Setelah terjadi keheningan, kebingungan, dan kekagetan yang cukup lama, baru lah laki-laki itu berani berujar.
“ Hah? Eeeh iyaa kok kamu tau?” Ujarnya sedikit gugup.
“Beneran? Nama kamu beneran Ari?” Tanya Haisa tak menyangka.
“Iyaa beneran. Kok kamu bisa tau gitu sih? Tau darimana? Kamu sendiri siapa?”
“Mmmmm eh enggak. Nebak ajaah sih hehehe. Aku Haisa” Jawab Haisa salah tingkah.
Dalam hati Haisa berguman sendiri. Kenapa mimpi itu benar? Kenapa namanya benar-benar Ari? Lalu, maksud dari mimpi itu apa? Siapa sebenarnya Ari? Kenapa bisa semudah ini di pertemukan? Tanda tanya besar hinggap cukup lama dibenaknya. Tetapi Haisa menyadari akan ekspresi wajahnya yang kebingungan dan langsung tersenyum kembali. Haisa pun kembali memerhatikan laki-laki itu yang ternyata bernama Ari, dan anak-anak yang bersamanya itu. Walaupun sebenenarnya mereka semua kebingungan melihat tingkah Haisa yang begitu aneh. Haisa pun melanjutkan pembicaraan.
“Lagi pada ngapain nih? Aku boleh gabung gak Ri?” Tanyanya tanpa basi-basi.
“Yaudah gakpapa kok. Sini aja duduk disebelah aku.” Jawab Ari.
“Oke makasih J”
“Tapi kamu gak malu duduk bareng sama orang-orang gembel kayak kita?” Tanya Ari selanjutnya.
“Penting yah?” Ujar Haisa dengan menampilkan senyum lebar diparas indahnya.
Melihat senyuman manis Haisa, Ari merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Seperti sesuatu hal yang aneh. Belum pernah ia melihat senyum yang begitu indah dengan sorot mata yang begitu bercahaya. Tanpa ia sadari, dirinya sedang memerhatikan Haisa dengan seksama yang sedang berkenalan dengan anak-anak “malang” itu. Haisa pun merasakan rasa yang sama. Ada rasa bahagia yang sudah lama tak dirasakannya. Sudah lamaa? Mungkin bukan sudah lama, tetapi karna masalah ini yang begitu rumit membuat Haisa lupa saat terakhir kali dimana ia merasa bahagia.
Saat ini Haisa merasa menjadi salah satu orang terberuntung didunia karena telah merasakan berbagi dengan anak-anak yang seharusnya menikmati masa kecilnya itu. Haisa termasuk orang yang memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi. Jelas terlihat dari cita-citanya, ia ingin menjadi Sosiolog. Psikolog, atau Aktivis. Ada kepuasaan tersendiri yang terselip dihati Haisa saat anak-anak itu tertawa dan bernyanyi tanpa sadar akan masalah yang sesungguhnya ada didepan mata mereka. Haisa bersama-sama dengan Ari dan anak-anak itu tertawa riang, berbagi cerita, dan bercanda bersama. Haisa berbagi kisah dan petualangan yang pernah ia lakukan bersama Dicky saat ia tersesat si Banten saat sedang berlibur. Terlihat dari wajah mereka semua, mereka bahagia tanpa merasakan beban.
Tak terasa, matahari telah hampir tenggelam di ufuk Barat. Haisa pun segera sadar akan hal itu. Ia teringat pada Bunda dan Ayah dirumah yang mungkin mengkhawatirkannya. Dengan berat hati, Haisa pamit pada Ari dan teman-teman barunya itu.
“Eh aku pulang duluan yah semuanya. Udah sore soalnya nanti Bunda nyariin.” Pamit Haisa.
“Yaaaah kakak maah pulang yaaaah.” Jawab mereka serempak.
“Ih maaf atuh yaah. Kan udah sore nanti aku diomelin. Kalian juga pulang ajaa deh yaah nanti dicariin juga sama orang tua kalian.”
“Ah kakak maah gak seru nih.”
“Besok kita main lagi deeeh yaah. Janji deh janji.” Ucap Haisa meyakinkan.
“Bener yah kak? Awas loh kalo bohong.”
“Eh udah biarin ajah kak Haisa pulang, besok kan bisa main lagi.” Akhirnya Ari membantu Haisa merayu anak-anak itu.
“Kamu mau dianterin gak Sa?” Tanya Ari melanjutkan.
“Hah? Eh gak’ usah rumah aku mah deket kok hehe. Kamu jagain mereka ajah.” Jawab Haisa sedikit berbohong.
“Oh yaudah hati-hati yaah. Makasih yaah Sa udah mau jadi temen baru kita.”
“Iyaa Ri, aku juga seneng kok.” Ucap Haisa sambil melambaikan tangan.
Perpisahan itu membuat Haisa sedikit sedih. Karena sebenarnya belum tentu besok ia akan kembali ke taman itu dan bertemu serta bermain dengan mereka semua. Sedih rasanya bila tidak bisa berbagi kebahagian dengan mereka semua dan akan sedih rasanya bila tidak bisa bertemu Ari lagi. Ari? Oh laki-laki yang sebenarnya tukang koran keliling itu, yang membuat Haisa merasa nyaman dan senang saat bersamanya. Haisa berharap besok akan sempat menemui mereka lagi dan tertawa riang bersama mereka.
Sesampainya dirumah, Bunda sedang menonton televisi di ruang keluarga tempat Haisa tertidur tadi. Haisa langsung menghampiri Bundanya dan bersender dibahu Bundanya itu. Tiba-tiba Haisa memeluk Bundanya dengan sangat erat. Bunda yang dipeluk, jelas kaget tetapi mengerti apa yang sedang dirasakan Haisa. Tanpa bertanya, Bunda sudah bisa menebak kalau anaknya sedang merasa senang. Bunda melengkungkan senyum ditipis dan membelai rambut Haisa yang terurai panjang. Haisa pun melepaskan pelukannya dan siapa yang sangka Haisa langsung mencium pipi Bundanya itu dan langsung lari kekamarnya. Bunda yang melihat tingkah Haisa, hanya bisa tersenyum dan bersyukur dalam hati.
Ketika malam tiba, setelah selesai solat Maghrib Haisa langsung ke ruang makan untuk makan malam bersama orang-tua dan kakak kesayangannya itu. Karena perut Haisa sudah menggelar organ tunggal sedari tadi, Haisa ingin bergegas cepat sampai ke meja makan dan langsung melahap makanan yang ada. Ternyata dimeja makan, belum ada Dicky. Hal itu membuat Haisa bingung karena tidak biasanya Dicky absen saat makan malam.
“Dicky kemana Bun?” Tanya Haisa pada Bundanya.
“Belum pulang sekolah. Katanya ada tugas yang mesti dikumpulin besok.” Jelas Bundanya.
“Kok tumben ngerjain tugasnya gak dirumah kita Bun? Biasanya kan disini.” Tanya Haisa penasaran.
“Yaa gak tau Bunda juga. Temennya bosen kali disini mulu.”
“Hah? Bosen? Impposibble banget deh Bun.”
“Yaaa gak tau laah. Terserah mereka ajah.”
“Yaaah gak seru gak ada Dicky.” Guman Haisa pelan.
Setelah selesai makan malam, Haisa berniat untuk menelpon Chaca. Sudah 2 hari ini dia tidak memberi kabar pada sahabat dekatnya itu. Sebenarnya ada niat lain selain menanyakan kabar, Haisa juga ingin menanyakan perkembangan kasusnya disekolah. Dia penasaran dengan nasih si kembar itu. Yaaaa Dona-Doni si pembuat gosip murahan tak bermutu. Akhirnya, Haisa memutuskan untuk segera menelpon Chaca dengan ponselnya. Namun, setelah beberapa kali mencoba tetap tidak bisa. Oh ternyata Haisan kehabisan pulsa. Dia baru ingat kalau dia terakhir mengisi pulsa minggu kemarin. Jangankan untuk menelpon, untuk mengirim pesan saja saldonya tidak cukup, aah sialnya. Tetapi, tak lama ponsel Haisa tiba-tiba bergetar singkat. Itu tandanya ada 1 pesan masuk.
Siapa yang sangka, ternyata yg mengirim pesan adalah Chaha. Akhirnya Chaca menguhubunginya juga. Tanpa Haisa sadari, Haisa sebenarnya sangat rindu akan sahabatnya itu. Wajar saja, terakhir bertemu saat Haisa sedang sangat tidak mood berbicara dan shock berat sehingga tidak sempat bercerita apa-apa pada Chaca.
Isi pesannya adalah :
Haisaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa !! ih kangen yah sama lo. Padahal baru sehari kita gak ketemu u,u. Gimana kabarnya lo Sa? Gue udah tau ceritanya dari anak-anak yang lain Sa. Gewla yaah kepsek ngehukum lo sampe segitunya. Tau gak Sa? 1 sekolah heboh ngomongin lo. Gue juga jadi ikut-ikut diteror nih gara-gara banyak yang nanya ke gue. Gue jadi pusing sendiri deeh. Oh iyaa Sa, si kembar udah di D.O tau. Soalnya kepsek jadi kebanjiran laporan gitu deeh tentang ulah-ulah si kembar. Jadi yaaa di D.O deeh. Kasian juga sebenernya. Oh iya, gimana kabarnya Dicky Sa? Sampein salam yah buat dia hihihi. Hampaa ih sehari gak ngeliat dia. Besok gue kerumah lo ya Sa. Kangen hehe. Dadaaaaah Haisa sayang :*
From : Chaca
+658021838737920
“Apaan sih nih anak malah nanyain kakak gue ckckck.” Guman Haisa sambil tersenyum tipis.
Sebenarnya, Haisa kaget mendengar berita kalau si kembar itu di D.O dari sekolah. Yaaa bagaimana pun juga, itu sebenarnya hanya iseng biasa. Tapi Haisa mendadak jadi sebal saat sadar akan masalahnya sendiri yang disebabkan oleh 2 orang pengacau itu. Rasa simpatinya hilang tiba-tiba. Tapi, besok Chaca akan kerumahnya? Asiiiiik itu hal yang sangat menggembirakan bagi Haisa. Dia akan menceritakan kejadian saat ia bertemu Ari hahaha. Menjadi tak sabar untuk besok hari.
Setelah bersiap akan tidur, tiba-tiba Haisa teringat akan kakak kesayangannya itu. Kemana sebenarnya dia? Kenapa sampai semalam ini dia belum pulang? Tidak seperti biasanya. Padahal Haisa ingin sekali menceritakan petualangan baru yang sudah dia alami hari ini. Haisa tersenyum karena teringat teman-teman barunya dan tentu saja karena Ari. Laki-laki macho yang menolongnya saat dia dicopet. Semuanya terasa begitu indah untuk diingat. Seperti cerita didalam dongen yg penh dengan khayalan. Saat akan memejamkan mata, terselip kata di doa Haisa, “Yaa Allah, pertemukan aku sama teman-temannku baruku lagi yah J”.
********************************
Ayam di jam weker Haisa berkokok cukup nyaring. Jarum pendeknya menunjukan angka jam 6 tepat. Setelah menggeliat cukup lama, Haisa pun beranjak dari tempat tidurnya dan langsung kekamar mandi untuk mencuci mukanya. Selesai mencuci muka, Haisa berniat untuk mengintip kamar kakaknya yg ada disebelah kamarnya. Dia ingin mengetahui apakah kakaknya ada didalam atau tidak. Pasalnya, tadi malam Haisa tidak mendengar suara apapun dari dalam kamar Dicky.
Ternyata Dicky berada dibalik selimutnya di atas tempat tidurnya. Lega rasanya melihat Dicky tidur nyenyak. Tetapi bukannya Dicky harus sekolah? Ah iyaa kali ini Haisa lupa bahwa sekarang adalah hari Minggu. Mengingat hal itu, Haisa tidak berniat untuk membangunkan Dicky apa lagi menggangunya. Dibiarkannya Dicky tertidur pulas pagi ini.
Dibawah, Bunda sudah standby di ruang tv sambil menemani Ayah minum kopi kesukaanya. Haisa pun langsung datang dan menyatu didalam kegiatan yang nyaman itu. Dia bersender di sova sambil ikut Bunda menonton acara tv yang sebenarnya tidak penting untuk ditonton. Eh tetapi sebentar, itu adalah acara berita terkini yang sedang membicarakan hasil UN SMP yang rata-rata nilainya memuaskan. Haisa jadi terpikirkan nilai Unnya. Pengumumannya masih 2 minggu lagi. Ah betapa lamanya ia harus menunggu.
Seharusnya Haisa tidak perlu terlalu khawatir karena sebenarnya ia sudah diterima di SMA Tanah Wibawa Bangsa. Salah satu SMA paling favorit yang ada di Jakarta. Dan Haisa termasuk orang yang beruntung bisa masuk SMA itu. Tapi entahlah ada saja yang membuat Haisa menjadi bergalau-galau ria.
Ditengah lamunannya itu, Ayah memecah pikirannya itu.
“De, coba itu ada tukang koran didepan. Ambilin korannya de tolong.” Ujar Ayah.
“Hah? Ayah langganan korang sekarang?’ Jawab Haisa sedikit kaget.
“Hehe iya dong. Udah sana ambilin mas-masnya nunggu juga.”
Sebenarnya Haisa kaget, karena Ayahnya tidak pernah berlangganan koran sebelumnya. Dan mungkin ini pertama kalinya Ayah berlangganan koran. Haisa berjalan pelan tapi pasti menuju gerbang rumahnya. Tukang koran itu sudah berteriak-teriak memberitahu bahwa sudah ada koran baru. Dari suaranya, sepertinya Haisa tak asing dengan suara itu. Seperti pernah didengarnya belum lama ini. Karena penasaran Haisa mempercepat langkahnya.
Saat membuka pintu...
“Mba maaf ini koran barunya.” Ujar tukang koran itu.
Betapa kagetnya Haisa melihat wajah orang itu. Orang yang kemarin membuatnya merasa bahagia.
“Ari !” Ucapnya kaget.
“Hah? Eeeeh Haisa. Kamu..... kamu yang punya rumah ini?” Jawab Ari yang ikut terkejut karena melihat Haisa.
Haisa yang ditanya, malah diam terpaku karena kaget tak menyangka.
*KEMBALI HENING
TO BE CONTINUE........
