Ketika hati kita menjerit saat melihat luka milik orang lain. Dalam hati ini meronta-ronta perih melihat tiap tetes air mata dipipinya. Mengapa engkau begitu tega, tuan? Menghancurkan segala pengharapan dan semua rasa yang harusnya selalu untukmu. Asal kau tahu saja, aku sangat menghormatimu dengan segala cinta milikku. Aku yang benar-benar ingin menjadi yang terbaik dimatamu agar bisa kau banggakan selalu hingga kebanggaan itu kau ingat hingga diakhirat.
Namun kini kau goreskan luka padahal luka yang lama belum sepenuhnya pulih. Bukan luka untukku, bukan. Luka itu milik orang lain namun sakitnya sangat terasa didadaku. Kurangkah aku dalam memenuhi baktiku. Hingga kau sampai hati memberi semua ini. Tuan, selama ini aku menganggapmu sempurna, aku membanggakan dirimu dihadapan mereka. Cukup untuk kau tahu saja.
Aku menutup mata atas semuanya yang mungkin akan menjadi karmaku dihari esok. Aku bersedia untuk selalu baik-baik saja, Aku siap untuk menerima semua hukuman itu demi mampu mendapat ridhomu yang akan menerangkanku nanti. Aku rela dan ikhlas untukmu. Namun, apakah tuan ingin cepat-cepat aku merasakan semua hukuman itu? Karena jika sekarang tentulah aku belum siap.
Tuan, kumohon hentikan saja semua ini. Jangan berikan luka yang lebih banyak lagi. Karena aku sudah tidak sanggup menutup mataku. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi karena semuanya muncul dihadapanku secara jelas dan sangat dekat. Tuan, aku tidak sanggup untuk baik-baik saja jika tuan terus memberi sakit dan sakit.
Lalu jika begini aku salahkan siapa, tuan? menyalahkan segala ucapanmukah? rasanya semua ini lebih dari sekedar kata-kata.
Sadarlah tuan, aku sudah dewasa. Hukuman dalam hidup ini sudah berlaku juga untukku. Jangan biarkan aku ketakutan dengan guratan takdir yang sudah jelas itu. Hentikanlah sekali lagi hentikan.
Aku tidak akan pergi. tidak akan.
Aku akan menemanimu karena cinta ini memang yang seharusnya abadi.
