Selasa, 12 Januari 2016

Bukan Untuk Siapa-siapa

Ketika hati kita menjerit saat melihat luka milik orang lain. Dalam hati ini meronta-ronta perih melihat tiap tetes air mata dipipinya. Mengapa engkau begitu tega, tuan? Menghancurkan segala pengharapan dan semua rasa yang harusnya selalu untukmu. Asal kau tahu saja, aku sangat menghormatimu dengan segala cinta milikku. Aku yang benar-benar ingin menjadi yang terbaik dimatamu agar bisa kau banggakan selalu hingga kebanggaan itu kau ingat hingga diakhirat. 

Namun kini kau goreskan luka padahal luka yang lama belum sepenuhnya pulih. Bukan luka untukku, bukan. Luka itu milik orang lain namun sakitnya sangat terasa didadaku. Kurangkah aku dalam memenuhi baktiku. Hingga kau sampai hati memberi semua ini. Tuan, selama ini aku menganggapmu sempurna, aku membanggakan dirimu dihadapan mereka. Cukup untuk kau tahu saja.

Aku menutup mata atas semuanya yang mungkin akan menjadi karmaku dihari esok. Aku bersedia untuk selalu baik-baik saja, Aku siap untuk menerima semua hukuman itu demi mampu mendapat ridhomu yang akan menerangkanku nanti. Aku rela dan ikhlas untukmu. Namun, apakah tuan ingin cepat-cepat aku merasakan semua hukuman itu? Karena jika sekarang tentulah aku belum siap.

Tuan, kumohon hentikan saja semua ini. Jangan berikan luka yang lebih banyak lagi. Karena aku sudah tidak sanggup menutup mataku. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi karena semuanya muncul dihadapanku secara jelas dan sangat dekat. Tuan, aku tidak sanggup untuk baik-baik saja jika tuan terus memberi sakit dan sakit.

Lalu jika begini aku salahkan siapa, tuan? menyalahkan segala ucapanmukah? rasanya semua ini lebih dari sekedar kata-kata.

Sadarlah tuan, aku sudah dewasa. Hukuman dalam hidup ini sudah berlaku juga untukku. Jangan biarkan aku ketakutan dengan guratan takdir yang sudah jelas itu. Hentikanlah sekali lagi hentikan.


Aku tidak akan pergi. tidak akan.
Aku akan menemanimu karena cinta ini memang yang seharusnya abadi.

Selasa, 08 Desember 2015

Perempuan itu...

Katanya perempuan adalah salah satu keindahan yang ada didunia. Perempuan adalah anugrah yang Tuhan ciptakan untuk terus melestarikan umat manusia. Perempuan memiliki arti dan maknanya sendiri. Bukan ingin diistimewakan karena pada dasarnya semua manusia adalah sama. Hanya ingin dikenal dan akui.

Dalam bersyukur, perempuan bisa saja menangis. air matanya hangat seperti cahaya matahari sehabis subuh. Maka dengan itu kita tau betapa lembut dan tulus hatinya. Lama menangis haru menunduk, ia usap air mata itu ia tegakan lagi kepalanya mengharuskan ia untuk siap menghadapi semua yang ada untuk dilanjuti sisa kemarin. 

Ia tertawa memperlihatkan rona bahagia berharap seseorang jatuh cinta dengan tawanya. Tawa adalah caranya untuk bahagia bukan karena bahagia. Jangan larang perempuan tertawa karena itu berarti menutup bahagianya. 

Tuhan ciptakan perempuan dengan sorot mata teduh membuat sejuk. Tatapan ingin dibimbing, ingin ditemani, ingin terus diajari. Karena sesunguhnya perempuan yang paling tidak tahu tentang dunia ini. Bukan berarti bodoh, hanya merasa tak sampai hati untuk menilai dunia yang begitu rumit.

Perempuan adalah kuat. 

Ketika ia mempertahankan kehidupan didalam dirinya. Mempertaruhkan nyawa demi nyawa manusia lain. Anggap saja itu adalah abdinya untuk Tuhan karena telah membuat jalan surga ditelapak kakinya. 

Perempuan tidak pernah mencintai sewajarnya. Karena baginya, cinta tidak bisa dianggap biasa. Ia hanya bisa apa adanya untuk cinta tanpa mengurangi rasa. Perempuan itu mandiri dan tertutup, namun ketika mulai mencintai ia menjadi sesuatu yang ingin dilihat bahwa ia bahagia. 

Perempuan adalah perempuan.
Tidak pernah merasa sempurna, tapi tidak juga merasa rendah.
Hanya butuh anggukan kecil saat ia merasa cukup.

Rabu, 14 Oktober 2015

Mengapa Aku?

Cerita pendek ini saya dedikasikan untuk para korban kabut asap disetiap wilayah yang terkena musibah tersebut. Semoga Tuhan selalu bersama kalian dalam doa yang akan selalu menguatkan.
Aamiin.

***

Mengapa Aku?

            Hari ini adalah hari yang paling kutunggu-tunggu sejak kemarin. Hari yang dianggap spesial bagi sebagian besar anak seusiaku. Maka dari subuh aku sudah menyiapkan diriku untuk menyambutnya. Aku mandi dengan sabun terwangi yang baru dibeli ibu. Solat subuh dan berdoa banyak-banyak meminta yang terbaik untuk nasibku hari ini.
“Ya Allah Ya Rabb, tunjukanlah keajaibanmu kali ini untukku. Karena aku ingin, sangat ingin menjadi yang terbaik untuk membuat ibu bapak bangga. Bapak janji mau membelikan aku sepeda jika aku menjadi juara pertama. Kabulkanlah doaku. Aamiin.” Begitu doaku pada Tuhan subuh tadi. Kuharap Tuhan mendengar dan dengan malaikat yang mengamininya.
            Aku bercermin sekali lagi untuk memastikan bahwa tidak ada yang salah pada tampilanku saat ini. Aku tidak mau mempermalukan diriku apalagi dihadapan teman-teman. Sebenarnya aku ini cukup berwibawa dan berkharisma dengan kacamata yang menyangkut dihidungku yang mancung. Namun banyak orang yang menganggapku aneh hanya karena aku selalu dengan buku. Tapi kali ini akan kubuktikan pada teman-teman bahwa aku bukan orang aneh dan membuat mereka menganggap jika aku ada. Aku berterimakasih kepada ibu guru telah memberikan aku kesempatan untuk mengikuti lomba puisi ini. Aku menganggap ini sebagai awal untuk semua pengakuan yang aku inginkan.
“Angga! Jangan lama-lama kamu dikamar. Ayo cepat sarapan dulu.” Panggil ibu dari dapur. Tandanya aku sudah harus mengakhiri kegiatan membanggakan diri ini.
            Aku langsung duduk dimeja makan dan menyiduk beberapa centong nasi dan lauk pauk yang telah tersedia diatas meja. Disebelahku sudah ada bapak yang daritadi menyimak berita tv pagi hari ini sambil sesekali menyeruput kopinya. Beritanya masih sama sejak kemarin. Tentang kabut asap yang semakin hari semakin parah saja. Terutama didaerahku di Pekanbaru. Bayangkan saja hari ini jarak pandang hanya sekitar 300 meter akibat tertutup kabut asap yang semakin menebal.
“Kamu duluan aja ya, nak. Gak usah bareng bapak soalnya lampu depan motornya belom bapak betulkan.” Kata bapak tiba-tiba sambil mengerutkan dahinya.
“Terus aku sama siapa?” Aku menjawabnya setelah menelan nasi yang ada dimulutku.
“Naik angkutan umum kan bisa seperti biasa. Takutnya nanti malah bahaya kalau dipaksakan. Nanti bapak menyusul setelah motornya sudah betul.” Perkataan bapak meyakinkan aku bahwa bapak memang akan datang untuk melihatku tampil. Akhirnya aku hanya memberi jawaban dengan anggukan.
***
            Dan disinilah aku. Diatas panggung dihadapan banyak orang yang sebagaian besar tidak kukenal. Namun bisa kupastikan ada ibu guru disamping sebalah sana untuk memberikanku semangat serta beberapa teman yang aku sendiri tidak tahu tujuan mereka ada disini. Dari kejauhan kulihat bu guru tersenyum dan melambaikan tangan memberikan aku sedikit kepercayaan diri. Sekali  lagi aku mencari sosok yang aku tunggu keberadaannya namun belum juga kutemukan hingga aku sadar aku terdiam cukup lama. Aku tersenyum dan membungkuk tanda memberi salam. Aku menarik nafas panjang untuk menghilangkan gugup ini.
Bolehkah aku iri?
Bolehkah aku mendapatkan apa yang mereka dapatkan?
Sederhana.
Katanya kita manusia yang sama. Ada dialam yang sama.
Aku hanya ingin udara untuk semua yang bernafas.
Apakah salahku? Hingga alam begitu marah.
Maka untuk kali ini biarkan aku serakah.
Karena semua yang terjadi sudah terlanjur parah.
Akankah kita jadi manusia yang lain?
Ketika udara dilangit yang sama telah berbeda.
***
            “Yakin mau tetap pergi pak? Ibu takut nanti malah bapak yang kenapa-napa.” Tanya seorang wanita kepada suaminya dengan menunjukkan raut wajah khawatir.
“Kasian Angga, bu. Dia kan sudah berharap banget. Masa iya bapak tega bikin dia kecewa lagian ini juga sudah lumayan kok asapnya. Nanti pulangnya sekalian beli sepedanya biar Angga bisa milih.” Jawab suaminya yang sudah memakai helm siap untuk berangkat menyusul anak kesayangannya.
“Jangan lupa maskernya, pak.” Akhirnya hanya itu yang bisa dikatakan wanita tadi. Kekhawatiran menyeruak batinnya karena tahu bahwa kondisi motor milik suaminya tidak mendukung untuk melewati keadaan jalanan yang penuh asap pagi ini.
***
            Terimakasih Tuhan, Engkau telah mengabulkan doaku. Aku berhasil menjadi juara pertama dalam lomba puisi ini. Aku mendapatkan pujian dari dewan juri, guru, serta teman-teman yang tadinya hanya bisa meledekku. Ditanganku sudah ada piala besar yang boleh kubawa pulang dan kuperlihatkan kepada ibu dan bapak. Rasa bangga terhadap diri ini semakin membuatku percaya diri untuk mengembangkan bakatku yang lain.
            Aku cari-cari sosok bapak yang katanya ingin menyusul namun aku tetap tidak bisa menemuinya. Sebenarnya aku kecewa namun aku juga tidak bisa memaksa bapak karena aku tahu alasannya cukup masuk akal. Maka aku putuskan untuk pulang. Aku tidak sabar untuk melihat ekspresi kedua orang tuaku ketika melihat aku pulang dengan membawa piala yang besar ini. Aku tersenyum. Akhirnya aku bisa membuat orang tuaku bangga.
            Sesampainya dirumah aku hanya menemukan ibu yang sedang masak untuk makan malam didapur. Aku tidak bertanya kemana bapak karena mungkin aku sendiri sudah tahu jawabannya. Bapak sedang membeli sebuah sepeda untukku. Bapak tega sekali membelinya tanpa aku namun tidak apa apa aku terima saja apapun darinya toh bagiku juga sepeda hanya bonus. Akhirnya kuputuskan untuk tidur dikamarku hingga nanti saat aku bangun sudah ada bapak dan sepeda baruku.
***
            Sayup-sayup aku dengar suara seorang perempuan menangis. Setelah beberapa saat aku membuka mataku dan memastikan bahwa suara itu adalah ibu. Aku langsung bangun dan keluar kamar. Betapa kagetnya aku melihat ibu menangis begitu kalap hingga meronta-ronta. Aku terpaku melihat keadaan ibu yang seperti itu hingga akhirnya ibu merayap menghampiriku. Memelukku dengan tangis yang meledak-ledak. Aku sungguh tidak mengerti apa artinya ini. Ibu tidak berkata apa-apa hanya menangis dan menangis. Sesekali berteriak membuat aku semakin heran. Namun kepeluk ibu tanpa menanyakan ada apa.
            Aku mencoba menenangkan ibu. Aku membelainya tapi entah mengapa tangisnya semakin tak terkendali. Hingga dari kejauhan aku mendengar suara sirine ambulans. Aku melepaskan pelukan ibuku dan keluar rumah mencoba melihat apa yang datang. Ternyata bukan mobil ambulans melainkan mobil jenazah yang  berhenti tepat didepan rumah kami. Kulihat ibu sekali lagi untuk memastikan apa yang terjadi, namun yang kulihat hanya gelap. Sangat gelap.
***
Mengapa kami?
Mengapa keadaan ini dihadapkan pada kami.
Mengapa bapakku? Dari sekian banyak orang, mengapa bapakku yang menjadi simbol ketersiksaan kami. 
mengapa asap yang mengaburkan jarak pandangnya. hingga mati ia ditelan kabutnya.
mengaburkan yang akan jadi menguburkan. sangat perih. 
Mengapa harus kami yang merasakan sesak nafas. Bukan karena asap.
Karena derita yang kami rasakan setelahnya.
Haruskah aku meminta maaf? Pad siapa aku harus?
Pada alam yang terlanjur murka.
Atau pada diri kami sendiri yang tak mampu menjaga bagian dari kami.

Tuhan, derita ini sakit. Sungguh-sungguh sakit.

Senin, 12 Oktober 2015

Malam jatuh

menjadi malam yang pasti
tempat yang disisakan waktu baik hati. 
yang ditunggu-tunggu angin sebagai tamunya. 
dengan aku yang siap diterpa belaiannya.
malam yang terang benderang
menghadirkan tawa sana-sini
menyembunyikan tangis dalam sela dinginnya
bukan malam yang sendu
sungguh bukan itu.
bagi orang-orang yang menunggu,
namun tak kunjung teraba.
malam dimana seseorang menyerah atas ambisi.
menoleh dan pasrah atas doa.
menjadi malam yang selalu dirindukan.
suasana ternyaman untuk diri ini.
malam saat tidak menipu siapa-siapa.
dimana matahari sengaja mengalah.
untuk orang-orang yang takut jatuh.
aku butuh kesempatan untuk mengambil malam
karena aku ingin jatuh dalam malam
membawa cinta yang mereka genggam
memberinya pada waktu dan cahaya
agar disimpan dan ditunjukan esok lagi.
hingga malam menjadi untuk kita semua yang memiliki cara.
jatuh dan jatuh lagi.

Senin, 28 September 2015

Bulan Patah Hati

diakhir september ini, aku merenung. 
kali ini bukan untuk menyesali apa yang sudah terjadi. bukan. melainkan memutar lagi apa yang terjadi kemarin. bukan hanya tentang aku, tapi kali ini ada dia, mereka, dan kita semua. 

September ceria. 
begitu kata sebuah lagu lama yang sempat beberapa kali aku dengar. lagu itu sempat membuat aku antusias menyambut bulan ini tanpa tahu apa yang akan terjadi nantinya. namun lagu hanyalah sebuah lagu ketika yang terjadi malah sebaliknya.

Bulan ini memperlihatkan aku pada perjuangan seseorang dengan cintanya yang sembunyi-sembunyi. aku tidak sengaja melihat betapa melilit hatinya dengan perasaan yang sebisa mungkin ia jaga. nafsu dan keegoisan yang ia miliki, dengan susah payah ia hilangkan. menahan rindu dan tangis yang kadang menyebabkan hatinya sesak sendirian. menerima kenyataan bahwa pengakuannya sulit untuk diterima dan dianggap biasa. karena memang cinta dan kasih sayang tidak pernah bisa menjadi biasa. aku merasakannya. merasakan hatinya yang patah tanpa luka.aku melihat air matanya saat ia tidak mampu menahannya. cinta sendiriannya, bukan sia-sia hanya saja sulit untuk dipercaya karena kemurniannya itu sendiri. 

Lalu tejadi lagi. saat aku menoleh. aku melihat air mata lagi. mungkin kali tentang pengkhianatan. pengkhianatan seseorang pada seseorang yang mungkin tahu akan akhirnya namun mencoba menutup mata. orang itu terlihat kuat dan sabar dengan segala senyum dan cara yang ia lakukan. pengkhianatannya sudah lama mungkin sekarang lukanya sudah mengering. namun entah apa yang membuatnya kembali menangis. baginya, pengkhianatan lebih parah dari sekedar patah hati. apa semakin kita dewasa, cobaan pada hati akan semakin berat dan sakit? orang dewasa memang rumit. mereka gampang berjanji namun gampang pula melupakannya. katanya, lukanya akan membekas dan membuat kita tidak bisa berjalan seperti dulu. 

Dan sekarang mari kita berkaca diri. seberapa dalam luka yang sempat ada dihati ini. ini luka yang menyebabkan sakit dan perih. bukan karena dikhianati atau memendam rasa sendirian, hanya sakit karena dibodohi dan tidak dipilih. air mata dan tangis saat sepi datang, mengingat semuanya yang diakhiri dengan penyesalan. ini belum seberapa saat aku tahu air mata orang lain. mungkin yang aku rasakan hanya takut dan pemikiran yang berlebihan. 

Mungkin masih banyak air mata lainnya yang tidak bisa kulihat. masih banyak luka yang masih memerih dihati orang lain. rasa sakit dari patah hati orang lain. rasa kecewa dari kebodohan orang lain. dan rasa menyesal dari keputusan hati orang lain. semua sedih dan luka dari kepercayaan orang lain. atau, merasa rindu dari patah hati orang lain.

kita hanya manusia. memiliki cinta dan rasa. entah  untuk diperlihatkan atau disembunyikan. kita bisa memilih untuk dipersatukan atau hanya kita simpan agar tetap tejaga. 

bulan ini, bulan patah hati. saat bulan dilangit sedang indah-indahnya.

Jumat, 18 September 2015

Kembali Saja

kita seringkali mendapati seseorang sedang berdiam diri. kita tidak tahu apa yang ia sedang lakukan. entah mengamati atau melihat-lihat. kita ingin melihat matanya untuk memastikan tetapi tak bisa. kita ingin menerjemahkan arti tatapannya namun kita tak bisa menemukan kamus dalam dirinya. apa yang sedang ia ratapi? apa yang sedang ia lakukan sebenarnya?

kadang diam dalam pagi. namun sering juga termenung dalam siang ketika matahari tidak memberi kesempatan kita untuk sempat berpikir. tapi siapa yang sangka saat malam tanpa sinar bulan ia masih saja menatap kosong. tanpa lelah ia terus saja diam dan diam. tanpa ingin berhenti ia masih menangis.

apakah dunia begitu berat? apakah beban yang dipikul pundaknya? kita tidak pernah tahu.
mengapa berdiam begitu mengasyikan baginya? dan kenapa semuanya berupa pertanyaan yang tak akan terjawab?

kembali saja.
kembali saja jika memang ini sulit untukmu.
kembali saja saat semua yang ada hanya membuatmu diam.
semua beban yang ada akan mengusirmu kembali.
cari saja dirimu yang dulu
ingat dan ambil lagi tawa dan rindu waktu itu.

kembali saja.
ketempat dimana semua tidak perlu dipertanyakan.
dimana kamu dapat suasana yang seperti pagi
kembali saja

namun kembali bukan jawaban. kembali hanya alasan untuk terus diam.
karena sesuatu yang benar adalah melanjutkan. melanjutkan diam namun kali ini pastikan untuk memerhatikan tatapan yang lain saat menatapmu. beri ia jawaban lewat sinar mata yang teduh. biarkan kamus tentang dirimu dilihat dan dipelajari orang lain. 

kembali saja kedunia.
karena alam pikiran bukanlah nyata.

Sabtu, 12 September 2015

Bagian Terbaik Dari Mencintai

kita sebagai manusia memiliki hati. hati ini merupakan anugrah dari Tuhan karena didalamnya terdapat perasaan. PERASAAN. perasaan bisa dibilang sebagai sensasi hidup didunia. rasa senang, bahagia, terharu, sedih, kecewa, marah, kesal, suka, cinta, dendam, iri, bangga, dan ikhlas. banyak perasaan lainnya yang tidak bisa kita terjemahkan kedalam kata. itulah kasih sayang Tuhan. Tuhan menganggap kita istimewa hingga selalu ada saja hal yang tak dapat kita artikan.

salah satu perasaan yang timbul dan sering mendominasi hati adalah kasih dan sayang.
lewat rasa ini, muncul rasa-rasa lain yang ikut memainkan perannya dalam hati kita.

kasih sayang.
suatu perasaan yang membuat kita melihat dunia secara berbeda. kasih sayang yang menciptakan rukun dan damai didunia ini. kasih sayang terhadap sesama manusia, sesama mahluk Tuhan. kasih sayang terhadap alam yang akan memberikan kita ketentraman hidup.

selain kasih sayang, Tuhan menciptakan satu rasa yang lebih spesial dari sekedar menyanyangi.
Cinta. Tuhan mengajarkan kita untuk mencintai sejak awal kita ada didunia ini. dimulai dengan mencintai-Nya. dengan mencintai-Nya, maka berbahagialah kita. itu yang Tuhan inginkan dari kita sebagai hamba-Nya.

namun, kita manusia selalu mencari hal lain dalam hidup ini. mencari sesuatu yang membuat kita merasakan sensasi luar biasa yang akan membawa kita semakin mengerti arti hidup. maka, mulailah dengan mencintai seseorang. seseorang yang akan membuat kita merasakan kebahagian yang lain, seseorang yang akan membuat kita menikmati setiap hari yang terlewati. itu tidak salah. Tuhan memang mengkodratkan untuk seperti itu. Tuhan baik dan tidak pernah iri. membiarkan kita merasakan cinta selain dari cinta-Nya. 

mencintai itu hal yang menyenangkan. lebih menyenangkan lagi jika kata itu ditambahi menjadi saling mencintai. ada kata saling yang berarti kedua-duanya yang akan berusaha. kata saling  yang berarti segala sesuatunya akan menjadi bersama. merasakan kasih sayang, bahagia, kecewa, marah bersama.

bagaimana jika mencintai tidak menggunakan kata saling? itu menjadi mencintai.
MENCINTAI.
Cinta itu tumbuh begitu saja. tanpa dipaksa untuk disemai, tanpa harus disirami dengan cinta yang lainnya. cinta itu akan kuat dengan sendirinya. cinta itu akan berjuang dengan nalurinya, bertahan lebih lama dari yang dikiranya. ketika mencintai, berbagai perasaan akan muncul. ego itu memiliki.

namun Tuhan mengajarkan kita hal lain dengan mencintai. ada ketulusan didalamnya. TULUS. tanpa ingin tau ujungnya, tanpa berharap kepastian, tanpa tau apa tujuan sebenarnya, tanpa ingin ia membalas. tulus ketika merindu dan tidak melakukan apa-apa. kita bahagia jika ia bahagia. walaupun kita tahu, bahagianya bukan untuk kita. mencintai seperti itu. 

lalu kita berpikir, apa yang bisa kita lakukan? maka Tuhan menjawab, dekatkan hati kalian padaku. 

kita titipkan hati kita pada Tuhan yang memang pemiliknya. kita berharap Tuhan menjaga hati kita ditangannya. berjuang dalam setiap doa yang kita syukurkan. berharap ia bahagia, berharap ia baik saja, berharap ia tetap menjaga hatinya. kita luapkan segala rindu dan keegoisan kita pada yang memilikinya. terimakasih untuknya, karena membuat perasaan cinta ini semakin besar. terimakasih untuknya, karena aku bisa mendekatkan diriku pada pemiliku dan pemiliknya. terimakasih karena kesempatan untuk mencintaimu, mengajariku sesuatu yang indah dan menahanku dari nafsu.

karena bagian terbaik dari mencintai adalah membiarkan diri kita menjadi lebih baik untuk diri kita sendiri, untuk orang yang pantas untuk kita bahagiakan nantinya. jika bukan dia, maka haruslah orang yang lebih mengerti akan cinta yang sesungguhnya.