Aamiin.
***
Mengapa
Aku?
Hari ini adalah hari yang paling
kutunggu-tunggu sejak kemarin. Hari yang dianggap spesial bagi sebagian besar
anak seusiaku. Maka dari subuh aku sudah menyiapkan diriku untuk menyambutnya. Aku
mandi dengan sabun terwangi yang baru dibeli ibu. Solat subuh dan berdoa
banyak-banyak meminta yang terbaik untuk nasibku hari ini.
“Ya Allah Ya Rabb, tunjukanlah
keajaibanmu kali ini untukku. Karena aku ingin, sangat ingin menjadi yang
terbaik untuk membuat ibu bapak bangga. Bapak janji mau membelikan aku sepeda
jika aku menjadi juara pertama. Kabulkanlah doaku. Aamiin.”
Begitu doaku pada Tuhan subuh tadi. Kuharap Tuhan mendengar dan dengan malaikat
yang mengamininya.
Aku bercermin sekali lagi untuk
memastikan bahwa tidak ada yang salah pada tampilanku saat ini. Aku tidak mau
mempermalukan diriku apalagi dihadapan teman-teman. Sebenarnya aku ini cukup
berwibawa dan berkharisma dengan kacamata yang menyangkut dihidungku yang
mancung. Namun banyak orang yang menganggapku aneh hanya karena aku selalu
dengan buku. Tapi kali ini akan kubuktikan pada teman-teman bahwa aku bukan
orang aneh dan membuat mereka menganggap jika aku ada. Aku berterimakasih
kepada ibu guru telah memberikan aku kesempatan untuk mengikuti lomba puisi
ini. Aku menganggap ini sebagai awal untuk semua pengakuan yang aku inginkan.
“Angga!
Jangan lama-lama kamu dikamar. Ayo cepat sarapan dulu.” Panggil ibu dari dapur.
Tandanya aku sudah harus mengakhiri kegiatan membanggakan diri ini.
Aku langsung duduk dimeja makan dan
menyiduk beberapa centong nasi dan lauk pauk yang telah tersedia diatas meja. Disebelahku
sudah ada bapak yang daritadi menyimak berita tv pagi hari ini sambil sesekali
menyeruput kopinya. Beritanya masih sama sejak kemarin. Tentang kabut asap yang
semakin hari semakin parah saja. Terutama didaerahku di Pekanbaru. Bayangkan saja
hari ini jarak pandang hanya sekitar 300 meter akibat tertutup kabut asap yang
semakin menebal.
“Kamu
duluan aja ya, nak. Gak usah bareng bapak soalnya lampu depan motornya belom
bapak betulkan.” Kata bapak tiba-tiba sambil mengerutkan dahinya.
“Terus
aku sama siapa?” Aku menjawabnya setelah menelan nasi yang ada dimulutku.
“Naik
angkutan umum kan bisa seperti biasa. Takutnya nanti malah bahaya kalau
dipaksakan. Nanti bapak menyusul setelah motornya sudah betul.” Perkataan bapak
meyakinkan aku bahwa bapak memang akan datang untuk melihatku tampil. Akhirnya aku
hanya memberi jawaban dengan anggukan.
***
Dan disinilah aku. Diatas panggung
dihadapan banyak orang yang sebagaian besar tidak kukenal. Namun bisa
kupastikan ada ibu guru disamping sebalah sana untuk memberikanku semangat serta
beberapa teman yang aku sendiri tidak tahu tujuan mereka ada disini. Dari kejauhan
kulihat bu guru tersenyum dan melambaikan tangan memberikan aku sedikit
kepercayaan diri. Sekali lagi aku
mencari sosok yang aku tunggu keberadaannya namun belum juga kutemukan hingga
aku sadar aku terdiam cukup lama. Aku tersenyum dan membungkuk tanda memberi
salam. Aku menarik nafas panjang untuk menghilangkan gugup ini.
Bolehkah aku iri?
Bolehkah aku mendapatkan apa yang
mereka dapatkan?
Sederhana.
Katanya kita manusia yang sama. Ada
dialam yang sama.
Aku hanya ingin udara untuk semua
yang bernafas.
Apakah salahku? Hingga alam begitu
marah.
Maka untuk kali ini biarkan aku
serakah.
Karena semua yang terjadi sudah
terlanjur parah.
Akankah kita jadi manusia yang lain?
Ketika udara dilangit yang sama
telah berbeda.
***
“Yakin mau tetap pergi pak? Ibu
takut nanti malah bapak yang kenapa-napa.” Tanya seorang wanita kepada suaminya
dengan menunjukkan raut wajah khawatir.
“Kasian
Angga, bu. Dia kan sudah berharap banget. Masa iya bapak tega bikin dia kecewa
lagian ini juga sudah lumayan kok asapnya. Nanti pulangnya sekalian beli
sepedanya biar Angga bisa milih.” Jawab suaminya yang sudah memakai helm siap
untuk berangkat menyusul anak kesayangannya.
“Jangan
lupa maskernya, pak.” Akhirnya hanya itu yang bisa dikatakan wanita tadi. Kekhawatiran
menyeruak batinnya karena tahu bahwa kondisi motor milik suaminya tidak
mendukung untuk melewati keadaan jalanan yang penuh asap pagi ini.
***
Terimakasih Tuhan, Engkau telah
mengabulkan doaku. Aku berhasil menjadi juara pertama dalam lomba puisi ini. Aku
mendapatkan pujian dari dewan juri, guru, serta teman-teman yang tadinya hanya
bisa meledekku. Ditanganku sudah ada piala besar yang boleh kubawa pulang dan
kuperlihatkan kepada ibu dan bapak. Rasa bangga terhadap diri ini semakin
membuatku percaya diri untuk mengembangkan bakatku yang lain.
Aku cari-cari sosok bapak yang
katanya ingin menyusul namun aku tetap tidak bisa menemuinya. Sebenarnya aku
kecewa namun aku juga tidak bisa memaksa bapak karena aku tahu alasannya cukup
masuk akal. Maka aku putuskan untuk pulang. Aku tidak sabar untuk melihat
ekspresi kedua orang tuaku ketika melihat aku pulang dengan membawa piala yang
besar ini. Aku tersenyum. Akhirnya aku bisa membuat orang tuaku bangga.
Sesampainya dirumah aku hanya
menemukan ibu yang sedang masak untuk makan malam didapur. Aku tidak bertanya
kemana bapak karena mungkin aku sendiri sudah tahu jawabannya. Bapak sedang
membeli sebuah sepeda untukku. Bapak tega sekali membelinya tanpa aku namun
tidak apa apa aku terima saja apapun darinya toh bagiku juga sepeda hanya
bonus. Akhirnya kuputuskan untuk tidur dikamarku hingga nanti saat aku bangun
sudah ada bapak dan sepeda baruku.
***
Sayup-sayup aku dengar suara seorang
perempuan menangis. Setelah beberapa saat aku membuka mataku dan memastikan
bahwa suara itu adalah ibu. Aku langsung bangun dan keluar kamar. Betapa kagetnya
aku melihat ibu menangis begitu kalap hingga meronta-ronta. Aku terpaku melihat
keadaan ibu yang seperti itu hingga akhirnya ibu merayap menghampiriku. Memelukku
dengan tangis yang meledak-ledak. Aku sungguh tidak mengerti apa artinya ini. Ibu
tidak berkata apa-apa hanya menangis dan menangis. Sesekali berteriak membuat
aku semakin heran. Namun kepeluk ibu tanpa menanyakan ada apa.
Aku mencoba menenangkan ibu. Aku membelainya
tapi entah mengapa tangisnya semakin tak terkendali. Hingga dari kejauhan aku
mendengar suara sirine ambulans. Aku melepaskan pelukan ibuku dan keluar rumah
mencoba melihat apa yang datang. Ternyata bukan mobil ambulans melainkan mobil
jenazah yang berhenti tepat didepan
rumah kami. Kulihat ibu sekali lagi untuk memastikan apa yang terjadi, namun
yang kulihat hanya gelap. Sangat gelap.
***
Mengapa kami?
Mengapa keadaan ini dihadapkan pada
kami.
Mengapa bapakku? Dari sekian banyak
orang, mengapa bapakku yang menjadi simbol ketersiksaan kami.
mengapa asap yang mengaburkan jarak pandangnya. hingga mati ia ditelan kabutnya.
mengaburkan yang akan jadi menguburkan. sangat perih.
mengapa asap yang mengaburkan jarak pandangnya. hingga mati ia ditelan kabutnya.
mengaburkan yang akan jadi menguburkan. sangat perih.
Mengapa harus kami yang merasakan
sesak nafas. Bukan karena asap.
Karena derita yang kami rasakan
setelahnya.
Haruskah aku meminta maaf? Pad siapa
aku harus?
Pada alam yang terlanjur murka.
Atau pada diri kami sendiri yang
tak mampu menjaga bagian dari kami.
Tuhan, derita ini sakit. Sungguh-sungguh
sakit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar