ada banyak didunia ini yang mengalami perubahan.
dari awal semesta diciptakan Tuhan, perubahan telah diabadikan menjadi takdir terlebih dahulu.
takdir yang akan mengisi sekaligus mewarnai semesta.
begitu juga semesta kita masing-masing.
apa yang kita punya dan rasakan, akan berubah.
entah menjadi lebih baik atau buruk, tapi pasti akan berubah.
sekuat-kuatnya manusia pasti tak akan mampu menolak perubahan.
kadang, perubahan membuat kita sadar akan hidup walaupun sakit yang kita rasa terlebih dahulu.
kita sering berkata sesuatu akan berubah.
entah meninggalkan atau datang. semuanya tak semudah itu.
mungkin, proses perubahan akan menghasilkan air mata akhirnya.
batin yang merintih karena lukanya memerih akan membuat satu hal berubah. berbeda.
atau perubahan antara kita karena salah satunya hilang. apa ini ketakutan belaka?
kehilangan.
kadang sesuatu yang membuat kita merenung saat sepi datang.
apa yang kita lakukan bila ini telah berubah? siapkah? mengambil kembali atau diam?
kembali berbicara pada hati. perubahan mulai menghampiri.
Senin, 08 Desember 2014
Minggu, 03 Agustus 2014
Sebuah Buku
“Nya
sini nya!” teriak Raden saat melihat
kawan perempuannya memasuki kantin.
Kantin yang memiliki
spanduk “KANTIN SEHAT” terlihat ramai hari ini. Maklum saja hari ini hari
pertama masuk sekolah setelah libur semester selama 3 minggu. Kanya yang menyadari panggilan Andra langsung
menyusul dengan tampang riang.
“Kurusan lo, Ndra. Liburan
gimana?” Sapanya dengan memamerkan gigi kelinci miliknya.
“Gak bae’ gue. Liburan kurang
lama, Nya.” Jawab Raden pasrah.
“Ah boong. Gue liat di
path lo update sana sini.” Kanya mencela.
“Nah makanya itu gue
merasa kurang.”
“Bu indomie kari ayam
satu ya telornya dua gak pake lama.” Kanya berteriak memesan makanan pada ibu
kantin, menghiraukan orang disebelahnya.
Begitulah Kanya dan Andra. Sebuah perkenalan konyol yang
membuat mereka menjadi seperti ini. Bagaikan air dan api,tetapi juga seperti
gula dan kopi. Musuh yang sebenernya saling peduli dan sama-sama melengkapi. Kini
mereka berhadapan, sesekali sepasang mata yang sama-sama bertemu tapi langsung
dipalingkan, diarahkan kemana seharusnya kedua mata itu melihat.
***
15
Juni 2011....
Hari ini gue ketemu dia lagi setelah
3 minggu gak ketemu. Satu hal yang selalu gue kangenin dari dia, matanya. Iya matanya,
gue selalu pengen tau ada apa didalem matanya. Tapi gue terlalu payah buat
melihat lebih dekat. Kenapa ya gue selalu kaya gini. Kikuk kalo terlalu deket
sama dia.
Masih dalam senyum yang sama..
Masih dalam sinar mata yang sama..
Masih dalam orang yang sama..
Tadi dia mesen indomie. Seperti biasa
telornya dua. Suaranya bikin gue selalu pengen ngobrol sama dia. Ketawanya selalu
bikin gue pengen terus ada disampingnya.
Kanya, kenapa lo begitu sempurna
buat gue?
***
Pagi
ini terasa dingin. Berhubungan dengan hujan deras yang mengguyur kota
semalaman. Langit pun masih terlihat
mendung, mentari masih pelit untuk membagikan sinarnya. Angin pagi
menggoyangkan daun-daun pada pohon rindang depan pintu gerbang SMA Bumi Kartika.
Terlihat genangan air disebagian sisi lapangan upacara yang menambah suasana
semakin sejuk.
Byuuurrr........
satu motor kearah parkiran melintas disebelah Kanya dan mengenai genangan air
yang membuat rok seragamnya basah kuyup.
“Eh kampret lo punya mata gak sih? Kena rok gue
bangsat!” sesaat emosinya naik.
Melihat Kanya dari kejauhan, Andra bergegas
menghampiri.
“Lo kenapa Nya teriak teriak gitu kaya orang gila?”
Tanyanya heran.
“Lo liat nih rok gue.”
“Waduh. Lo lupa pake pembalut ya? Ko bocornya sampe
depan depan sih?”
“Tau ah!” Jawab Kanya ketus seraya berjalan meninggalkan
Andra dilapangan yang masih terheran-heran.
***
18
Juni 2011...
Melihat dirimu sepagi itu...
kupikir
ini adalah jawaban dari doa yang kupanjatkan semalam.
Tuhan menyayangiku.
Dia mengabulkan doaku. Menjawab semua
pertanyaanku.
Parasmu begitu indah.. membuat aku
semakin mengagumi sang Maha Kuasa..
Keindahan itu pula yang membuatku
tak tau apa yang terjadi padamu..
Balutan seragammu basah.. Dan kau
terlihat marah..
Apa yang terjadi? Kurasa aku
melewatkan sesuatu..
Tapi aku tak peduli. Yang kupikirkan
hanya satu..
Bagaimana bisa kau tau bahwa aku,
telah mengagumimu..
***
Air
mata membasahi pipinya. Terus mengalir hingga membuat matanya merah seolah akan
mengeluarkan darah. Langkah cepatnya membuatnya semakin berlari berharap menemukan
tempat yang akan membuatnya berhenti. Dan, ia berhenti.
Pojok
perpustakaan yang tak terurus membuatnya aman. Ia duduk kelelahan, mengatur
nafas dan menghapus air mata yang membasahi pipi bulatnya. Memejamkan mata
sejenak dan kembali mengingat apa yang tadi dilakukannya. Semuanya terlalu
cepat untuk terjadi. Sudah sejauh ini
dan ia tak siap.
“Kanya...” Andra masuk dan mendekat.
Namun Kanya masih menutup diri. Malu.
***
23
Agustus 2011....
Kenapa, Kanya?
Kenapa
lo lari?
Kenapa
lo sembunyi?
Kenapa
lo nangis?
Apa
lo merasa berdosa?
Kalo
lo merasa berdosa, gue yg harusnya Tuhan kutuk.
Demi
Tuhan, Kanya.
***
23
November 2011....
Tiga bulan..
Tiga
bulan tanpa kabar apapun. Tiga bulan gue selalu nunggu lo depan lapangan
sekolah.
Tiga
bulan gue nahan rindu buat lo. Tiga bulan, gue nyari lo. Tiga bulan, gaada tawa
yang ngebuat gue semangat buat sekolah.
Lo
kemana, Kanya? Beri gue petunjuk. Biar gue bisa disamping lo.
Kanya,
gue kangen sama lo.
***
17
Februari 2012....
Entah ini bulan keberapa gaada sosok
lo yang harusnya gue liat.
Sulit
buat bertahan kaya gini. Apa lo tau?
Kalo
diluar sana lo menderita, gue juga menderita.
Tapi
kalo disana lo seneng, gue tetep menderita disini tanpa lo.
Kanya,
lo dimana?
Gue
merasa buta.
***
Jarum
infus menusuk lengannya. Alat bantu pernafasan melingkar diwajahnya. Wajahnya pucat tanpa lipstik dan eyeliner
yang biasa iya gunakan. Suhu badannya kadang naik kadang turun. Tak menentu. Denyut
nadinya lemah hampir tak ada. Disampingnya, Andra menggenggam erat tangannya.
Andra
menahan air matanya. Perasaan bersalah menyelimuti dirinya. Jika saja waktu itu
ia tak melakukan hal itu, pastilah Kanya tak akan seperti ini. Terbaring tak
berdaya. Depresi berat yang dialami Kanya menentunnya pada ujung kematian. Untunglah
hanya ujung. Belum sampai pada kematian. Andra menyesali dirinya. Mengusap air
matanya, beranjak dari tempat duduknya dan pergi. Tinggallah kini suara tetesan
infus yang meramaikan.
***
2
April 2012....
Jadi ini jawaban dari semuanya? Lo hampir
mati.
Betapa
bodohnya gue gabisa tau apa yang ada dipikiran lo waktu itu.
Kanya,
kenapa lo berpikir untuk mati? Kenapa!!!??????
Apa
lo tau betapa tersiksanya gue!?
Ah
iya, lo pasti lebih tersiksa kan?
Kanya.............
gue ga bisa ngelindungin lo. Tuhan pantes ngutuk gue.
***
4
Juni 2012....
Jadi
ini akhirnya.
Tuhan
manggil lo. Gue marah! Marah sama Tuhan. Kenapa dia gak adil?
Kenapa
lo yg pulang? Sedangkan gue masih bisa nafas. Kenapa?
Kanya,
kenapa lo secepet ini ninggalin gue?
Kenapa
lo ga bilang sama gue kalo lo udah bosen hidup? Karna gue juga sama. Gue juga
bosen hidup kalo ga ada lo.
Kanya......
apa semua ini udah tinggal cerita?
Cerita
yang gue tulis dibuku ini? Apa hanya untuk gue? Apa gak bisa gue bagi ke lo?
Lo
ga sudi baca buku gue? Semua yang ada disini, semuanya lo.
Penuh
sama coretan nama lo. Tapi, lo....semu.
Besok,
pemakaman lo. Tempat lo balik ke tanah bumi. Tanah punya Tuhan.
Gue
yakin, Tuhan pasti menerima lo.
***
Tanah Kusir, 5 Juni 2012
Gundukan
tanah itu masih basah. Ini masih terlalu pagi untuk upacara pemakaman. Namun,
Kanya sudah berada dibawah sana. Dialam yang tak sama dengan manusia. Entah dimana
tapi yang pasti, Tuhan tau dimana. Ribuan tetes air mata mengantarkan
kepergiannya. Memanjatkan doa yang akan meluangkan alamnya, memberi cahaya
disana.
Orang
tua dan saudara mengiringi kepergian Kanya. Kematian tragis. Kanya tak mampu
lagi bertahan. Membuat semua orang merasa menyesal tak menjaganya. Disudut sebelah
sana, ada seseorang yang lebih terlihat menyesal. Matanya bengkak, pakaiannya
lusuh. Seolah tak bisa menerima kepulangan Kanya. Hingga ia tak sadar bahwa
seseorang mendekat.
“Lo Andra kan?” Tanyanya. Andra hanya melihat kaget
dan mengangguk lemas.
“Tolong lo simpen ini dikamar Kanya. Gue gaktau
rumahnya dimana tapi gue yakin lo pasti tau.” Ujarnya seraya memberikan
selembar kertas warna kuning pada Andra.
“Lo siapa?”giliran Andra yang bertanya.
“Gue, Januar.” Katanya sambil berjalan pergi
meninggalkan Andra yang terheran-heran. Dilihatnya kertas kuning itu,dan ia
mengejarnya.
***
Kertas
ini kuning.......
Sama
seperti jam yang selalu melingkar ditanganmu...
Yang
membuatku langsung terperangkap dalam pesonamu...
Kanya.....
Bidadari
yang selalu menghiasi pagi itu...
Kupikir
tuhan menyayangiku, namun kusalah.
Dia
mengambilmu. Membuatku menderita...
Tapi
Tuhan telat memberikan jawaban untukku..
Kamu.
Kamu
alasanku..
Alasanku
untuk terus berdoa pada-Nya.
Kau
tak pernah mengenaliku,tak tahu rupaku..
Apakah
itu penting untuk mencintai?
Aku
mencintaimu.
Aku
memilihmu... sejak Tuhan memperlihatkanmu padaku.
Namun
sayangku, kau tak pernah tau,
Bahwa
kau adalah pilihan.
Tunggu
aku. Aku kan menyusulmu.
Menemanimu
menjawab pertanyaan yang diajukan malaikat.
Aku
pulang. Bersamamu.
Langganan:
Postingan (Atom)
