Kamis, 15 September 2011

Hitam-Putihnya Haisa ----> PART II


..................................................................................................................................................................

                “Tuh kan To ini tuh gara-gara lu tau !” Haisa sontak menjadi marah karena kebingungan.
“Loh kok karena gue?” jawab Anto keheranan.
“Yaiyalaaah karena lo. Kalo lo gak mengangin tangan gue kan gue jadi gak muntah terus bisa langsung pulang. Dan gak’ bakal ada si dua pengacau itu.” Jelas Haisa panjang lebar.
“Ih elunya aja yang gak mau diajak pulang sama gue. Malah bacot-bacotan dulu.” Anto tak mau kalah.
“-____- Terserah lo deh ah. Gue itu benci sama lo tau gak’ ! benci sebenci-bencinya.” Teriak Haisa dan langsung meninggalkan Anto sendirian yang masih berlumuran muntahan dibaju seragamnya.
Haisa pulang dengan perasaan kesal dihatinya. Kenapa dia mesti sesial ini, kenapa dia harus menerima kenyataan bahwa dia satu sekolah dengan Anto, monster mengerikan yang menjadi mimpi buruk dalam hidupnya. Tak terasa sambil menuju gerbang sekolah, Haisa meneteskan air matanya. Dia tidak mau berlama-lama disekolah, Haisa pun menelepon pak Jono untuk segera menjemputnya.
            Sesampainya di Rumah..................
            Haisa langsung lari kekamar dan mengunci pintu kamarnya itu, khawatir bila nanti tiba-tiba Dicky dengan enaknya masuk kamar dan melihat mata sembabnya itu dan pasti langsung meledek adik satu-satunya itu. Setelah mengganti pakaiannya, Haisa membereskan isi tasnya dan berniat untuk langsung belajar.
            Malam harinya, Haisa sangat malas keluar kamar untuk makan malam padahal dari luar Bunda sudah teriak-teriak menyuruhnya untuk makan. Bukannya keluar kamar, Haisa malah membanting dirinya ke tempat tidur yang empuk. Dia kebingungan dalam hal ini. Besok pasti berita “Haisa dan Anto berdua-duan disekolah pas’ pulang sekolah dan Haisa muntah” ah itu berita yang sangat memuakkan. Bagaimana bila si kembar ini membuat berita yang mengada-ada. Hanya itu yang ada dipikiran Haisa saat ini. Huh malas rasanya untuk kesekolah besok.
“Besok pasti Chaca langsung minta penjelasan tentang berita yang ada di mading. Uhh bete bete bete bete. Anto ngeselin’ !! aaaaaaah ! jadi apa gue besok!!?” guman Haisa dalam hati.
Tak terasa setelah lama bergalau-galau ria, Haisa tertidur pulas ditempat tidurnya yang sangat nyaman.
            Dipagi hari Haisa terbangun dengan rasa lapar yang amat sangat. Jelas saja dia merasa lapar, karena malamnya dia tidak makan sedikit pun. Setelah lama melamun, Haisa langsung bergegas mandi dan siap-siap untuk berangkat sekolah. Saat sedang merapikan bajunya, dia teringat kembali dengan masalah baru yang menimpa hidupnya. Haisa bingung harus melakukan apa. Apakah dia harus berpura-pura sakit agar diziinkan Bunda untuk tidak sekolah? Tapi bukankah itu namanya lari dari masalah? Dan bukannya lari dari masalah itu malah tambah membuat kacau keadaan. Ah sudahlaah Haisa memutuskan untuk tetap berangkat kesekolah apapun yang terjadi ! titik !
            Khusus untuk hari ini Haisa berangkat sekolah bersama dengan Dicky naik motor. Saat dijalan tiba-tiba diotak Haisa muncul ide yang lumayan brilian untuk menyelamatkannya hari ini dari tatapan-tatapan mata sinis yang akan menyambutnya nanti saat datang di Sekolah.
“Eh Dicky, nanti anterin gue sampe kelas yaah.” Ujar Haisa tiba-tiba.
“Emangnya ada apaan Sa? Gak’ biasanya lu minta anter sampe kelas haha.” Jawab Dicky sedikit heran.
“Soalnya gue ada problem lah dikit hehe. Ya ya ya? Anterin yaaa? Lo kan pangeran Harapan Periwi, jadi yaaah bisa lah tebar pesona dikit buat ngalihin tatapan anak-anak nanti.”
“mmmhh oke deh :D sekalian buat nyari cewek hahaha.” Tawa Dicky menggelegar.
            Setelah sampai di Sekolah, benar saja saat Haisa baru turun dari motor semua tatapan menuju padanya. Haisa jadi semakin paranoid, apa yang telah diberitakan si kembar itu. Untung saja ada Dicky, jadi dia bisa mengumpat disamping badan Dicky. Dan benar sajaa ide Haisa ternyata berhasil. Tatapan menjadi ke Dicky semua. Alhamdulillah hehe. Untungnya hari ini Dicky sedang berbaik hati untuk menolongnya.
            Ternyata di Kelas Chaca telah menunggunya dari tadi dengan memasang wajah horror. Saat Haisa masuk kelas Chaca langsung menyambutnya dengan teriakan yang cukup nyaring.
“HAISAAAAAAAAAAA !!!!” Panggil Chaca.
 Haisa sangat kaget mendengar teriakan Chaca yang nyaring, sampai membuatnya hampir meloncat.
“apaan Ca?” Jawab Haisa sekenannya.
“Gue butuh klarifikasi dari lo. Lo kok gak’ bilang-bilang sih kalo lo ada main sama Anto?” Todong Chaca tanpa ampun.
“Cuma gosip Ca. Gak usah dipikirin. Kan lo tau kalo gue benci sama dia.”
“Tapi gak’ mungkin kalo Cuma gosip. Orang ada fotonya lo berduan sama dia dikoridor. Terus si Anto megang tangan lo, terus lonya muntah lagi.”
Setelah menarik nafas panjang, Haisa langsung menjelaskan kejadian kemarin dengan sejujurnya pada Chaca. Mendengar penjelasan Haisa, sepertinya Chaca mengerti dan langsung kelihatan sedang berpikir.
“Lo bakal mampus Sa.” Ucapnya tiba-tiba.
“Mampus kenapa emangnnya? Kan gue udah jelasin ke lo yang sebenernya.” Kata Haisa.
“ Yaaa itu gue percaya kok sama lo. Tapi yang lain?”
“Yaelah Ca, emangnya yang lain peduli? Paling Cuma gosip bentaran doang hehe.” Jawab Haisa santai.
“Si kembar nulis beritanya kalo lo itu.... mmmmmh hamil Sa.” Jelas Chaca pelan.
“APAAAAAAAAAAA !!?” Haisa sangat kaget dan langsung menangis tanpa ditahan.
“Chaca, lo harus percaya kalo gue gak’ kayak gitu Ca huhuhu. Lo kan tau kalo gue emang alergi susu. Terus gue harus gimana Ca? Gue gak’ tau harus gimana huhuhu.” Lanjut Haisa sambil menangis.
“Bentar lagi lo dipanggil sama Kepsek Sa. Katanya hukumannya kalo gak’ dikeluarin dari sekolah, lo di skors. Lo harus jelasin yang sebenernya ke Kepsek.”
“Di D.O ? di skors? Tapi kenapa mesti gue yang dihukum. Harusnya kan si Kembar sialan itu huhuhu.”
“sabaar ajaa yaah Sa. Gue ada disamping lo kok. Nanti gue bantu sebisa gue yaaah.” Hibur Chaca.
            Mendengar hal itu, Haisa nyaris pingsan tapi ia berusaha untuk tetap bisa sadar. Tak lama setelah itu, guru pelajaran pertama pun masuk karena bel memang sudah berbunyi dari tadi. Selama pelajaran berlangsung Haisa mencoba untuk tetap fokus pada pelajaran, ia tidak mau prestasinya menurun hanya karena masalah tak berbobot seperti ini. Tapi sialnya, guru itu seperti tidak menganggap kehadiran Haisa. Terlihat pada saat mengabsen, nama Haisa tidak disebutkan, lalu saat Haisa mengacungkan tangannya untuk bertanya, tidak dihiraukan sama sekali. Ah sialnya Haisa saat ini. Akhirnya setelah lama mengoceh, jam pelajaran pertama telah usai. Tiba-tiba pak guru itu berbicara pada Haisa dengan pelan. Katanya Haisa harus menghadap Kepsek diruangannya sekarang.
            Ruangan Kepsek sudah ada di depan mata. Haisa hanya tinggal mengetuk pintu dan masuk saja, tetapi Haisa memilih untuk diam sejenak dan menarik nafas panjang. Setelah menyiapkan mental cukup lama, Haisa mengetuk pintu dengan tidak bergairah.
“tok tok tok....”
“yaaa masuk.” Kepela Sekolah menyaut.
“Ini saya pak, Haisa Paramytha.” Ucap Haisa sopan.
“Oh kamu, masuk nak. Silahkan duduk disini.” Jawabnya lembut.
Entah kenapa Haisa merasa bahwa Bapak Kepala Sekolah memang lembut. Tidak seperti yang anak-anak bilang bahwa katanya Kepala Sekolah itu galak lah,  killer lah, banyak lah. Tapi sekarang Haisa melihatnya lain. Kepala Sekolah terlihat sangat baik dan lembut, tatapannya juga hangat. Perasaan takut Haisa itu hilang sementara.
“Jadi, apa yang saya dengar itu benar atau salah Nak?” Ujarnya membuka pembicaraan.
“Tentu saja salah pak. Saya tidak mungkin se-murahan itu.” Jawab Haisa menahan tangis.
“Coba jelaskan bagaimana cerita yang sebenernya. Tahan dulu air matamu.”
Haisa langsung menjelaskan semuanya secara lengkap dan tidak ada yang ketinggalan. Ia pun menceritkan bahwa Anto itu sudah lama jadi penggemarnya tapi Haisa sendiri jijik dengan apa yang selalu dilakukan Anto. Tak lupa juga dia ceritakan bahwa memang si Kembar itu senang mencari gosip-gosip yang kebenerannya tidak ada sama sekali. Mendengar penjelasan Haisa, Kepala Sekolah sepertinya berusaha mencerna perkataannya tadi. Dia terlihat sedang berpikir. Dan setelah lama hening, dia munyuruh Haisa untuk segera ke meja piket dan mengambil surat kerangan bahwa dia diskors.
“Apaaa pak? Kenapa saya harus diskors?  Saya gak’ salah pak.” Komentar Haisa.
“saya mengungkapkan kebenaran disini, dan untuk itu saya menyuruh kamu skors untuk bisa membantumu agar kamu bisa istirahat dirumah.” Jelas pak Kepsek.
“Tapi kenapa mesti skors? 7 hari lagi. Saya gak mau nilai pelajaran saya turun pak.”
“ikuti saja apa kata saya. sekarang kamu keluar dan langsung ambil suratnya dan langsung pulang.” Katanya kemudian.
            Perasaan Haisa seperti tercabik-cabik saat ini. Ia tidak tahu akan menyalahkan siapa. Yang pasti dia tahu, bahwa dia benci Anto. sangat Membenci Anto. setelah mengambil surat keterangan, dia langsung mengambil tasnya dikelas dan langsung pergi begitu saja. Meninggalkan Chaca yang keheranan, sendirian dibangkunya selama satu minggu. Haisa membuat pertanyaan di otak teman-temannya semua tapi Haisa tidak lagi memperdulikan hal itu. Dia hanya memikirkan dirinya saja untuk saat ini. Apa yang akan dia katakan pada Bunda dan Ayah nanti.
            Haisa memutuskan untuk menghubungi Dicky, tetapi yang diharapkan sia-sia. Dicky tidak membalas sms dan tidak mengangkat telepon, mungkin sedang belajar. Dengan berat hati Haisa mengangkat kakinya untuk segera keluar dari kawasan Harapan Pertiwi. Saat keluar gerbang, dia sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan satpam yang keheranan. Haisa tidak peduli akan hal itu. Tapi satu pertanyaan muncul dibenaknya. Apakah Anto juga di skors? Kenapa dia tidak melihatnya? Ah sudahlah Haisa tidak peduli.
            Selama menunggu di halte bis, Haisa selalu memegang Handphonenya itu. Dia menunggu balasan sms dari Dicky. Tapi yang ditunggu malah tidak membalas apapun. Haisa melamun sambil memegang hp di tangannya.
            Dari jauh seseorang memerhatikan Haisa dengan seksama. Pelan-pelan semakin lama semakin dekat dan dekat. Seorang laki-laki berpakaian acak-acakan, rambut berwarna kuning menyilaukan, memakai celana di bawah pinggul hingga terlihat boxernya. Lekaki itu mulai memperhatikan sekelilingnya. Mulai mengumpat mendekati Haisa. Tiba-tiba
“AH COPEEEEEEEEEET COPET TOLONG-TOLONG !! TOLONG HANDPHONE SAYA DICOPET !” Haisa berteriak berharap ada seseorang yang menolongnya.
Haisa pun mengejar copet itu. Mengejar lumayan jauh. Haisa terus berlari karena sialnya tidak ada yang menolongnya. Tetapi setelah lama bermain kejar-kejaran dengan si copet akhirnya ada juga laki-laki pembawa koran yang melihat Haisa berlari dan langsung ikut mengejar copet itu. Sampai akhirnya setelah lama berlari, si laki-laki itu berhasil mencegat dan memalak kembali hp Haisa. Saat melihat laki-laki itu, si copet kaget dan terlihat ketakutan. Copet itu pun tanpa ragu-ragu langsung memberi hp Haisa. Haisa yang melihat kejadian itu jelas langsung terkesima dengan perbuatan laki-laki itu.
“Nih hp lo.” Laki-laki itu mengangetkan Haisa.
“Hah eh iyaa makasih yaah.” Jawab Haisa gagap
“Ya sama-sama. Lain kali hati-hati yaaaah.”
“iya pasti hehehe.”
“okeh. Gue cabut duluan yah.” Katanya sambil meninggalkan Haisa sendiri di jalan raya.
Kepergian si laki-laki itu membuat Haisa merasakan sesuatu. Sesuatu yang tak pernah Haisa rasakan sebelumnya. Haisa pun memutuskan untuk segera pulang kerumah dan menceritakan yang telah dialaminya hari ini pada bunda. Haisa yakin, Bunda akan mengerti dirinya.
            Siang telah berganti malam. Malam ini mungkin malam yang buruk bagi Haisa karena lagi-lagi dia bingung harus berbuat apa. Besok ia tidak kesekolah, ia akan dirumah seharian bersama bunda, bi Nana, dan Hucy burung kesayangannya. Tapi dia bersyukur karena Bunda dan ayah dapat mengerti dan tak henti-henti memberi semangat pada Haisa. Oh beruntung menjadi Haisa. Beruntung? Tidak untuk masalah ini. Haisa memikiran apa yang sebenernya tidak perlu untuk dipikirkan. Ditengah-tengah kegalauan itu, tiba-tiba terselip ingatan tentang laki-laki yang menolongnya tadi siang. Laki-laki macho, baik hati dan lumayan ganteng itu membuat Haisa terus tersenyum memikirkannya. Haisa berharap dirinya dapat bertemu kembali dengan laki-laki itu. Kira-kira umurnya 16 tahun, tak jauh berbeda dengan umur Haisa. Siapakah namanya? Kenapa dia sebaik itu? Dan dapatkah dirinya bertemu lagi? Hanya pertanyaan itu yang ada dibenak Haisa.
“apa ini yang namanya suka sama orang? Bahagia pas’ mikirin dianya? Tapi.... masa gue suka sama T-U-K-A-N-G  K-O-R-A-N jalanan?” guman Haisa galau.

TO BE CONTINUE............

Tidak ada komentar:

Posting Komentar