Sabtu, 24 September 2011

Hitam-Putihnya Haisa Part III




                Ditengah kegalauan itu, sebenarnya Haisa merasa senang karena mungkin baru pertama kali ia merasakan rasa yang sangat asing yang tumbuh di hati lembutnya. Bayangan laki-laki pembawa koran itu masih memenuhi pikiran Haisa sampai akhirnya Haisa tertidur dengan senyuman mungil penuh makna di wajahnya charmingnya itu.


            “Loh gue dimana nih?” Haisa tiba di tempat yang sangat asing baginya.
Tempat yang sebenarnya sangat indah dan cukup membuat Haisa berdecak kagum. Haisa terus berjalan di tempat yang belum pernah di kunjungi sebelumnya. Sambil berjalan, Haisa tetap was-was dan memerhatikan sekelilingnya.
“ Bundaaaa.... Ayaaaaaaahh..... Dickyyyyyyyyyyyyyy......” teriak Haisa memanggil ayah-bundanya.
Dalam hati Haisa takut pada tempat asing ini. Akhirnya dia memilih untuk duduk disebuah Taman yang dihiasi bunga-bunga cantik. Setelah lama berdiam diri Haisa menundukan kepala dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menangis karena ketakutan. Dia tidak tahu ini tempat apa, dimana, dan kenapa dia tiba-tiba bisa berada disini.
            Ditengah tangisnya, tiba-tiba Haisa merasa ada seseorang yang duduk disebelahnya. Pelan-pelan tapi pasti Haisa melepas tangan dari wajahnya dan menoleh ke sebelah dengan hati-hati. Dan siapaa yang sangka bila yang duduk disebelahnya adalah laki-laki pembawa koran yang menolongnya kemarin. Ooooh apakah ini mimpi atau hanya khayalan. Entahlah yang jelas saat ini Haisa merasa batinnya menjadi lebih tenang.
“Gak’ usah nangis. Ada aku kok disini yang temenin kamu.” Ucap laki-laki itu.
Haisa yang mendengarnya hanya  bisa tersenyum tanpa mampu berucap apa-apa lagi. Jujur, ia merasa sangat gugup akan kehadiran laki-laki itu yang sekarang sedang duduk disebelahnya. Setelah berdiam cukup lama barulah Haisa berani berbicara.
“Mmmmmm nama kamu siapa? Pas kita ketemu kemarin, aku lupa nanya nama.”
“Nama aku A......rr.....i..i.i.i.i.i.iiiiiii.” Jawab laki-laki itu pelan.
“Hah siapaa? Sorry gak jelas.”
“A.........rr........iii” Jawab laki-laki itu semakin pelan dan seperti semakin jauh.
Haisa merasa suara laki-laki itu semakin samar dan makin jauh. Semua pandangannya kabur dan gelap.

            “Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing........” Weker berbunyi.
Karena suara jam weker yang kencang, Haisa perlahan membuka matanya. Dan setelah dia lihat sekeliling, oh ternyata dia masih didalam kamarnya yang nyaman. Tiba-tiba Haisa teringat kejadian dimana ia menangis dan datanglah laki-laki pembawa koran itu.
“Ari? Namanya Ari? Ah apasih gue itu kan Cuma mimpi biasa.” Guman Haisa.
Setengah malas Haisa beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas mandi eits tetapi sebentar, bukankah Haisa di skors selama seminggu? Oooh yaa benar Haisa ingat akan hal itu.  Karena itulah Haisa memutuskan untuk tidak langsung mandi dan bergegas menuju ruang makan dengan masih mengenakan piama favoritnya.
            Dari meja makan Bunda sudah teriak menyapa Haisa.
“Hai sayaaaaang. Gimana tidurnya nyenyak gak?” Bunda berbasa-basi.
“Rada galau Nda.” Jawab Haisa sekenannya.
Mendengar jawaban Haisa, bunda sedikit cemas pada putri satu-satunya itu. Bagaimana tidak? Anaknya sedang dihadapi masalah yang sebenarnya spele tapi cukup rumit.
“Kamu mau selai apa? Strawberry atau kacang?” Bunda menawarkan jasanya.
“Mmmmm selai saos cabe ajah deh Nda kalo bisa.” Lagi-lagi Haisa menjawab dengan asal.
“Eh lu tuh kenapa sih Sa? Sakit bukan? Bunda nawarin baik-baik juga.” Bentak Dicky sedikit emosi.
“Apa sih lu Dick !? gue juga Cuma bercanda kali.” Haisa membela diri.
“Eh kok malah jadi pada debat sih anak Ayah nih. Udah buruan makan. Dicky nanti kamu telat loh.” Ayah ambil bagian kali ini untuk melerai mereka.
            Acara sarapan pagi kali ini cukup membuat Haisa badmood. Entah kenapa semenjak masalah ini muncul, Haisa menjadi sedikit sensi dan mudah tersinggung lalu marah. Setelah selesai sarapan Haisa memutuskan untuk mandi. Saat sampai dikamar, handphone bergetar pertanda ada satu sms masuk. Awalnya Haisa mengira sms itu dari Chaca tetapi perkiraannya salah total. Sms itu dari Anto. Anto? sejak kapan Haisa menyimpan nomor si pembawa sial itu? Ah sudahlah. Sebenarnya Haisa tidak berminat sama sekali untuk membuka pesan itu, tapi karena ia ingin tau apakah Anto di skors atau tidak, ia memutuskan untuk membuka dan membaca pesan itu.
Hai Haisa sayang J selamaaaaat pagi putriku. Cuma mau ngasih tau aja nih, berhubung seminggu ini kita sama2 diskors, gue pengen ngajak lo ke vila gue yang di puncak. Mau gak say? Sama orangtua gue juga kok. Ikut yah yah yah yah yah?
From : Anto
           +6286453827538207
“ Ih gila apa yaah ini orang? Orang mah merenung pas di skros ini malah jalan-jalan. Dasaaar gokil !” Komentar Haisa setelah membaca pesan dari Anto.
Karena khawatir akan muntah bila ia membalas pesan itu, Haisa memutuskan untuk langsung mandi.
            Setelah selesai mandi dan ganti baju, Haisa keluar kamar untuk melihat aktivitas Bundanya di bawah. Cukup lama mencari Bundanya itu, akhirnya berhasil juga ditemukan di Ruang Keluarga. Oh ternyata Bunda sedang merangkai bunga sambil bersenandung. Bunda memang memiliki suara yang merdu, tak kalah jika dibandingkan dengan Trio Diva. Haisa langsung memilih duduk disebelah Bunda sambil bersandar dibahu Bundanya itu. Sepertinya Bunda sangat merasakan perasaan risau dan gelisah Haisa dan Bunda dapat mengerti itu. Sesekali Haisa memperhatikan cara tangan Bunda dengan cekatan merangkai bunga-bunga dan memasukannya kedalam vas mungil nan cantik. Bunda membiarkan putrinya itu bermanja di bahunya karena Bunda tau, Haisa sedang membutuhkan itu. Yaaa perhatian yang lebih untuk saat ini. Sambil mendengar Bunda bersenandung, Haisa menjadi mengantuk dan akhirnya terlelap di ruang keluarga. Bersama Bunda yang menemaninya.
            Haisa terbangun saat dikagetkan dengan suara televisi yang cukup keras yang dinyalakan Dicky.
“Aduuuh lo kok iseng banget sih dick ! udah tau ada orang tidur.” Komentar Haisa.
“Yeee siapa suruh tidur disini. Orang mah tidur teh di kamar.” Jawab Dicky tak mau kalah.
“Isssh resee -___-!” Balas Haisa yang akhirnya pergi.
Haisa berniat untuk mencari bundanya lagi tetapi kali ini tidak dapat ia temukan. Akhirnya Haisa memutuskan untuk berjalan-jalan sore sebentar di taman kompleks rumahnya. Siapa tau disana ia dapat mendapatkan inspirasi untuk syair puisinya.
            Sesampainya ditaman, Haisa memilih tempat didepan air mancur yang sebenarnya sudah tidak mancur lagi. Suasana seperti ini cocok untuk mencari inspirasi syair puisinya. Banyak ibu dan anak sedang berjalan-jalan dan ada juga remaja seumur Haisa yang sedang bermain Basket. Melihat pemandagan itu semua Haisa seperti mendapat semangat baru yang ada dalam dirinya. Dengan cepat ia langsung menulis syair untuk puisinya.

Sedihku..... Lukaku.....
Dan Deritaku......
Tak lagi menguasi batin putihku.....
Cacian..... Hinaan....
Serta Kebencian......
Berubah menjadi kedamaian.....
Biar saja kau pergi.....
Tinggalkan aku disini.......
Kan kuhadapi pagi, dengan setitik rasa riang dihati.....
Kegundahan ku bakaaar.....
Menjadi pribadi yang sadar....
Seperti mawar, yang kembali mekar.......

Itulah yang dituliskan Haisa dalam buku catatan koleksi puisinya. Haisa merasa ini puisi terbaik dan setulus yang pernah ia buat. Timbul senyum mempesona dari wajah cantik Haisa yang sudah jarang melengkung. Andai saja Bunda melihat Haisa tersenyum seperti ini, pasti akan lega perasaan Bundanya.
            Samar-samar Haisa mendengar suara sekumpulan anak yang sedang bernyanyi dengan diiringi alunan suara gitar. Terdengar dari suaranya mereka semua bernyanyi dengan riang seperti tanpa ada beban. Karena Haisa sedikit mempunyai jiwa petualang, Haisa mengikuti suara itu agar tau darimanakah sumber suara itu berasal. Setelah cukup lama mencari jejak suara, dilihatnya sekumpulan anak berbaju sedikit “tidak rapi” dan kumal serta ada satu laki-laki yang umurnya sekitar 16 tahunan. Karena penasaran, Haisa menghampiri segerombolan orang-orang mengasyikan itu.
            Semakin dekat dan dekat, Haisa seperti mengenali wajah laki-laki itu. Haisa terus mendekat dan akhirnya yaa Haisa yakn bahwa laki-laki itu lah yang menolongnya kemarin. Laki-laki pembawa koran yang sekarang sedang memainkan gitar untuk anak-anak yang sedikit malang. Entah kenapa, dada Haisa terasa sedikit sesak dan sedikit gemeteran. Mungkin karena Haisa mengingat mimpi yang dialaminya semalam. Dia mengatakan namanya adalah Ari. Tapi apakah betul? Ah satu-satunya cara untuk menngetahui kebenerannya adalah bertanya. Apakah Haisa berani unntuk bertanya? Bagaimana caranya? Apakah nanti laki-laki itu mengenali wajahnya? Ah tapi Haisa harus berani bertanya dan berbicara lagi pada laki-laki itu. Laki-laki pertama yang membuatnya menjadi susah tidur dan gembira disaat membayangkan wajahnya. Akhirnya dengan segenap keberanian Haisa berucap...
“Eh sorry nih yaaah ganggu kalian hehehe.” Haisa tiba-tiba muncul.
Saat menyadari Haisa berbicara, sontak mereka semua berhenti bernyanyi. Laki-laki itu pun cukup heran.
“eh iyaa ada apa yaah?” Jawab laki-laki itu.
Saat menoleh kearah Haisa, terlihat muka kaget dan sedikit menjadi salah tingkah saat mengetahui yang bertanya adalah perempuan yang ditolongnya waktu itu.
“Eh kamu kan yang waktu dicopet yaaah?” Tanyanya salah tingkah.
“Hehehe iyaaaa.” Jawab Haisa sambil memamerkan nyengir kudanya.
“Ada apaan emangnya? Kok bisa kebetulan ketemu.”
“Mmmmmh eh itu tadi suara kamu sama mereka kedengeran, aku penasaran yaudah aku ikutin ajah suaranya. Eh ternyata kamu hehe.” Jelas Haisa.
“Emangnya ada apa?”
“Mmmmh nama kamu, Ari bukan?’” Tanya Haisa tiba-tiba.
Pertanyaan Haisa cukup membuat semua yang ada disana menjadi keheranan dan terjadi keheningan yang cukup lamaa.
*HENING*



TO BE CONTINUE..........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar