ini juga sudah lumayan kok asapnya. Nanti pulangnya sekalian beli sepedanya biar Angga bisa milih.” Jawab suaminya yang sudah memakai helm siap untuk berangkat menyusul anak kesayangannya.
“Jangan lupa maskernya, pak.” Akhirnya hanya itu yang bisa dikatakan wanita tadi. Kekhawatiran menyeruak batinnya karena tahu bahwa kondisi motor milik suaminya tidak mendukung untuk melewati keadaan jalanan yang penuh asap pagi ini.
***
            Terimakasih Tuhan, Engkau telah mengabulkan doaku. Aku berhasil menjadi juara pertama dalam lomba puisi ini. Aku mendapatkan pujian dari dewan juri, guru, serta teman-teman yang tadinya hanya bisa meledekku. Ditanganku sudah ada piala besar yang boleh kubawa pulang dan kuperlihatkan kepada ibu dan bapak. Rasa bangga terhadap diri ini semakin membuatku percaya diri untuk mengembangkan bakatku yang lain.
            Aku cari-cari sosok bapak yang katanya ingin menyusul namun aku tetap tidak bisa menemuinya. Sebenarnya aku kecewa namun aku juga tidak bisa memaksa bapak karena aku tahu alasannya cukup masuk akal. Maka aku putuskan untuk pulang. Aku tidak sabar untuk melihat ekspresi kedua orang tuaku ketika melihat aku pulang dengan membawa piala yang besar ini. Aku tersenyum. Akhirnya aku bisa membuat orang tuaku bangga.
            Sesampainya dirumah aku hanya menemukan ibu yang sedang masak untuk makan malam didapur. Aku tidak bertanya kemana bapak karena mungkin aku sendiri sudah tahu jawabannya. Bapak sedang membeli sebuah sepeda untukku. Bapak tega sekali membelinya tanpa aku namun tidak apa apa aku terima saja apapun darinya toh bagiku juga sepeda hanya bonus. Akhirnya kuputuskan untuk tidur dikamarku hingga nanti saat aku bangun sudah ada bapak dan sepeda baruku.
***
            Sayup-sayup aku dengar suara seorang perempuan menangis. Setelah beberapa saat aku membuka mataku dan memastikan bahwa suara itu adalah ibu. Aku langsung bangun dan keluar kamar. Betapa kagetnya aku melihat ibu menangis begitu kalap hingga meronta-ronta. Aku terpaku melihat keadaan ibu yang seperti itu hingga akhirnya ibu merayap menghampiriku. Memelukku dengan tangis yang meledak-ledak. Aku sungguh tidak mengerti apa artinya ini. Ibu tidak berkata apa-apa hanya menangis dan menangis. Sesekali berteriak membuat aku semakin heran. Namun kepeluk ibu tanpa menanyakan ada apa.
            Aku mencoba menenangkan ibu. Aku membelainya tapi entah mengapa tangisnya semakin tak terkendali. Hingga dari kejauhan aku mendengar suara sirine ambulans. Aku melepaskan pelukan ibuku dan keluar rumah mencoba melihat apa yang datang. Ternyata bukan mobil ambulans melainkan mobil jenazah yang  berhenti tepat didepan rumah kami. Kulihat ibu sekali lagi untuk memastikan apa yang terjadi, namun yang kulihat hanya gelap. Sangat gelap.
***
Mengapa kami?
Mengapa keadaan ini dihadapkan pada kami.
Mengapa bapakku? Dari sekian banyak orang, mengapa bapakku yang menjadi simbol ketersiksaan kami. 
mengapa asap yang mengaburkan jarak pandangnya. hingga mati ia ditelan kabutnya.
mengaburkan yang akan jadi menguburkan. sangat perih. 
Mengapa harus kami yang merasakan sesak nafas. Bukan karena asap.
Karena derita yang kami rasakan setelahnya.
Haruskah aku meminta maaf? Pad siapa aku harus?
Pada alam yang terlanjur murka.
Atau pada diri kami sendiri yang tak mampu menjaga bagian dari kami.

Tuhan, derita ini sakit. Sungguh-sungguh sakit.

Senin, 12 Oktober 2015

Malam jatuh

menjadi malam yang pasti
tempat yang disisakan waktu baik hati. 
yang ditunggu-tunggu angin sebagai tamunya. 
dengan aku yang siap diterpa belaiannya.
malam yang terang benderang
menghadirkan tawa sana-sini
menyembunyikan tangis dalam sela dinginnya
bukan malam yang sendu
sungguh bukan itu.
bagi orang-orang yang menunggu,
namun tak kunjung teraba.
malam dimana seseorang menyerah atas ambisi.
menoleh dan pasrah atas doa.
menjadi malam yang selalu dirindukan.
suasana ternyaman untuk diri ini.
malam saat tidak menipu siapa-siapa.
dimana matahari sengaja mengalah.
untuk orang-orang yang takut jatuh.
aku butuh kesempatan untuk mengambil malam
karena aku ingin jatuh dalam malam
membawa cinta yang mereka genggam
memberinya pada waktu dan cahaya
agar disimpan dan ditunjukan esok lagi.
hingga malam menjadi untuk kita semua yang memiliki cara.
jatuh dan jatuh lagi.