Jumat, 23 Desember 2011

Hitam-Putihnya Haisa part VI


Hari ini, hari minggu sore terindah yang pernah dialami Haisa. Karena sore ini telah hadir disampingnya orang yang selalu membuat hati Haisa tak karuan. Ari, sekarang telah berada disampingnya mengantarnya pulang sampai kerumah. Sepanjang jalan pulang hanya hadir keheningan yang luar biasa hening. Dan hanya timbul beberapa senyuman manis di paras Haisa. Semilir angin membuat rambut Haisa beterbangan menambah nilai cantik pada dirinya dan membuat Ari bersyukur dapat memiliki wajah cantik itu.
Rumah Haisa sudah ada didepan mata, tapi berat langkah Haisa untuk memasuki rumah itu. Ia ingin Ari ikut bersamanya tapi tentu saja Ayah akan melarangnya dengan keras. Yaa, Haisa tau itu. Ayah memang mempunyai sikap disiplin yang tinggi. Akhirnya, setelah cukup lama berdiri diluar, Ari pun pamit untuk pulang juga.
“Sa, udah yah. Aku pulang dulu.” Ucapnya.
“Gak masuk dulu Ri?” Tanya Haisa sedikit berharap.
“Mmmmh gak usah deh. Udah terlalu sore.” Jawab Ari.
“Oh ok. Hati-hati yah.” Ujar Haisa sambil melambaikan tangan.
* * *
        Hari ini, hari Senin. Hukuman skors Haisa sudah selesai. Itu tandanya Haisa sudah bisa masuk sekolah kesayangannya seperti biasa. Sebenarnya hari Rabu yang akan datang adalah hari dimana pengumuman hasil UN akan diumumkan. Sangat bisa tertebak bagaimana perasaan Haisa saat ini. Dia sudah vacum selama 1 minggu dan saatnya ia masuk, lusanya akan menerima hasil dari kerja kerasnya.
        Karena hari ini Haisa sekolah, dia melakukan ritual kebiasannya yg sudah seminggu ini tidak ia kerjakan. Tapi tunggu sebentar.. hari sekolah, memasuki gerbang sekolah, dan akan bertemu dengan Anto. Apaa? ANTO? oh tidaaak makhluk luar angkasa yang selalu menganggu mimpi indah Haisa pasti akan menemuinya hari ini. Menyadari hal itu rasanya Haisa ingin mengulur waktu, memperpanjang masa skrorsnya demi tidak bertemu dengan alien itu. Semuanya akan suram bila dibayangkan dari sekarang.
        Akhirnya Haisa bertekad untuk menghiraukan segala macam ulah yang akan Anto lakukan untuk dirinya. Yang terpenting sekarang Haisa harus masuk sekolah untuk mengurusi data-datanya yang akan dikumpulkan untuk SMA barunya. Haisa kan sudah diterima di SMA favoritnya jadi yaa dia cukup bisa bernafas lega lebih dulu dibandingkan teman-temannya yang lain.
* * *
                        Bunda, Ayah, dan Dicky sudah menunggu dimeja makan untuk sarapan bersama. Haisa turun dengan wajah tampak setengah-setengah. Yaa setengah senang setengah khawatir. Bunda menawarkan roti untuk Haisa.
“Mau selai apa say?” Tanya Bunda.
“Yang enak apa bun?” Haisa malah balik bertanya.
“Mentega sama gula aja Bun.” Sambar Dicky tiba-tiba.  Haisa hanya melotot mendengar ucapan kakaknya tadi. Ucapan yang terdengar sangat tega bila keluar dari mulut Kakak kepada Adiknya.
“Coba selai Kacang deh bun.” Ujar Haisa akhirnya.
Bunda pun mengoleskan selai kacang pada roti dan langsung diberikan kepada gadis kecilnya itu. Haisa langsung melahap dengan cepat roti yang sekarang penuh miliknya.
“Bun, aku berangkat sama pak Jono aja yaah.” Ujar Haisa tiba-tiba.
“Gak bisa ! pak Jono nganter Ayah ke Kantor sayang. Soalnya mobil Ayah dibengkel.” Jawab Ayah yang juga tiba-tiba.
“Hah? Dibengkel? Kok bisa sih Yah? Emangnya kenapa ?” Tanya Haisa makin penasaran.
“Penyok-penyok gara-gara dibawa kakakmu tadi malam. Jadinya kamu sama Dicky. ” Jawab Ayah sambil menatap sinis ke Arah Dicky.
Hah? Whaaaat !!? sejak kapan Dicky bawa mobil? Sejak kapan ?? dan buat apa Dicky bawa mobil malem-malem? Setaunya Dicky memang bisa mengendarai mobil, tapi tidak pernah ia mengendarainya kecuali ada keadaan terdesak. Dan malam-malam? Mobilnya penyok pula. Segudang pertanyaan menghantui pikiran Haisa.
* * *
        Sesampainya disekolah.....

        Saat Haisa turun dari motor Dicky dan meninggalkan parkiran, seolah semua pandangan tertuju padanya. Bukan tatapan biasa melainkan tatapan sinis atau heran atau bingung dan ada juga tatapan iri. Yaa betul. Iri karena Haisa memiliki kakak super ganteng super baik super keren super macho dan super-super lainnya.
        Tadinya Haisa berniat untuk meminta Dicky menemaninya sampai depan pintu kelas, tetapi Dicky menolak karena ada urusan yang harus diselesaikan katanya. Sekali lagi hal aneh datang pada Dicky. Tak biasanya dia menolak jika diajak untuk kekelas Haisa. Sekali lagi membuat TANDA TANYA BESAR dalam benak Haisa. Tapi Haisa lebih memilih tidak mencampuri urusan kakaknya itu.
        Sambil berjalan menuju kelasnya, ternyata yang dikhawatirkan benar-benar terjadi. Anto telah menunggunya daritadi. Siapa yang sangka ulahnya kini makin menjadi-jadi. Ia membawa Randy cs untuk menyanyikan lagu yang terspesial untuk Haisa. Yaa Randy cs memang memiliki band dan bandnya itu cukup dikenal didaerah jabodetabek. Randy cs menyanyikan lagu yang sangat asing bagi Haisa. Sepertinya itu lagu jaman 60-an. Ah kali ini akan makin suram. Dan akan menjadi lebih suram ketika Haisa melihat Anto sedang mengambil ancang-ancang untuk membacakan puisi picisan untuknya. Sebelum terlanjur malu, Haisa lebih memilih berlari melewati Anto dan Randy cs band untuk segera kekelasnya. Anti sempat mengejar tetapi sayang dia harus di cegat oleh Bu Rina, guru bagian kesiswaan yang dikenal paling killer se seantero sekolah. Huuh kali ini dewi fortuna menyanyangi Haisa.
        Haisa cepat-cepat ingin sampai dikelasnya dengan cara mempercepat langkah kakinya. Haisa ingin cepat-cepat bertemu dengan semua temna-teman kelasnya yang sudah ia rindukan. Dan akhirnya kelas itupun sudah didepan mata. Haisa langsung memasukinya dengan pasti. Ia memasuki kelas itu dengan menampilkan senyuman yang sangat cantik dan spesial untuk semua teman-temannya yang ia rindukan.
        Saat detik-detik ia akan memasuki kelas, dan akhirnya dengan sukses ia memasuki ruangan yang bersejarah itu.
JREEEEEENG !!!
Perkiraan Haisa salah total ! bukannya sambutan hangat yang ia dapat, malah sebaliknya. Ia mendapatkan tatapan sinis dari seluruh teman sekelasnya. Haisa bingung sangat bingung. Senyum manis itu luntur pelan-pelan. Ia memilih untuk langsung duduk dibangkunya. Disebelah Chaca.
Heyy !! ada apa ini ? kenapa semua ngeliatin gue kayak gini? Horror banget deeh. Ada berita memuakan apa lagi ini. YaAllah !! hentikan semua ini sekarang juga. Haisa berguman dalam hatinya.
Haisa berniat menanyakan hal ini pada Chaca.
“Chaca. Ini kenapa sih? Kok pas gue masuk semuanya langsung pada horror gitu sih?” Bisik Haisa pelan.
Bukan jawaban yang Haisa dapat, malah Chaca menarik tangan Haisa dengan paksa. Chaca membawa Haisa ke pajangan Mading yang ada dikoridor sekolah.
Betapa kagetnya Haisa melihat tulisan bertinta merah didesign menyerupai darah. Tulisan berisikan ancaman untuk.... untuk Dicky. Apaaa !!? UNTUK DICKY ?? untuk yang sekian kalinya Haisa dibuat bingung oleh semua tingkah Dicky. Dan sekarang ancaman menyeramkan yang ditujukan buat Dicky. Tapi, kenapa ancaman itu mesti dipajang di Mading gedung SMP? Sedangkan Dicky sudah SMA dan letak gedungnya diseberang gedung SMP. Apa ini ada hubungannya dengan Haisa sebagai adik Dicky?

“NYAWA LO ADA DITANGAN GUE, DICKY !!”

Melihat tulisan horror itu, Haisa langsung memegang erat tangan Chaca. Jadi ini alasannya mengapa daritadi semua tatapan terteju pada mereka berdua saat memasuki parkiran. Semuanya seolah terjawab, tetapi jawaban itu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru. Sejak kapan Dicky mempunyai masalah? Dicky anak baik yang tidak pernah neko-neko dan Haisa meyakini hal itu.
* * *
Kini Haisa telah ada ditempat tidurnya. Memikirkan tentang Dicky. Ada apa sebenernya dengan kakak kesayangannya itu? Sejak kapan ia terlibat masalah? Semuanya terasa aneh untuk diterima. Segalanya membuat Haisa haus dan segera turun kebawah untuk mengambil air dingin.
Haisa merenung dan kembali merenung. Ia berpikir dan berpikir. Tiba-tiba terbersit dalam ingatanya. Ari, ya Ari. Haisa ingin Ari berada disini, membantunya untuk menenangkan pikirannya. Mengusir penatnya. Tapi dimana Ari sekarang? Sejak tadi pagi Haisa tidak menemukan Ari. Huuuuuh Haisa hanya bisa menarik nafas panjang untuk menenangkan hatinya sendiri.
Sambil menikmati jus buahnya, Haisa menatap kehalaman dengan pikiran penuh tanda tanya. Semuanya terasa begitu mengejutkan bagi Haisa. Setelah lam berdiam diri, Haisa baru menyadari sesuatu. Ia ingat tulisan ancaman yang tadi pagi menghiasi mading sekolahnya.
                “ Astagaa Dicky !!!” teriak Haisa sambil bergegas meninggalkan rumahnya tanpa pamit.

                *TO BE CONTINUE.........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar