Jumat, 23 Desember 2011

Hitam-Putihnya Haisa part VI


Hari ini, hari minggu sore terindah yang pernah dialami Haisa. Karena sore ini telah hadir disampingnya orang yang selalu membuat hati Haisa tak karuan. Ari, sekarang telah berada disampingnya mengantarnya pulang sampai kerumah. Sepanjang jalan pulang hanya hadir keheningan yang luar biasa hening. Dan hanya timbul beberapa senyuman manis di paras Haisa. Semilir angin membuat rambut Haisa beterbangan menambah nilai cantik pada dirinya dan membuat Ari bersyukur dapat memiliki wajah cantik itu.
Rumah Haisa sudah ada didepan mata, tapi berat langkah Haisa untuk memasuki rumah itu. Ia ingin Ari ikut bersamanya tapi tentu saja Ayah akan melarangnya dengan keras. Yaa, Haisa tau itu. Ayah memang mempunyai sikap disiplin yang tinggi. Akhirnya, setelah cukup lama berdiri diluar, Ari pun pamit untuk pulang juga.
“Sa, udah yah. Aku pulang dulu.” Ucapnya.
“Gak masuk dulu Ri?” Tanya Haisa sedikit berharap.
“Mmmmh gak usah deh. Udah terlalu sore.” Jawab Ari.
“Oh ok. Hati-hati yah.” Ujar Haisa sambil melambaikan tangan.
* * *
        Hari ini, hari Senin. Hukuman skors Haisa sudah selesai. Itu tandanya Haisa sudah bisa masuk sekolah kesayangannya seperti biasa. Sebenarnya hari Rabu yang akan datang adalah hari dimana pengumuman hasil UN akan diumumkan. Sangat bisa tertebak bagaimana perasaan Haisa saat ini. Dia sudah vacum selama 1 minggu dan saatnya ia masuk, lusanya akan menerima hasil dari kerja kerasnya.
        Karena hari ini Haisa sekolah, dia melakukan ritual kebiasannya yg sudah seminggu ini tidak ia kerjakan. Tapi tunggu sebentar.. hari sekolah, memasuki gerbang sekolah, dan akan bertemu dengan Anto. Apaa? ANTO? oh tidaaak makhluk luar angkasa yang selalu menganggu mimpi indah Haisa pasti akan menemuinya hari ini. Menyadari hal itu rasanya Haisa ingin mengulur waktu, memperpanjang masa skrorsnya demi tidak bertemu dengan alien itu. Semuanya akan suram bila dibayangkan dari sekarang.
        Akhirnya Haisa bertekad untuk menghiraukan segala macam ulah yang akan Anto lakukan untuk dirinya. Yang terpenting sekarang Haisa harus masuk sekolah untuk mengurusi data-datanya yang akan dikumpulkan untuk SMA barunya. Haisa kan sudah diterima di SMA favoritnya jadi yaa dia cukup bisa bernafas lega lebih dulu dibandingkan teman-temannya yang lain.
* * *
                        Bunda, Ayah, dan Dicky sudah menunggu dimeja makan untuk sarapan bersama. Haisa turun dengan wajah tampak setengah-setengah. Yaa setengah senang setengah khawatir. Bunda menawarkan roti untuk Haisa.
“Mau selai apa say?” Tanya Bunda.
“Yang enak apa bun?” Haisa malah balik bertanya.
“Mentega sama gula aja Bun.” Sambar Dicky tiba-tiba.  Haisa hanya melotot mendengar ucapan kakaknya tadi. Ucapan yang terdengar sangat tega bila keluar dari mulut Kakak kepada Adiknya.
“Coba selai Kacang deh bun.” Ujar Haisa akhirnya.
Bunda pun mengoleskan selai kacang pada roti dan langsung diberikan kepada gadis kecilnya itu. Haisa langsung melahap dengan cepat roti yang sekarang penuh miliknya.
“Bun, aku berangkat sama pak Jono aja yaah.” Ujar Haisa tiba-tiba.
“Gak bisa ! pak Jono nganter Ayah ke Kantor sayang. Soalnya mobil Ayah dibengkel.” Jawab Ayah yang juga tiba-tiba.
“Hah? Dibengkel? Kok bisa sih Yah? Emangnya kenapa ?” Tanya Haisa makin penasaran.
“Penyok-penyok gara-gara dibawa kakakmu tadi malam. Jadinya kamu sama Dicky. ” Jawab Ayah sambil menatap sinis ke Arah Dicky.
Hah? Whaaaat !!? sejak kapan Dicky bawa mobil? Sejak kapan ?? dan buat apa Dicky bawa mobil malem-malem? Setaunya Dicky memang bisa mengendarai mobil, tapi tidak pernah ia mengendarainya kecuali ada keadaan terdesak. Dan malam-malam? Mobilnya penyok pula. Segudang pertanyaan menghantui pikiran Haisa.
* * *
        Sesampainya disekolah.....

        Saat Haisa turun dari motor Dicky dan meninggalkan parkiran, seolah semua pandangan tertuju padanya. Bukan tatapan biasa melainkan tatapan sinis atau heran atau bingung dan ada juga tatapan iri. Yaa betul. Iri karena Haisa memiliki kakak super ganteng super baik super keren super macho dan super-super lainnya.
        Tadinya Haisa berniat untuk meminta Dicky menemaninya sampai depan pintu kelas, tetapi Dicky menolak karena ada urusan yang harus diselesaikan katanya. Sekali lagi hal aneh datang pada Dicky. Tak biasanya dia menolak jika diajak untuk kekelas Haisa. Sekali lagi membuat TANDA TANYA BESAR dalam benak Haisa. Tapi Haisa lebih memilih tidak mencampuri urusan kakaknya itu.
        Sambil berjalan menuju kelasnya, ternyata yang dikhawatirkan benar-benar terjadi. Anto telah menunggunya daritadi. Siapa yang sangka ulahnya kini makin menjadi-jadi. Ia membawa Randy cs untuk menyanyikan lagu yang terspesial untuk Haisa. Yaa Randy cs memang memiliki band dan bandnya itu cukup dikenal didaerah jabodetabek. Randy cs menyanyikan lagu yang sangat asing bagi Haisa. Sepertinya itu lagu jaman 60-an. Ah kali ini akan makin suram. Dan akan menjadi lebih suram ketika Haisa melihat Anto sedang mengambil ancang-ancang untuk membacakan puisi picisan untuknya. Sebelum terlanjur malu, Haisa lebih memilih berlari melewati Anto dan Randy cs band untuk segera kekelasnya. Anti sempat mengejar tetapi sayang dia harus di cegat oleh Bu Rina, guru bagian kesiswaan yang dikenal paling killer se seantero sekolah. Huuh kali ini dewi fortuna menyanyangi Haisa.
        Haisa cepat-cepat ingin sampai dikelasnya dengan cara mempercepat langkah kakinya. Haisa ingin cepat-cepat bertemu dengan semua temna-teman kelasnya yang sudah ia rindukan. Dan akhirnya kelas itupun sudah didepan mata. Haisa langsung memasukinya dengan pasti. Ia memasuki kelas itu dengan menampilkan senyuman yang sangat cantik dan spesial untuk semua teman-temannya yang ia rindukan.
        Saat detik-detik ia akan memasuki kelas, dan akhirnya dengan sukses ia memasuki ruangan yang bersejarah itu.
JREEEEEENG !!!
Perkiraan Haisa salah total ! bukannya sambutan hangat yang ia dapat, malah sebaliknya. Ia mendapatkan tatapan sinis dari seluruh teman sekelasnya. Haisa bingung sangat bingung. Senyum manis itu luntur pelan-pelan. Ia memilih untuk langsung duduk dibangkunya. Disebelah Chaca.
Heyy !! ada apa ini ? kenapa semua ngeliatin gue kayak gini? Horror banget deeh. Ada berita memuakan apa lagi ini. YaAllah !! hentikan semua ini sekarang juga. Haisa berguman dalam hatinya.
Haisa berniat menanyakan hal ini pada Chaca.
“Chaca. Ini kenapa sih? Kok pas gue masuk semuanya langsung pada horror gitu sih?” Bisik Haisa pelan.
Bukan jawaban yang Haisa dapat, malah Chaca menarik tangan Haisa dengan paksa. Chaca membawa Haisa ke pajangan Mading yang ada dikoridor sekolah.
Betapa kagetnya Haisa melihat tulisan bertinta merah didesign menyerupai darah. Tulisan berisikan ancaman untuk.... untuk Dicky. Apaaa !!? UNTUK DICKY ?? untuk yang sekian kalinya Haisa dibuat bingung oleh semua tingkah Dicky. Dan sekarang ancaman menyeramkan yang ditujukan buat Dicky. Tapi, kenapa ancaman itu mesti dipajang di Mading gedung SMP? Sedangkan Dicky sudah SMA dan letak gedungnya diseberang gedung SMP. Apa ini ada hubungannya dengan Haisa sebagai adik Dicky?

“NYAWA LO ADA DITANGAN GUE, DICKY !!”

Melihat tulisan horror itu, Haisa langsung memegang erat tangan Chaca. Jadi ini alasannya mengapa daritadi semua tatapan terteju pada mereka berdua saat memasuki parkiran. Semuanya seolah terjawab, tetapi jawaban itu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru. Sejak kapan Dicky mempunyai masalah? Dicky anak baik yang tidak pernah neko-neko dan Haisa meyakini hal itu.
* * *
Kini Haisa telah ada ditempat tidurnya. Memikirkan tentang Dicky. Ada apa sebenernya dengan kakak kesayangannya itu? Sejak kapan ia terlibat masalah? Semuanya terasa aneh untuk diterima. Segalanya membuat Haisa haus dan segera turun kebawah untuk mengambil air dingin.
Haisa merenung dan kembali merenung. Ia berpikir dan berpikir. Tiba-tiba terbersit dalam ingatanya. Ari, ya Ari. Haisa ingin Ari berada disini, membantunya untuk menenangkan pikirannya. Mengusir penatnya. Tapi dimana Ari sekarang? Sejak tadi pagi Haisa tidak menemukan Ari. Huuuuuh Haisa hanya bisa menarik nafas panjang untuk menenangkan hatinya sendiri.
Sambil menikmati jus buahnya, Haisa menatap kehalaman dengan pikiran penuh tanda tanya. Semuanya terasa begitu mengejutkan bagi Haisa. Setelah lam berdiam diri, Haisa baru menyadari sesuatu. Ia ingat tulisan ancaman yang tadi pagi menghiasi mading sekolahnya.
                “ Astagaa Dicky !!!” teriak Haisa sambil bergegas meninggalkan rumahnya tanpa pamit.

                *TO BE CONTINUE.........

Sabtu, 17 Desember 2011

sebenarnya....

sebenarnya gue sendiri bingung mau ngetik apa disini..

sebenarnya gue galau mau ngapain karena gak ada inspirasi banget. 

dan sebenarnya juga gue mau jujur kalo gue.......


kalo gue.....

gue galau......  

yaps bener banget, gue galau mau lanjutin cerbung gue apa enggak. karna akhir-akhir ini gue ngerasa gak dapet inspirasi lagi. tapi mungkin, ada inspirasi tapi susah buat nguraiinnya supaya jadi kata-kata dan cerita yang bagus. jadi mohon maaf banget buat reader setia cerbung gue. gue blm bisa lanjutin ceritanya. semangat gue udah mulai berkurang buat trs berkarya. gak tau apa yang ngebuat gue gak semangat. mungkin aja gue bosen sama cerita cinta kan?? tapi gue juga gak mau cerbung pertama gue ini terputus ditengah jalan. pelan2 gue mau blajar jadi penulis yang handal. dan dari cerbung ini lah gue baru mulai berani nampilin karya gue buat di publish. gue berharap dari blog ini, blog yang sebenernya cacat ini, yang gak menarik sama sekali ini. dari sini, awal langkah gue jadi penulis yang baik. dari gue SMP pengen banget gue jadi penulis tapi selalu aja ada halangan. dan gue bertekad, sekarang gue udah gede dan harus bisa konsisten sama keputusan gue. keputusan gue adalah trs bikin karya2 baru dan fresh buat bisa ngilangin kejenuhan atau kebosenan temen-temen semua. 

tapi SEKARANG !!

tekad gue dari awal, seolah luntur gitu aja. ilang gitu aja. blog gue terlantar gitu aja. sedih banget sih sebenernya, cumaa ya gimana gue bener2 gak tau apa yang gue hrs lakuin sekarang.
gak ada yang kasih gue semangat lagi sekarang, gak ada. gue gak tau hrs gimana. 

khusus posting ini, gue sedih. isinya curhatan gue semua. susahnya gue buat nyari inspirasi. susahnya gue buat mertahanin tekad. susahnya gue buat jadiin mimpi gue itu jadi kenyataan. sulit bangeet.

gue berharap bisa jadi kayak @radityadika. dia blogger handal men. dia sukses gara2 inspirasinya yang gak habis2. dimulai dari blognya dia berkarya. gue juga pengen kayak gitu. sukses dibidang apa yang jadi hobi gue. gue pengen kayak gitu !!!

doain aja yaa temen-temen ku tercinta supaya gue dapet semangat lagi. gue dapet inspirasi lagi. gue bisa lanjutin karya gue yang sempet pending. doain supaya gue bisa jadi penulis handal yaaah.

makasih juga buat kalian yang udah sempetin baca ini sampe tuntas ! makasih banget. tanpa kalian yang udah suka baca ini, gue bukan apa2 dan bukan siapa-siapa. makasih banget semuanya :**

Sabtu, 12 November 2011

Hitam-Putihnya Haisa part V


Haisa terdiam membisu didepan Ari. Karena kaget yang ia rasakan begitu dahsyat seperti menampar pipinya sendiri. Belum usai kekagetan yang ia rasakan, Ari sudah menyadarkannya.
“Haisa, ini korannya.” Ujar Ari mengusir keheningan yang ada.
“Eh iya hehe.” Jawab Haisa sekenannya.
“Kamu kaget kenapa? Kamu kan udah tau kalo’ aku tukang koran.” Tana Ari tiba-tiba.
“Aku bukan kaget karna kamu tukang koran. Aku kaget karna kenapa ada kamu dirumah aku hehe. “ Jawab Haisa sambil menggaruk-garuk kepala.
“kamu percaya takdir Sa?”
Mendengar pertanyaan itu, Haisa langsung terpaku dan menatap lebih dalam sorot mata Ari. Haisa berguman dalam hati, yaa mungkin ini takdir. Suatu takdir yang pahit awalnya tetapi manis akhirnya.
“Eh kenapa jadi bengong-bengong gini sih? Ckck. Yaudah yah aku mau lanjut dulu nih.” Kata Ari memecahkan lamunan Haisa.
“Hah? Eh iya. Semangat yaa Ri J” Ucap Haisa senang campur malu.
Saat mendengar kata “semangat” yang diucapkan Haisa, tidak tahu kenapa Ari merasa sangat senang. Baru kali ini ada orang yang memberinya semangat. Ari hanya bisa tersenyum malu-malu sambil meninggalkan rumah yg indah nan megah itu.
            Haisa kembali masuk kedalam Rumah dengan perasaan berbunga-bunga dihatinya. Bi Nani yang melihat Haisa senyum-senyum sendiri sampai terlihat bingung. Apakah benar ini yang dinamakan jatuh cinta? Ini yang namanya takdir? Jika benar ini takdir, sungguh ini takdir yang sangat indah bagi Haisa. Merasakan dan membiarkan cinta masuk kedalam hatinya. Mengobati rasa galau dalam dirinya. Ari, orang yang pertama kali membuat Haisa menjadi seperti ini.
            Saat kembali keruang keluarga, Ayah sudah menunggu korannya sedari tadi. Haisa pun memberikan koran yang dari tadi digenggamnnya. Ayah sedikit heran, karena Haisa wajah Haisa terlihat bersemu merah seperti baru mendapatkan sesuatu. Yaa Ayah benar, Haisa memang baru mendapatkan perasaan jatuh cinta yang kini bersarang dihatinya. Ayah membiarkan putrinya yang cantik ini menjaga muka merahnya.
            Haisa sendiri yang tidak menyadari bahwa wajahnya diperhatikan oleh Ayah, merasa aman-aman saja bila duduk ditengah-tengah mereka sambil menunggu Dicky bangun. Tiba-tiba saja Haisa ingin menanyakan pergi kemana sebenernya kakaknya itu tadi malam. Tapi, yasudahlah itu hanya hal biasa terjadi dalam kehidupan pelajar. Pulang malam karena mengerjakan tugas. Haisa merasa ada yang kurang bila makan malam tanpa Dicky.
*  *  * *
Setelah selesai mandi, Haisa langsung merapikan kamarnya karena sebentar lagi Chaca akan datang kerumahnya. Senang rasanya bertemu sahabat yang dicintainya itu. Banyak hal yang ingin Haisa ceritakan pada kawannya yang satu itu. Sebenarnya Haisa berharap kakaknya Dicky tidak pergi kemana-mana hari ini karena akan ada Chaca yang sangat berharap bisa bertemu dengannya. Haisa tau, sudah lama Chaca menyimpan perasaan pada kakaknya itu. Sebagai adik dan teman yang baik, Haisa sangat setuju bila Chaha jadi dengan Dicky. Menurutnya mereka sangat cocok.
Kamar Haisa kini sudah rapi dan wangi, tetapi Chaca belum datang juga. Haisa sudah mencoba beberapa kali untuk menghubungi sahabatnya itu, tetapi tidak ada jawaban apapun. Haisa mendadak menjadi kecewa. Ia takut bila Chaca tidak jadi datang kerumahnya. Akhirnya ia hanya bisa menghela nafas yang cukup panjang dan langsung keluar kamarnya. Ia berniat menunggu Chaca diteras rumahnya saja.
Sambil berjalan menuju teras, Haisa melewati kamar Dicky. Niatnya kini berubah. Kini ia sudah ada didalam kamar Dicky. Tidak ada orang dikamar itu. Mungkin Dicky sedang mandi. Benar saja, tak lama Haisa menunggu Dicky muncul dari luar. Ternyata ia baru saja selesai mandi. Melihat Haisa duduk ditempat tidurnya, Dicky tidak kaget sama sekali. Ia sudah bisa menebak bilamana adiknya itu akan menodongnya dengan segudang pertanyaan kenapa dia tidak ada saat makan malam.
“Napa lu de? Kangen sama gue?” Tanyanya cuek.
“Pede amat-an lo jadi orang :p gue cuma mau nanya, semalem lo kemana?” Ujar Haisa balik bertanya.
“Bukan urusan lo ah. Ngapain gue mesti ngasih tau lo.” Saut Dicky sambil bermalasan.
“Kok lo gitu? Gue kan Cuma nanya. Yaudah deh ah males gue jadinya.” Haisa sedikit emosi.
“Ngambeeek. Gitu dong ngambek. Ah dasar lo.” Ejek Dicky.
“Ih naon sih ah !” Haisa sedikit berteriak sambil meninggalkan kamar kakaknya dan menutup pintunya dengan cara dibanting.
            Saat sudah keluar dari kamar Dicky, Haisa baru teringat kembali pada Chaaca yang rencananya akan kerumahnya hari ini. Dengan spontan, Haisa langsung membalikan badannya karena berniat untuk memberi tahu hal itu pada Dicky. Dengan polos Haisa membuka pintu kamar Dicky kembali.
“Eh Dick, nanti Chaca mau kesini.” Ujar Haisa.
“Lah? Apa hubungannya sama gue? Yaudah atuh dateng aja.” Jawab Dicky sekenanya.
“Ih nyebelin banget sih lo!” Balas Haisa sambil sekali lagi mendobrak pintu kamar kakaknya.
Melihat tingkah adik satu-satunya itu, ada perasaan yang mengganjal dihatinya. Ia merasa bersalah karena mungkin ia sudah membohongi adiknya itu. Tapi karena Dicky termasuk orang yang cuek, ia membiarkan rasa bersalahnya itu terus berkembang dihatinya.
*  * * *
            Sudah dari tadi Haisa membaca majalah diteras sambil menunggu kedatanngan Chaca. Karena merasa bosan dan sudah yakin Chaca tidak jadi datang, Haisa bergegas masuk kedalam rumah. Tetapi saat baru saja akan masuk, ada yang berteriak dari luar...
“Haisaaaa !!” teriak seseorang.
Haisa pun menoleh ke sumber suara.
“Chacaaa !! ih.” Teriak Haisa sedikit mendengus.
“Haisaaa.. kangen bangeet ih sama lo.” Chaca masuk dan langsung memeluk Haisa.
“Lama banget sih non datengnya. Gue udah lumutan nungguin lo tau.” Omel Haisa.
“Hehe sorry atuh say. Tadi gue bangun kesiangan terus nunggu angkotnya lama. Eh malah ngetem angkotnya hehe. Maaf yaa sayaangku.” Jelas Chaca.
“Woo dasar alibi banget si lo ah ckck.” Haisa sedikit berdecak.
“Eh gue gak disuruh masuk nih?”
“Bawel banget sih. Ayuk deh masuk buru. Mau dimana ngobrolnya?”
“Mmm kekamar lo dulu deh hehe.”
            Chaca langsung merebahkan dirinya ke tempat tidur Haisa. Itu adalah salah satu kebiasaanya yang sebenarnya kurang sopan. Tetapi karena mereka memang sudah akrab jadi hal seperti itu sudah dianggap biasa. Sambil tiduran, Chaca memerhatikan wajah temannya itu. Chaca merasa ada sesuatu yang telah terjadi pada Haisa. Tetapi sepertinya ini hal yang baik. Karena wajah Haisa terlihat begitu cerah hari ini.
            Haisa yang merasa dirinya sedang diperhatikan, langsung menepuk pelan paha Chaca. Sepertinya Haisa akan mulai menceritakan kisahnya pada Chaca. Berhubung mereka sudah berkawan lama, Chaca tiba-tiba duduk dan mengambil posisi yang pas untuk mendengarkan cerita Haisa. Chaca seakan tau bila temannya akan membagi kisah baru yang telah dialami Haisa pada dirinya. Haisa tersenyum kecil.
            Haisa menceritakan semua kejadian yang sudah dialaminya. Kejadian saat dia bertemu Ari. Saat pertama kali ia bertemu Ari sampai terakhir ia bertemu Ari pagi tadi. Tak lupa juga Haisa menceritakan saat ia bertemu Ari di Taman dan ikut bernyanyi bercanda bersama dengan anak-anak “malang” yang kini menjadi teman barunya. Ia pun terang-terangan memberitahu Chaca bahwa sepertinya Ia sudah merasakan cinta. Haisa bilang, Ari telah berhasil dengan sukses mencuri Hatinya.
            Mendengar cerita Haisa, Chaca sedikit tidak percaya. Kenapa ceritanya begitu indah seperti halnya film-film bertemakan cinta remaja jaman sekarang. Tapi, Chaca lega karena akhirnya Haisa jatuh cinta juga. Ada rasa penasaran didalam diri Chaca. Penasaran untuk melihat sosok Ari yang telah berhasil membuat Haisa jatuh cinta.
“Sa, gue penasaran sama dia deh.” Ujar Chaca tiba-tiba.
“Ha? Eh mmm sebenernya nanti sore gue ada janji sama dia dan anak-anak buat main bareng lagi ditaman. Lu mau ikut?” Terang Haisa.
“Mmm sore yah? Boleh deh daripada gue penasaran terus sama yang namanya Ari. Tapi, gue gakpapa nih dirumah lo sampe sore?” Chaca balik bertanya.
“Yaa gakpapa lah. Kan kita bisa main game hehe. Terus lo juga bisa ngeliatin Dicky lama-lama kan? Hahaha ciyeeeeh.” Haisa meledek.
“Ih apaan sih Sa. Orang gue biasa aja gek :p”
“masa? Tuh orangnya ada diruang tv. Lagi main game juga kayaknya haha :D”
“Yee bodo amat-an lah.” Chaca pura-pura tak peduli.
            Sambil menunggu sore datang, Haisa dan Chaca menghabiskan waktu mereka dengan bermain video game. Benar saja, ternyata Dicky masih ada disana. Saat melihat Dicky, Chaca mendadak salah tingkah dan mukanya merah. Haisa yang melihat hal itu, hanya bisa mencoba menahan tawanya yang sebenarnya akan meledak sebentar lagi. Begitu pun halnya dengan Dicky, saat sadar ada Chaca, Dicky menjadi senyum-senyum aneh dan rada kaku. Haisa berguman dalam hati, “hahaha lucu banget sih mereka. Jangan-jangan Dicky juga suka lagi nih sama Chaca haha tapi amin deh amin banget. Lucu banget mereka yah. Pada salah tingkah.  Eh tapi, apa pas gue ketemu Ari, gue juga gitu yah? Ah bodo ah bodo amatan. Aneh.”
            Kegiatan bermain itu pun menjadi terasa begitu mengasyikan bagi Haisa. Ia bermain dengan teman dan kakak kesayangannya. Lengkap sudah kecerian Haisa saat ini. Dalam pikirannya, tiba-tiba terselip tentang Ari. Ya Ari. Apakah dia juga akan membuat hari ini menjadi kembali berkesan? Saat tadi ia sudah bertemu dengan Ari didepan rumahnya sendiri. Itu sudah cukup membuatnya menjadi senang. Haisa menjadi tidak sabar untuk segera pergi ketaman dan bertemu dengan Ari. Karena rasa ketidak sabarannya itu, Haisa pun membujuk Chaca untuk segera pergi ketaman. Setelah dirayu cukup lama, Haisa pun berhasil membuat Chaca ikut dengannya ke  taman.
            Setelah sampai ditaman, taman itu sepi. Sangat sepi. Tidak ada siapapun disana. Padahal sudah jam setengah 5 sore. Tidak biasanya taman sepi seperti ini. Haisa dan Chaca sudah mengelilingi taman itu, tetapi tetap saja mereka tidak menemukan Ari dan teman-temannya. Dalam hati, Haisa menyesal sudah mempercayai Ari. Padahal belum tentu Ari akan menemuinya sekarang. Haisa langsung meminta maaf pada Chaca karena awalnya ia ingin menujukan sosok Ari. Tapi ternyata yang ingin dikenalkan malah tidak ada. Akhirnya Haisa mengantar Chaca pulang sampai depan gapura perumahannya. Kecewa rasanya saat itu juga.
            Sambil berjalan, Haisa mencoba menahan air matanya. Ia merasa menjadi perempuan yang bodoh. Begitu langsung percaya pada orang yang baru saja yang ia kenal. Ingin rasanya langsung sampai kerumah, berlari kekamar dan mengurung diri untuk menangis dengan puas disana. Begitu hancur hati Haisa saat ini. Dia pikir, hari ini hari terindah tetapi ternyata malah kebalikannya. Tak terasa Haisa melewati taman. Haisa berniat untuk sekedar duduk ditaman itu. Menstabilkan suasana hatinya lagi.
            Haisa memilih tempat duduk yang tidak jauh dari jalan. Taman itu masih saja sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang memancing dipinggir danau buatan. Sambil sesekali menghela nafas panjang, Haisa memerhatikan sekelilingnya. Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pelan bahunya. Haisa kaget bukan main. Pelan-pelan tapi pasti ia menoleh kebelakang. Setelah menoleh, Haisa kaget bukan main.
“Ari.” Guman Haisa kaget.
            Ari berdiri dengan tegap didepannya. Membawa setangkai bunga mawar merah indah nan segar. Wajahnya terlihat sedikit gugup. Sepertinya Ari akan mengatakan sesuatu. Benar saja ia mengatakannya.
“Haisa, aku udah merhatiin dari lama. Aku tau ulang tahun kamu kapan, aku tau kamu suka apa, aku tau kamu benci apa. Aku tau kamu siapa. Awalnya kita berpapasan pas kamu lagi beli tali sepatu item dipinggir jalan gara-gara kepepet soalnya lagi ada razia dan kamu pake tali sepatu pink. Kita berpapasan pertama kali disitu. Tapi mungkin kamu gak nyadar ada aku disitu. Aku langsung jadi pengen merhatiin kamu. Sampai akhirnya aku berani muncul pas Handpone kau dicopet. Maafin aku. Aku begitu takut buat ketemu kamu. Sampai sekarang saatnya aku bilang semuanya.” Jelas Ari panjang lebar.
Mendengar cerita Ari, Haisa percaya tidak percaya akan kebenaranya. Haisa kaget akan pengakuan Ari bahwa Ari sudah mengenal dirinya sejak lama. Begitu baiknya Ari. Memerhatikan Haisa sampai seperti itu.
“Sa, kamu mau gak jadi pacar aku?” Tanya Ari tiba-tiba,
PLAAAAAAAAAK... ! seperti ada sesuatu yang menampar pipi Haisa. Baru kali ini ada orang yang menyatakan cintanya secara langsung. Haisa terenyuh sesaat. Ia speechless mendengar Ari berbicara kalimat itu. Tetapi semilir angin sore menyadarkan Haisa kembali. Dengan pelang ia berucap..
“Kenapa kamu baru berani muncul setelah udah lama kamu merhatiin aku?” Haisa bertanya balik.
“Karena aku malu. Aku Cuma tukang koran sama pengamen. Walaupun aku tau kamu gak pernah beda-bedain orang dari sisi derajat, tetep aja aku gak punya nyali.” Jelas Ari.
“Terus sekarang aku harus ngapain?” Tanya Haisa sedikit ragu.
“Kalo kamu nerima aku, kamu boleh ambil mawar ini. Tapi kalo kamu nolak, kamu bisa nampar aku. Bunganya juga boleh kamu buang ke danau itu.”
Haisa bingung. Baru kali ini iya diberi pilihan yang begitu susah. Lebih susah dari soal ulangan fisika disekolahnya. Hatinya berucap, Haisa suka Ari. Tapi Haisa sendiri ragu akan apa yang harus dia lakukan. Setelah hening beberapa saat, Haisa kini tau apa yang harus dilakukannya. Kini ia yakin dengan pilihannya.
“Bunganya bagus. Boleh aku simpen?” Tanya Haisa yang sebenarnya adalah jawaban dari pertanyaan Ari tadi.
“Haisaaa.. ka.mu.. kamu nerima?” Tanya Ari mendadak gugup.
Haisa hanya menundukan kepala sambil tersenyum indah. Senyuman itu, kini membuat Ari kembali terpesona dan bahagia karena kini, senyuman itu miliknya.



*TO BE CONTINUE...

Sabtu, 15 Oktober 2011

Hitam-Putihnya Haisa part IV


Setelah terjadi keheningan, kebingungan, dan kekagetan yang cukup lama, baru lah laki-laki itu berani berujar.
“ Hah? Eeeh iyaa kok kamu tau?” Ujarnya sedikit gugup.
“Beneran? Nama kamu beneran Ari?” Tanya Haisa tak menyangka.
“Iyaa beneran. Kok kamu bisa tau gitu sih? Tau darimana? Kamu sendiri siapa?”
“Mmmmm eh enggak. Nebak ajaah sih hehehe. Aku Haisa” Jawab Haisa salah tingkah.
Dalam hati Haisa berguman sendiri. Kenapa mimpi itu benar? Kenapa namanya benar-benar Ari? Lalu, maksud dari mimpi itu apa? Siapa sebenarnya Ari? Kenapa bisa semudah ini di pertemukan? Tanda tanya besar hinggap cukup lama dibenaknya. Tetapi Haisa menyadari akan ekspresi wajahnya yang kebingungan dan langsung tersenyum kembali. Haisa pun kembali memerhatikan laki-laki itu yang ternyata bernama Ari, dan anak-anak yang bersamanya itu. Walaupun sebenenarnya mereka semua kebingungan melihat tingkah Haisa yang begitu aneh. Haisa pun melanjutkan pembicaraan.
“Lagi pada ngapain nih? Aku boleh gabung gak Ri?” Tanyanya tanpa basi-basi.
“Yaudah gakpapa kok. Sini aja duduk disebelah aku.” Jawab Ari.
“Oke makasih J
“Tapi kamu gak malu duduk bareng sama orang-orang gembel kayak kita?” Tanya Ari selanjutnya.
“Penting yah?” Ujar Haisa dengan menampilkan senyum lebar diparas indahnya.
                Melihat senyuman manis Haisa, Ari merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Seperti sesuatu hal yang aneh. Belum pernah ia melihat senyum yang begitu indah dengan sorot mata yang begitu bercahaya. Tanpa ia sadari, dirinya sedang memerhatikan Haisa dengan seksama yang sedang berkenalan dengan anak-anak “malang” itu. Haisa pun merasakan rasa yang sama. Ada rasa bahagia yang sudah lama tak dirasakannya. Sudah lamaa? Mungkin bukan sudah lama, tetapi karna masalah ini yang begitu rumit membuat Haisa lupa saat terakhir kali dimana ia merasa bahagia.
                Saat ini Haisa merasa menjadi salah satu orang terberuntung didunia karena telah merasakan berbagi dengan anak-anak yang seharusnya menikmati masa kecilnya itu. Haisa termasuk orang yang memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi. Jelas terlihat dari cita-citanya, ia ingin menjadi Sosiolog. Psikolog, atau Aktivis. Ada kepuasaan tersendiri yang terselip dihati Haisa saat anak-anak itu tertawa dan bernyanyi tanpa sadar akan masalah yang sesungguhnya ada didepan mata mereka. Haisa bersama-sama dengan Ari dan anak-anak itu tertawa riang, berbagi cerita, dan bercanda bersama. Haisa berbagi kisah dan petualangan yang pernah ia lakukan bersama Dicky saat ia tersesat si Banten saat sedang berlibur. Terlihat dari wajah mereka semua, mereka bahagia tanpa merasakan beban.
                Tak terasa, matahari telah hampir tenggelam di ufuk Barat. Haisa pun segera sadar akan hal itu. Ia teringat pada Bunda dan Ayah dirumah yang mungkin mengkhawatirkannya. Dengan berat hati, Haisa pamit pada Ari dan teman-teman barunya itu.
“Eh aku pulang duluan yah semuanya. Udah sore soalnya nanti Bunda nyariin.” Pamit Haisa.
“Yaaaah kakak maah pulang yaaaah.” Jawab mereka serempak.
“Ih maaf atuh yaah. Kan udah sore nanti aku diomelin. Kalian juga pulang ajaa deh yaah nanti dicariin juga sama orang tua kalian.”
“Ah kakak maah gak seru nih.”
“Besok kita main lagi deeeh yaah. Janji deh janji.” Ucap Haisa meyakinkan.
“Bener yah kak? Awas loh kalo bohong.”
“Eh udah biarin ajah kak Haisa pulang, besok kan bisa main lagi.” Akhirnya Ari membantu Haisa merayu anak-anak itu.
“Kamu mau dianterin gak Sa?” Tanya Ari melanjutkan.
“Hah? Eh gak’ usah rumah aku mah deket kok hehe. Kamu jagain mereka ajah.” Jawab Haisa sedikit berbohong.
“Oh yaudah hati-hati yaah. Makasih yaah Sa udah mau jadi temen baru kita.”
“Iyaa Ri, aku juga seneng kok.” Ucap Haisa sambil melambaikan tangan.
Perpisahan itu membuat Haisa sedikit sedih. Karena sebenarnya belum tentu besok ia akan kembali ke taman itu dan bertemu serta bermain dengan mereka semua. Sedih rasanya bila tidak bisa berbagi kebahagian dengan mereka semua dan akan sedih rasanya bila tidak bisa bertemu Ari lagi. Ari? Oh laki-laki yang sebenarnya tukang koran keliling itu, yang membuat Haisa merasa nyaman dan senang saat bersamanya. Haisa berharap besok akan sempat menemui mereka lagi dan tertawa riang bersama mereka.
                Sesampainya dirumah, Bunda sedang menonton televisi di ruang keluarga tempat Haisa tertidur tadi. Haisa langsung menghampiri Bundanya dan bersender dibahu Bundanya itu. Tiba-tiba Haisa memeluk Bundanya dengan sangat erat. Bunda yang dipeluk, jelas kaget tetapi mengerti apa yang sedang dirasakan Haisa. Tanpa bertanya, Bunda sudah bisa menebak kalau anaknya sedang merasa senang. Bunda melengkungkan senyum ditipis dan membelai rambut Haisa yang terurai panjang. Haisa pun melepaskan pelukannya dan siapa yang sangka Haisa langsung mencium pipi Bundanya itu dan langsung lari kekamarnya. Bunda yang melihat tingkah Haisa, hanya bisa tersenyum dan bersyukur dalam hati.
                Ketika malam tiba, setelah selesai solat Maghrib Haisa langsung ke ruang makan untuk makan malam bersama orang-tua dan kakak kesayangannya itu. Karena perut Haisa sudah menggelar organ tunggal sedari tadi, Haisa ingin bergegas cepat sampai ke meja makan dan langsung melahap makanan yang ada. Ternyata dimeja makan, belum ada Dicky. Hal itu membuat Haisa bingung karena tidak biasanya Dicky absen saat makan malam.
“Dicky kemana Bun?” Tanya Haisa pada Bundanya.
“Belum pulang sekolah. Katanya ada tugas yang mesti dikumpulin besok.” Jelas Bundanya.
“Kok tumben ngerjain tugasnya gak dirumah kita Bun? Biasanya kan disini.” Tanya Haisa penasaran.
“Yaa gak tau Bunda juga. Temennya bosen kali disini mulu.”
“Hah? Bosen? Impposibble banget deh Bun.”
“Yaaa gak tau laah. Terserah mereka ajah.”
“Yaaah gak seru gak ada Dicky.” Guman Haisa pelan.
                Setelah selesai makan malam, Haisa berniat untuk menelpon Chaca. Sudah 2 hari ini dia tidak memberi kabar pada sahabat dekatnya itu. Sebenarnya ada niat lain selain menanyakan kabar, Haisa juga ingin menanyakan perkembangan kasusnya disekolah. Dia penasaran dengan nasih si kembar itu. Yaaaa Dona-Doni si pembuat gosip murahan tak bermutu. Akhirnya, Haisa memutuskan untuk segera menelpon Chaca dengan ponselnya. Namun, setelah beberapa kali mencoba tetap tidak bisa. Oh ternyata Haisan kehabisan pulsa. Dia baru ingat kalau dia terakhir mengisi pulsa minggu kemarin. Jangankan untuk menelpon, untuk mengirim pesan saja saldonya tidak cukup, aah sialnya. Tetapi, tak lama ponsel Haisa tiba-tiba bergetar singkat. Itu tandanya ada 1 pesan masuk.
                Siapa yang sangka, ternyata yg mengirim pesan adalah Chaha. Akhirnya Chaca menguhubunginya juga. Tanpa Haisa sadari, Haisa sebenarnya sangat rindu akan sahabatnya itu. Wajar saja, terakhir bertemu saat Haisa sedang sangat tidak mood berbicara dan shock berat sehingga tidak sempat bercerita apa-apa pada Chaca.
Isi pesannya adalah :
                Haisaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa !! ih kangen yah sama lo. Padahal baru sehari kita gak ketemu u,u. Gimana kabarnya lo Sa? Gue udah tau ceritanya dari anak-anak yang lain Sa. Gewla yaah kepsek ngehukum lo sampe segitunya. Tau gak Sa? 1 sekolah heboh ngomongin lo. Gue juga jadi ikut-ikut diteror nih gara-gara banyak yang nanya ke gue. Gue jadi pusing sendiri deeh. Oh iyaa Sa, si kembar udah di D.O tau. Soalnya kepsek jadi kebanjiran laporan gitu deeh tentang ulah-ulah si kembar. Jadi yaaa di D.O deeh. Kasian juga sebenernya. Oh iya, gimana kabarnya Dicky Sa? Sampein salam yah buat dia hihihi. Hampaa ih sehari gak ngeliat dia. Besok gue kerumah lo ya Sa. Kangen hehe. Dadaaaaah Haisa sayang :*
From : Chaca
                +658021838737920
“Apaan sih nih anak malah nanyain kakak gue ckckck.” Guman Haisa sambil tersenyum tipis.
                Sebenarnya, Haisa kaget mendengar berita kalau si kembar itu di D.O dari sekolah. Yaaa bagaimana pun juga, itu sebenarnya hanya iseng biasa. Tapi Haisa mendadak jadi sebal saat sadar akan masalahnya sendiri yang disebabkan oleh 2 orang pengacau itu. Rasa simpatinya hilang tiba-tiba. Tapi, besok Chaca akan kerumahnya? Asiiiiik itu hal yang sangat menggembirakan bagi Haisa. Dia akan menceritakan kejadian saat ia bertemu Ari hahaha. Menjadi tak sabar untuk besok hari.
                Setelah bersiap akan tidur, tiba-tiba Haisa teringat akan kakak kesayangannya itu. Kemana sebenarnya dia? Kenapa sampai semalam ini dia belum pulang? Tidak seperti biasanya. Padahal Haisa ingin sekali menceritakan petualangan baru yang sudah dia alami hari ini. Haisa tersenyum karena teringat teman-teman barunya dan tentu saja karena Ari. Laki-laki macho yang menolongnya saat dia dicopet. Semuanya terasa begitu indah untuk diingat. Seperti cerita didalam dongen yg penh dengan khayalan. Saat akan memejamkan mata, terselip kata di doa Haisa, “Yaa Allah, pertemukan aku sama teman-temannku baruku lagi yah J”.
                                                ********************************

                Ayam di jam weker Haisa berkokok cukup nyaring. Jarum pendeknya menunjukan angka jam 6 tepat. Setelah menggeliat cukup lama, Haisa pun beranjak dari tempat tidurnya dan langsung kekamar mandi untuk mencuci mukanya. Selesai mencuci muka, Haisa berniat untuk mengintip kamar kakaknya yg ada disebelah kamarnya. Dia ingin mengetahui apakah kakaknya ada didalam atau tidak. Pasalnya, tadi malam Haisa tidak mendengar suara apapun dari dalam kamar Dicky.
                Ternyata Dicky berada dibalik selimutnya di atas tempat tidurnya. Lega rasanya melihat Dicky tidur nyenyak. Tetapi bukannya Dicky harus sekolah? Ah iyaa kali ini Haisa lupa bahwa sekarang adalah hari Minggu. Mengingat hal itu, Haisa tidak berniat untuk membangunkan Dicky apa lagi menggangunya. Dibiarkannya Dicky tertidur pulas pagi ini.
                Dibawah, Bunda sudah standby di ruang tv sambil menemani Ayah minum kopi kesukaanya. Haisa pun langsung datang dan menyatu didalam kegiatan yang nyaman itu. Dia bersender di sova sambil ikut Bunda menonton acara tv yang sebenarnya tidak penting untuk ditonton. Eh tetapi sebentar, itu adalah acara berita terkini yang sedang membicarakan hasil UN SMP yang rata-rata nilainya memuaskan. Haisa jadi terpikirkan nilai Unnya. Pengumumannya masih 2 minggu lagi. Ah betapa lamanya ia harus menunggu.
                Seharusnya Haisa tidak perlu terlalu khawatir karena sebenarnya ia sudah diterima di SMA Tanah Wibawa Bangsa. Salah satu SMA paling favorit yang ada di Jakarta. Dan Haisa termasuk orang yang beruntung bisa masuk SMA itu. Tapi entahlah ada saja yang membuat Haisa menjadi bergalau-galau ria.
                Ditengah lamunannya itu, Ayah memecah pikirannya itu.
“De, coba itu ada tukang koran didepan. Ambilin korannya de tolong.” Ujar Ayah.
“Hah? Ayah langganan korang sekarang?’ Jawab Haisa sedikit kaget.
“Hehe iya dong. Udah sana ambilin mas-masnya nunggu juga.”
Sebenarnya Haisa kaget, karena Ayahnya tidak pernah berlangganan koran sebelumnya. Dan mungkin ini pertama kalinya Ayah berlangganan koran. Haisa berjalan pelan tapi pasti menuju gerbang rumahnya. Tukang koran itu sudah berteriak-teriak memberitahu bahwa sudah ada koran baru. Dari suaranya, sepertinya Haisa tak asing dengan suara itu. Seperti pernah didengarnya belum lama ini. Karena penasaran Haisa mempercepat langkahnya.

Saat membuka pintu...

                “Mba maaf ini koran barunya.” Ujar tukang koran itu.
Betapa kagetnya Haisa melihat wajah orang itu. Orang yang kemarin membuatnya merasa bahagia.
“Ari !” Ucapnya kaget.
“Hah? Eeeeh Haisa. Kamu..... kamu yang punya rumah ini?” Jawab Ari yang ikut terkejut karena melihat Haisa.
Haisa yang ditanya, malah diam terpaku karena kaget tak menyangka.
*KEMBALI HENING

TO BE CONTINUE........

Sabtu, 24 September 2011

Hitam-Putihnya Haisa Part III




                Ditengah kegalauan itu, sebenarnya Haisa merasa senang karena mungkin baru pertama kali ia merasakan rasa yang sangat asing yang tumbuh di hati lembutnya. Bayangan laki-laki pembawa koran itu masih memenuhi pikiran Haisa sampai akhirnya Haisa tertidur dengan senyuman mungil penuh makna di wajahnya charmingnya itu.


            “Loh gue dimana nih?” Haisa tiba di tempat yang sangat asing baginya.
Tempat yang sebenarnya sangat indah dan cukup membuat Haisa berdecak kagum. Haisa terus berjalan di tempat yang belum pernah di kunjungi sebelumnya. Sambil berjalan, Haisa tetap was-was dan memerhatikan sekelilingnya.
“ Bundaaaa.... Ayaaaaaaahh..... Dickyyyyyyyyyyyyyy......” teriak Haisa memanggil ayah-bundanya.
Dalam hati Haisa takut pada tempat asing ini. Akhirnya dia memilih untuk duduk disebuah Taman yang dihiasi bunga-bunga cantik. Setelah lama berdiam diri Haisa menundukan kepala dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menangis karena ketakutan. Dia tidak tahu ini tempat apa, dimana, dan kenapa dia tiba-tiba bisa berada disini.
            Ditengah tangisnya, tiba-tiba Haisa merasa ada seseorang yang duduk disebelahnya. Pelan-pelan tapi pasti Haisa melepas tangan dari wajahnya dan menoleh ke sebelah dengan hati-hati. Dan siapaa yang sangka bila yang duduk disebelahnya adalah laki-laki pembawa koran yang menolongnya kemarin. Ooooh apakah ini mimpi atau hanya khayalan. Entahlah yang jelas saat ini Haisa merasa batinnya menjadi lebih tenang.
“Gak’ usah nangis. Ada aku kok disini yang temenin kamu.” Ucap laki-laki itu.
Haisa yang mendengarnya hanya  bisa tersenyum tanpa mampu berucap apa-apa lagi. Jujur, ia merasa sangat gugup akan kehadiran laki-laki itu yang sekarang sedang duduk disebelahnya. Setelah berdiam cukup lama barulah Haisa berani berbicara.
“Mmmmmm nama kamu siapa? Pas kita ketemu kemarin, aku lupa nanya nama.”
“Nama aku A......rr.....i..i.i.i.i.i.iiiiiii.” Jawab laki-laki itu pelan.
“Hah siapaa? Sorry gak jelas.”
“A.........rr........iii” Jawab laki-laki itu semakin pelan dan seperti semakin jauh.
Haisa merasa suara laki-laki itu semakin samar dan makin jauh. Semua pandangannya kabur dan gelap.

            “Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing........” Weker berbunyi.
Karena suara jam weker yang kencang, Haisa perlahan membuka matanya. Dan setelah dia lihat sekeliling, oh ternyata dia masih didalam kamarnya yang nyaman. Tiba-tiba Haisa teringat kejadian dimana ia menangis dan datanglah laki-laki pembawa koran itu.
“Ari? Namanya Ari? Ah apasih gue itu kan Cuma mimpi biasa.” Guman Haisa.
Setengah malas Haisa beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas mandi eits tetapi sebentar, bukankah Haisa di skors selama seminggu? Oooh yaa benar Haisa ingat akan hal itu.  Karena itulah Haisa memutuskan untuk tidak langsung mandi dan bergegas menuju ruang makan dengan masih mengenakan piama favoritnya.
            Dari meja makan Bunda sudah teriak menyapa Haisa.
“Hai sayaaaaang. Gimana tidurnya nyenyak gak?” Bunda berbasa-basi.
“Rada galau Nda.” Jawab Haisa sekenannya.
Mendengar jawaban Haisa, bunda sedikit cemas pada putri satu-satunya itu. Bagaimana tidak? Anaknya sedang dihadapi masalah yang sebenarnya spele tapi cukup rumit.
“Kamu mau selai apa? Strawberry atau kacang?” Bunda menawarkan jasanya.
“Mmmmm selai saos cabe ajah deh Nda kalo bisa.” Lagi-lagi Haisa menjawab dengan asal.
“Eh lu tuh kenapa sih Sa? Sakit bukan? Bunda nawarin baik-baik juga.” Bentak Dicky sedikit emosi.
“Apa sih lu Dick !? gue juga Cuma bercanda kali.” Haisa membela diri.
“Eh kok malah jadi pada debat sih anak Ayah nih. Udah buruan makan. Dicky nanti kamu telat loh.” Ayah ambil bagian kali ini untuk melerai mereka.
            Acara sarapan pagi kali ini cukup membuat Haisa badmood. Entah kenapa semenjak masalah ini muncul, Haisa menjadi sedikit sensi dan mudah tersinggung lalu marah. Setelah selesai sarapan Haisa memutuskan untuk mandi. Saat sampai dikamar, handphone bergetar pertanda ada satu sms masuk. Awalnya Haisa mengira sms itu dari Chaca tetapi perkiraannya salah total. Sms itu dari Anto. Anto? sejak kapan Haisa menyimpan nomor si pembawa sial itu? Ah sudahlah. Sebenarnya Haisa tidak berminat sama sekali untuk membuka pesan itu, tapi karena ia ingin tau apakah Anto di skors atau tidak, ia memutuskan untuk membuka dan membaca pesan itu.
Hai Haisa sayang J selamaaaaat pagi putriku. Cuma mau ngasih tau aja nih, berhubung seminggu ini kita sama2 diskors, gue pengen ngajak lo ke vila gue yang di puncak. Mau gak say? Sama orangtua gue juga kok. Ikut yah yah yah yah yah?
From : Anto
           +6286453827538207
“ Ih gila apa yaah ini orang? Orang mah merenung pas di skros ini malah jalan-jalan. Dasaaar gokil !” Komentar Haisa setelah membaca pesan dari Anto.
Karena khawatir akan muntah bila ia membalas pesan itu, Haisa memutuskan untuk langsung mandi.
            Setelah selesai mandi dan ganti baju, Haisa keluar kamar untuk melihat aktivitas Bundanya di bawah. Cukup lama mencari Bundanya itu, akhirnya berhasil juga ditemukan di Ruang Keluarga. Oh ternyata Bunda sedang merangkai bunga sambil bersenandung. Bunda memang memiliki suara yang merdu, tak kalah jika dibandingkan dengan Trio Diva. Haisa langsung memilih duduk disebelah Bunda sambil bersandar dibahu Bundanya itu. Sepertinya Bunda sangat merasakan perasaan risau dan gelisah Haisa dan Bunda dapat mengerti itu. Sesekali Haisa memperhatikan cara tangan Bunda dengan cekatan merangkai bunga-bunga dan memasukannya kedalam vas mungil nan cantik. Bunda membiarkan putrinya itu bermanja di bahunya karena Bunda tau, Haisa sedang membutuhkan itu. Yaaa perhatian yang lebih untuk saat ini. Sambil mendengar Bunda bersenandung, Haisa menjadi mengantuk dan akhirnya terlelap di ruang keluarga. Bersama Bunda yang menemaninya.
            Haisa terbangun saat dikagetkan dengan suara televisi yang cukup keras yang dinyalakan Dicky.
“Aduuuh lo kok iseng banget sih dick ! udah tau ada orang tidur.” Komentar Haisa.
“Yeee siapa suruh tidur disini. Orang mah tidur teh di kamar.” Jawab Dicky tak mau kalah.
“Isssh resee -___-!” Balas Haisa yang akhirnya pergi.
Haisa berniat untuk mencari bundanya lagi tetapi kali ini tidak dapat ia temukan. Akhirnya Haisa memutuskan untuk berjalan-jalan sore sebentar di taman kompleks rumahnya. Siapa tau disana ia dapat mendapatkan inspirasi untuk syair puisinya.
            Sesampainya ditaman, Haisa memilih tempat didepan air mancur yang sebenarnya sudah tidak mancur lagi. Suasana seperti ini cocok untuk mencari inspirasi syair puisinya. Banyak ibu dan anak sedang berjalan-jalan dan ada juga remaja seumur Haisa yang sedang bermain Basket. Melihat pemandagan itu semua Haisa seperti mendapat semangat baru yang ada dalam dirinya. Dengan cepat ia langsung menulis syair untuk puisinya.

Sedihku..... Lukaku.....
Dan Deritaku......
Tak lagi menguasi batin putihku.....
Cacian..... Hinaan....
Serta Kebencian......
Berubah menjadi kedamaian.....
Biar saja kau pergi.....
Tinggalkan aku disini.......
Kan kuhadapi pagi, dengan setitik rasa riang dihati.....
Kegundahan ku bakaaar.....
Menjadi pribadi yang sadar....
Seperti mawar, yang kembali mekar.......

Itulah yang dituliskan Haisa dalam buku catatan koleksi puisinya. Haisa merasa ini puisi terbaik dan setulus yang pernah ia buat. Timbul senyum mempesona dari wajah cantik Haisa yang sudah jarang melengkung. Andai saja Bunda melihat Haisa tersenyum seperti ini, pasti akan lega perasaan Bundanya.
            Samar-samar Haisa mendengar suara sekumpulan anak yang sedang bernyanyi dengan diiringi alunan suara gitar. Terdengar dari suaranya mereka semua bernyanyi dengan riang seperti tanpa ada beban. Karena Haisa sedikit mempunyai jiwa petualang, Haisa mengikuti suara itu agar tau darimanakah sumber suara itu berasal. Setelah cukup lama mencari jejak suara, dilihatnya sekumpulan anak berbaju sedikit “tidak rapi” dan kumal serta ada satu laki-laki yang umurnya sekitar 16 tahunan. Karena penasaran, Haisa menghampiri segerombolan orang-orang mengasyikan itu.
            Semakin dekat dan dekat, Haisa seperti mengenali wajah laki-laki itu. Haisa terus mendekat dan akhirnya yaa Haisa yakn bahwa laki-laki itu lah yang menolongnya kemarin. Laki-laki pembawa koran yang sekarang sedang memainkan gitar untuk anak-anak yang sedikit malang. Entah kenapa, dada Haisa terasa sedikit sesak dan sedikit gemeteran. Mungkin karena Haisa mengingat mimpi yang dialaminya semalam. Dia mengatakan namanya adalah Ari. Tapi apakah betul? Ah satu-satunya cara untuk menngetahui kebenerannya adalah bertanya. Apakah Haisa berani unntuk bertanya? Bagaimana caranya? Apakah nanti laki-laki itu mengenali wajahnya? Ah tapi Haisa harus berani bertanya dan berbicara lagi pada laki-laki itu. Laki-laki pertama yang membuatnya menjadi susah tidur dan gembira disaat membayangkan wajahnya. Akhirnya dengan segenap keberanian Haisa berucap...
“Eh sorry nih yaaah ganggu kalian hehehe.” Haisa tiba-tiba muncul.
Saat menyadari Haisa berbicara, sontak mereka semua berhenti bernyanyi. Laki-laki itu pun cukup heran.
“eh iyaa ada apa yaah?” Jawab laki-laki itu.
Saat menoleh kearah Haisa, terlihat muka kaget dan sedikit menjadi salah tingkah saat mengetahui yang bertanya adalah perempuan yang ditolongnya waktu itu.
“Eh kamu kan yang waktu dicopet yaaah?” Tanyanya salah tingkah.
“Hehehe iyaaaa.” Jawab Haisa sambil memamerkan nyengir kudanya.
“Ada apaan emangnya? Kok bisa kebetulan ketemu.”
“Mmmmmh eh itu tadi suara kamu sama mereka kedengeran, aku penasaran yaudah aku ikutin ajah suaranya. Eh ternyata kamu hehe.” Jelas Haisa.
“Emangnya ada apa?”
“Mmmmh nama kamu, Ari bukan?’” Tanya Haisa tiba-tiba.
Pertanyaan Haisa cukup membuat semua yang ada disana menjadi keheranan dan terjadi keheningan yang cukup lamaa.
*HENING*



TO BE CONTINUE..........