Senin, 08 Desember 2014

Perubahan

ada banyak didunia ini yang mengalami perubahan.

dari awal semesta diciptakan Tuhan, perubahan telah diabadikan menjadi takdir terlebih dahulu.

takdir yang akan mengisi sekaligus mewarnai semesta.

begitu juga semesta kita masing-masing.

apa yang kita punya dan rasakan, akan berubah.

entah menjadi lebih baik atau buruk, tapi pasti akan berubah.

sekuat-kuatnya manusia pasti tak akan mampu menolak perubahan.


kadang, perubahan membuat kita sadar akan hidup walaupun sakit yang kita rasa terlebih dahulu.

kita sering berkata sesuatu akan berubah.

entah meninggalkan atau datang. semuanya tak semudah itu.


mungkin, proses perubahan akan menghasilkan air mata akhirnya.

batin yang merintih karena lukanya memerih akan membuat satu hal berubah. berbeda.


atau perubahan antara kita karena salah satunya hilang. apa ini ketakutan belaka?

kehilangan.

kadang sesuatu yang membuat kita merenung saat sepi datang.

apa yang kita lakukan bila ini telah berubah? siapkah? mengambil kembali atau diam?


kembali berbicara pada hati. perubahan mulai menghampiri.

Minggu, 03 Agustus 2014

Sebuah Buku

“Nya sini nya!” teriak  Raden saat melihat kawan perempuannya memasuki kantin.
Kantin yang memiliki spanduk “KANTIN SEHAT” terlihat ramai hari ini. Maklum saja hari ini hari pertama masuk sekolah setelah libur semester selama 3 minggu.  Kanya yang menyadari panggilan Andra langsung menyusul dengan tampang riang.
“Kurusan lo, Ndra. Liburan gimana?” Sapanya dengan memamerkan gigi kelinci miliknya.
“Gak bae’ gue. Liburan kurang lama, Nya.” Jawab Raden pasrah.
“Ah boong. Gue liat di path lo update sana sini.” Kanya mencela.
“Nah makanya itu gue merasa kurang.”
“Bu indomie kari ayam satu ya telornya dua gak pake lama.” Kanya berteriak memesan makanan pada ibu kantin, menghiraukan orang disebelahnya.
            Begitulah Kanya dan Andra. Sebuah perkenalan konyol yang membuat mereka menjadi seperti ini. Bagaikan air dan api,tetapi juga seperti gula dan kopi. Musuh yang sebenernya saling peduli dan sama-sama melengkapi. Kini mereka berhadapan, sesekali sepasang mata yang sama-sama bertemu tapi langsung dipalingkan, diarahkan kemana seharusnya kedua mata itu melihat.

***
15 Juni 2011....
Hari ini gue ketemu dia lagi setelah 3 minggu gak ketemu. Satu hal yang selalu gue kangenin dari dia, matanya. Iya matanya, gue selalu pengen tau ada apa didalem matanya. Tapi gue terlalu payah buat melihat lebih dekat. Kenapa ya gue selalu kaya gini. Kikuk kalo terlalu deket sama dia.
Masih dalam senyum yang sama..
Masih dalam sinar mata yang sama..
Masih dalam orang yang sama..
Tadi dia mesen indomie. Seperti biasa telornya dua. Suaranya bikin gue selalu pengen ngobrol sama dia. Ketawanya selalu bikin gue pengen terus ada disampingnya.
Kanya, kenapa lo begitu sempurna buat gue?

***
            Pagi ini terasa dingin. Berhubungan dengan hujan deras yang mengguyur kota semalaman.  Langit pun masih terlihat mendung, mentari masih pelit untuk membagikan sinarnya. Angin pagi menggoyangkan daun-daun pada pohon rindang depan pintu gerbang SMA Bumi Kartika. Terlihat genangan air disebagian sisi lapangan upacara yang menambah suasana semakin sejuk.
Byuuurrr........ satu motor kearah parkiran melintas disebelah Kanya dan mengenai genangan air yang membuat rok seragamnya basah kuyup.
“Eh kampret lo punya mata gak sih? Kena rok gue bangsat!” sesaat emosinya naik.
Melihat Kanya dari kejauhan, Andra bergegas menghampiri.
“Lo kenapa Nya teriak teriak gitu kaya orang gila?” Tanyanya heran.
“Lo liat nih rok gue.”
“Waduh. Lo lupa pake pembalut ya? Ko bocornya sampe depan depan sih?”
“Tau ah!” Jawab Kanya ketus seraya berjalan meninggalkan Andra dilapangan yang masih terheran-heran.

***
18 Juni 2011...
            Melihat dirimu sepagi itu...
kupikir ini adalah jawaban dari doa yang kupanjatkan semalam.
            Tuhan menyayangiku.
            Dia mengabulkan doaku. Menjawab semua pertanyaanku.
            Parasmu begitu indah.. membuat aku semakin mengagumi sang Maha Kuasa..
            Keindahan itu pula yang membuatku tak tau apa yang terjadi padamu..
            Balutan seragammu basah.. Dan kau terlihat marah..
            Apa yang terjadi? Kurasa aku melewatkan sesuatu..
            Tapi aku tak peduli. Yang kupikirkan hanya satu..
            Bagaimana bisa kau tau bahwa aku, telah mengagumimu..

***
            Air mata membasahi pipinya. Terus mengalir hingga membuat matanya merah seolah akan mengeluarkan darah. Langkah cepatnya membuatnya semakin berlari berharap menemukan tempat yang akan membuatnya berhenti. Dan, ia berhenti.
            Pojok perpustakaan yang tak terurus membuatnya aman. Ia duduk kelelahan, mengatur nafas dan menghapus air mata yang membasahi pipi bulatnya. Memejamkan mata sejenak dan kembali mengingat apa yang tadi dilakukannya. Semuanya terlalu cepat untuk terjadi.  Sudah sejauh ini dan ia tak siap.
“Kanya...” Andra masuk dan mendekat.
Namun Kanya masih menutup diri. Malu.

***
23 Agustus 2011....
            Kenapa, Kanya?
            Kenapa lo lari?
Kenapa lo sembunyi?
Kenapa lo nangis?
Apa lo merasa berdosa?
Kalo lo merasa berdosa, gue yg harusnya Tuhan kutuk.
Demi Tuhan, Kanya.

***
23 November 2011....
            Tiga bulan..
Tiga bulan tanpa kabar apapun. Tiga bulan gue selalu nunggu lo depan lapangan sekolah. 
Tiga bulan gue nahan rindu buat lo. Tiga bulan, gue nyari lo. Tiga bulan, gaada tawa yang ngebuat gue semangat buat sekolah.
Lo kemana, Kanya? Beri gue petunjuk. Biar gue bisa disamping lo.
Kanya, gue kangen sama lo.

***
17 Februari 2012....
            Entah ini bulan keberapa gaada sosok lo yang harusnya gue liat.
Sulit buat bertahan kaya gini. Apa lo tau?
Kalo diluar sana lo menderita, gue juga menderita.
Tapi kalo disana lo seneng, gue tetep menderita disini tanpa lo.
Kanya, lo dimana?
Gue merasa buta.

***
            Jarum infus menusuk lengannya. Alat bantu pernafasan melingkar diwajahnya.  Wajahnya pucat tanpa lipstik dan eyeliner yang biasa iya gunakan. Suhu badannya kadang naik kadang turun. Tak menentu. Denyut nadinya lemah hampir tak ada. Disampingnya, Andra menggenggam erat tangannya.
            Andra menahan air matanya. Perasaan bersalah menyelimuti dirinya. Jika saja waktu itu ia tak melakukan hal itu, pastilah Kanya tak akan seperti ini. Terbaring tak berdaya. Depresi berat yang dialami Kanya menentunnya pada ujung kematian. Untunglah hanya ujung. Belum sampai pada kematian. Andra menyesali dirinya. Mengusap air matanya, beranjak dari tempat duduknya dan pergi. Tinggallah kini suara tetesan infus yang meramaikan.

***
2 April 2012....
            Jadi ini jawaban dari semuanya? Lo hampir mati.
Betapa bodohnya gue gabisa tau apa yang ada dipikiran lo waktu itu.
Kanya, kenapa lo berpikir untuk mati? Kenapa!!!??????
Apa lo tau betapa tersiksanya gue!?
Ah iya, lo pasti lebih tersiksa kan?
Kanya............. gue ga bisa ngelindungin lo. Tuhan pantes ngutuk gue.

***

4 Juni 2012....
Jadi ini akhirnya.
Tuhan manggil lo. Gue marah! Marah sama Tuhan. Kenapa dia gak adil?
Kenapa lo yg pulang? Sedangkan gue masih bisa nafas. Kenapa?
Kanya, kenapa lo secepet ini ninggalin gue?
Kenapa lo ga bilang sama gue kalo lo udah bosen hidup? Karna gue juga sama. Gue juga bosen hidup kalo ga ada lo.
Kanya...... apa semua ini udah tinggal cerita?
Cerita yang gue tulis dibuku ini? Apa hanya untuk gue? Apa gak bisa gue bagi ke lo?
Lo ga sudi baca buku gue? Semua yang ada disini, semuanya lo.
Penuh sama coretan nama lo. Tapi, lo....semu.
Besok, pemakaman lo. Tempat lo balik ke tanah bumi. Tanah punya Tuhan.
Gue yakin, Tuhan pasti menerima lo.

***
Tanah Kusir, 5 Juni 2012
            Gundukan tanah itu masih basah. Ini masih terlalu pagi untuk upacara pemakaman. Namun, Kanya sudah berada dibawah sana. Dialam yang tak sama dengan manusia. Entah dimana tapi yang pasti, Tuhan tau dimana. Ribuan tetes air mata mengantarkan kepergiannya. Memanjatkan doa yang akan meluangkan alamnya, memberi cahaya disana.
            Orang tua dan saudara mengiringi kepergian Kanya. Kematian tragis. Kanya tak mampu lagi bertahan. Membuat semua orang merasa menyesal tak menjaganya. Disudut sebelah sana, ada seseorang yang lebih terlihat menyesal. Matanya bengkak, pakaiannya lusuh. Seolah tak bisa menerima kepulangan Kanya. Hingga ia tak sadar bahwa seseorang mendekat.
“Lo Andra kan?” Tanyanya. Andra hanya melihat kaget dan mengangguk lemas.
“Tolong lo simpen ini dikamar Kanya. Gue gaktau rumahnya dimana tapi gue yakin lo pasti tau.” Ujarnya seraya memberikan selembar kertas warna kuning pada Andra.
“Lo siapa?”giliran Andra yang bertanya.
“Gue, Januar.” Katanya sambil berjalan pergi meninggalkan Andra yang terheran-heran. Dilihatnya kertas kuning itu,dan ia mengejarnya.

***
Kertas ini kuning.......
Sama seperti jam yang selalu melingkar ditanganmu...
Yang membuatku langsung terperangkap dalam pesonamu...
Kanya.....
Bidadari yang selalu menghiasi pagi itu...
Kupikir tuhan menyayangiku, namun kusalah.
Dia mengambilmu. Membuatku menderita...
Tapi Tuhan telat memberikan jawaban untukku..
Kamu.
Kamu alasanku..
Alasanku untuk terus berdoa pada-Nya.
Kau tak pernah mengenaliku,tak tahu rupaku..
Apakah itu penting untuk mencintai?
Aku mencintaimu.
Aku memilihmu... sejak Tuhan memperlihatkanmu padaku.
Namun sayangku, kau tak pernah tau,
Bahwa kau adalah pilihan.
Tunggu aku. Aku kan menyusulmu.
Menemanimu menjawab pertanyaan yang diajukan malaikat.

Aku pulang. Bersamamu.