Sabtu, 12 November 2011

Hitam-Putihnya Haisa part V


Haisa terdiam membisu didepan Ari. Karena kaget yang ia rasakan begitu dahsyat seperti menampar pipinya sendiri. Belum usai kekagetan yang ia rasakan, Ari sudah menyadarkannya.
“Haisa, ini korannya.” Ujar Ari mengusir keheningan yang ada.
“Eh iya hehe.” Jawab Haisa sekenannya.
“Kamu kaget kenapa? Kamu kan udah tau kalo’ aku tukang koran.” Tana Ari tiba-tiba.
“Aku bukan kaget karna kamu tukang koran. Aku kaget karna kenapa ada kamu dirumah aku hehe. “ Jawab Haisa sambil menggaruk-garuk kepala.
“kamu percaya takdir Sa?”
Mendengar pertanyaan itu, Haisa langsung terpaku dan menatap lebih dalam sorot mata Ari. Haisa berguman dalam hati, yaa mungkin ini takdir. Suatu takdir yang pahit awalnya tetapi manis akhirnya.
“Eh kenapa jadi bengong-bengong gini sih? Ckck. Yaudah yah aku mau lanjut dulu nih.” Kata Ari memecahkan lamunan Haisa.
“Hah? Eh iya. Semangat yaa Ri J” Ucap Haisa senang campur malu.
Saat mendengar kata “semangat” yang diucapkan Haisa, tidak tahu kenapa Ari merasa sangat senang. Baru kali ini ada orang yang memberinya semangat. Ari hanya bisa tersenyum malu-malu sambil meninggalkan rumah yg indah nan megah itu.
            Haisa kembali masuk kedalam Rumah dengan perasaan berbunga-bunga dihatinya. Bi Nani yang melihat Haisa senyum-senyum sendiri sampai terlihat bingung. Apakah benar ini yang dinamakan jatuh cinta? Ini yang namanya takdir? Jika benar ini takdir, sungguh ini takdir yang sangat indah bagi Haisa. Merasakan dan membiarkan cinta masuk kedalam hatinya. Mengobati rasa galau dalam dirinya. Ari, orang yang pertama kali membuat Haisa menjadi seperti ini.
            Saat kembali keruang keluarga, Ayah sudah menunggu korannya sedari tadi. Haisa pun memberikan koran yang dari tadi digenggamnnya. Ayah sedikit heran, karena Haisa wajah Haisa terlihat bersemu merah seperti baru mendapatkan sesuatu. Yaa Ayah benar, Haisa memang baru mendapatkan perasaan jatuh cinta yang kini bersarang dihatinya. Ayah membiarkan putrinya yang cantik ini menjaga muka merahnya.
            Haisa sendiri yang tidak menyadari bahwa wajahnya diperhatikan oleh Ayah, merasa aman-aman saja bila duduk ditengah-tengah mereka sambil menunggu Dicky bangun. Tiba-tiba saja Haisa ingin menanyakan pergi kemana sebenernya kakaknya itu tadi malam. Tapi, yasudahlah itu hanya hal biasa terjadi dalam kehidupan pelajar. Pulang malam karena mengerjakan tugas. Haisa merasa ada yang kurang bila makan malam tanpa Dicky.
*  *  * *
Setelah selesai mandi, Haisa langsung merapikan kamarnya karena sebentar lagi Chaca akan datang kerumahnya. Senang rasanya bertemu sahabat yang dicintainya itu. Banyak hal yang ingin Haisa ceritakan pada kawannya yang satu itu. Sebenarnya Haisa berharap kakaknya Dicky tidak pergi kemana-mana hari ini karena akan ada Chaca yang sangat berharap bisa bertemu dengannya. Haisa tau, sudah lama Chaca menyimpan perasaan pada kakaknya itu. Sebagai adik dan teman yang baik, Haisa sangat setuju bila Chaha jadi dengan Dicky. Menurutnya mereka sangat cocok.
Kamar Haisa kini sudah rapi dan wangi, tetapi Chaca belum datang juga. Haisa sudah mencoba beberapa kali untuk menghubungi sahabatnya itu, tetapi tidak ada jawaban apapun. Haisa mendadak menjadi kecewa. Ia takut bila Chaca tidak jadi datang kerumahnya. Akhirnya ia hanya bisa menghela nafas yang cukup panjang dan langsung keluar kamarnya. Ia berniat menunggu Chaca diteras rumahnya saja.
Sambil berjalan menuju teras, Haisa melewati kamar Dicky. Niatnya kini berubah. Kini ia sudah ada didalam kamar Dicky. Tidak ada orang dikamar itu. Mungkin Dicky sedang mandi. Benar saja, tak lama Haisa menunggu Dicky muncul dari luar. Ternyata ia baru saja selesai mandi. Melihat Haisa duduk ditempat tidurnya, Dicky tidak kaget sama sekali. Ia sudah bisa menebak bilamana adiknya itu akan menodongnya dengan segudang pertanyaan kenapa dia tidak ada saat makan malam.
“Napa lu de? Kangen sama gue?” Tanyanya cuek.
“Pede amat-an lo jadi orang :p gue cuma mau nanya, semalem lo kemana?” Ujar Haisa balik bertanya.
“Bukan urusan lo ah. Ngapain gue mesti ngasih tau lo.” Saut Dicky sambil bermalasan.
“Kok lo gitu? Gue kan Cuma nanya. Yaudah deh ah males gue jadinya.” Haisa sedikit emosi.
“Ngambeeek. Gitu dong ngambek. Ah dasar lo.” Ejek Dicky.
“Ih naon sih ah !” Haisa sedikit berteriak sambil meninggalkan kamar kakaknya dan menutup pintunya dengan cara dibanting.
            Saat sudah keluar dari kamar Dicky, Haisa baru teringat kembali pada Chaaca yang rencananya akan kerumahnya hari ini. Dengan spontan, Haisa langsung membalikan badannya karena berniat untuk memberi tahu hal itu pada Dicky. Dengan polos Haisa membuka pintu kamar Dicky kembali.
“Eh Dick, nanti Chaca mau kesini.” Ujar Haisa.
“Lah? Apa hubungannya sama gue? Yaudah atuh dateng aja.” Jawab Dicky sekenanya.
“Ih nyebelin banget sih lo!” Balas Haisa sambil sekali lagi mendobrak pintu kamar kakaknya.
Melihat tingkah adik satu-satunya itu, ada perasaan yang mengganjal dihatinya. Ia merasa bersalah karena mungkin ia sudah membohongi adiknya itu. Tapi karena Dicky termasuk orang yang cuek, ia membiarkan rasa bersalahnya itu terus berkembang dihatinya.
*  * * *
            Sudah dari tadi Haisa membaca majalah diteras sambil menunggu kedatanngan Chaca. Karena merasa bosan dan sudah yakin Chaca tidak jadi datang, Haisa bergegas masuk kedalam rumah. Tetapi saat baru saja akan masuk, ada yang berteriak dari luar...
“Haisaaaa !!” teriak seseorang.
Haisa pun menoleh ke sumber suara.
“Chacaaa !! ih.” Teriak Haisa sedikit mendengus.
“Haisaaa.. kangen bangeet ih sama lo.” Chaca masuk dan langsung memeluk Haisa.
“Lama banget sih non datengnya. Gue udah lumutan nungguin lo tau.” Omel Haisa.
“Hehe sorry atuh say. Tadi gue bangun kesiangan terus nunggu angkotnya lama. Eh malah ngetem angkotnya hehe. Maaf yaa sayaangku.” Jelas Chaca.
“Woo dasar alibi banget si lo ah ckck.” Haisa sedikit berdecak.
“Eh gue gak disuruh masuk nih?”
“Bawel banget sih. Ayuk deh masuk buru. Mau dimana ngobrolnya?”
“Mmm kekamar lo dulu deh hehe.”
            Chaca langsung merebahkan dirinya ke tempat tidur Haisa. Itu adalah salah satu kebiasaanya yang sebenarnya kurang sopan. Tetapi karena mereka memang sudah akrab jadi hal seperti itu sudah dianggap biasa. Sambil tiduran, Chaca memerhatikan wajah temannya itu. Chaca merasa ada sesuatu yang telah terjadi pada Haisa. Tetapi sepertinya ini hal yang baik. Karena wajah Haisa terlihat begitu cerah hari ini.
            Haisa yang merasa dirinya sedang diperhatikan, langsung menepuk pelan paha Chaca. Sepertinya Haisa akan mulai menceritakan kisahnya pada Chaca. Berhubung mereka sudah berkawan lama, Chaca tiba-tiba duduk dan mengambil posisi yang pas untuk mendengarkan cerita Haisa. Chaca seakan tau bila temannya akan membagi kisah baru yang telah dialami Haisa pada dirinya. Haisa tersenyum kecil.
            Haisa menceritakan semua kejadian yang sudah dialaminya. Kejadian saat dia bertemu Ari. Saat pertama kali ia bertemu Ari sampai terakhir ia bertemu Ari pagi tadi. Tak lupa juga Haisa menceritakan saat ia bertemu Ari di Taman dan ikut bernyanyi bercanda bersama dengan anak-anak “malang” yang kini menjadi teman barunya. Ia pun terang-terangan memberitahu Chaca bahwa sepertinya Ia sudah merasakan cinta. Haisa bilang, Ari telah berhasil dengan sukses mencuri Hatinya.
            Mendengar cerita Haisa, Chaca sedikit tidak percaya. Kenapa ceritanya begitu indah seperti halnya film-film bertemakan cinta remaja jaman sekarang. Tapi, Chaca lega karena akhirnya Haisa jatuh cinta juga. Ada rasa penasaran didalam diri Chaca. Penasaran untuk melihat sosok Ari yang telah berhasil membuat Haisa jatuh cinta.
“Sa, gue penasaran sama dia deh.” Ujar Chaca tiba-tiba.
“Ha? Eh mmm sebenernya nanti sore gue ada janji sama dia dan anak-anak buat main bareng lagi ditaman. Lu mau ikut?” Terang Haisa.
“Mmm sore yah? Boleh deh daripada gue penasaran terus sama yang namanya Ari. Tapi, gue gakpapa nih dirumah lo sampe sore?” Chaca balik bertanya.
“Yaa gakpapa lah. Kan kita bisa main game hehe. Terus lo juga bisa ngeliatin Dicky lama-lama kan? Hahaha ciyeeeeh.” Haisa meledek.
“Ih apaan sih Sa. Orang gue biasa aja gek :p”
“masa? Tuh orangnya ada diruang tv. Lagi main game juga kayaknya haha :D”
“Yee bodo amat-an lah.” Chaca pura-pura tak peduli.
            Sambil menunggu sore datang, Haisa dan Chaca menghabiskan waktu mereka dengan bermain video game. Benar saja, ternyata Dicky masih ada disana. Saat melihat Dicky, Chaca mendadak salah tingkah dan mukanya merah. Haisa yang melihat hal itu, hanya bisa mencoba menahan tawanya yang sebenarnya akan meledak sebentar lagi. Begitu pun halnya dengan Dicky, saat sadar ada Chaca, Dicky menjadi senyum-senyum aneh dan rada kaku. Haisa berguman dalam hati, “hahaha lucu banget sih mereka. Jangan-jangan Dicky juga suka lagi nih sama Chaca haha tapi amin deh amin banget. Lucu banget mereka yah. Pada salah tingkah.  Eh tapi, apa pas gue ketemu Ari, gue juga gitu yah? Ah bodo ah bodo amatan. Aneh.”
            Kegiatan bermain itu pun menjadi terasa begitu mengasyikan bagi Haisa. Ia bermain dengan teman dan kakak kesayangannya. Lengkap sudah kecerian Haisa saat ini. Dalam pikirannya, tiba-tiba terselip tentang Ari. Ya Ari. Apakah dia juga akan membuat hari ini menjadi kembali berkesan? Saat tadi ia sudah bertemu dengan Ari didepan rumahnya sendiri. Itu sudah cukup membuatnya menjadi senang. Haisa menjadi tidak sabar untuk segera pergi ketaman dan bertemu dengan Ari. Karena rasa ketidak sabarannya itu, Haisa pun membujuk Chaca untuk segera pergi ketaman. Setelah dirayu cukup lama, Haisa pun berhasil membuat Chaca ikut dengannya ke  taman.
            Setelah sampai ditaman, taman itu sepi. Sangat sepi. Tidak ada siapapun disana. Padahal sudah jam setengah 5 sore. Tidak biasanya taman sepi seperti ini. Haisa dan Chaca sudah mengelilingi taman itu, tetapi tetap saja mereka tidak menemukan Ari dan teman-temannya. Dalam hati, Haisa menyesal sudah mempercayai Ari. Padahal belum tentu Ari akan menemuinya sekarang. Haisa langsung meminta maaf pada Chaca karena awalnya ia ingin menujukan sosok Ari. Tapi ternyata yang ingin dikenalkan malah tidak ada. Akhirnya Haisa mengantar Chaca pulang sampai depan gapura perumahannya. Kecewa rasanya saat itu juga.
            Sambil berjalan, Haisa mencoba menahan air matanya. Ia merasa menjadi perempuan yang bodoh. Begitu langsung percaya pada orang yang baru saja yang ia kenal. Ingin rasanya langsung sampai kerumah, berlari kekamar dan mengurung diri untuk menangis dengan puas disana. Begitu hancur hati Haisa saat ini. Dia pikir, hari ini hari terindah tetapi ternyata malah kebalikannya. Tak terasa Haisa melewati taman. Haisa berniat untuk sekedar duduk ditaman itu. Menstabilkan suasana hatinya lagi.
            Haisa memilih tempat duduk yang tidak jauh dari jalan. Taman itu masih saja sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang memancing dipinggir danau buatan. Sambil sesekali menghela nafas panjang, Haisa memerhatikan sekelilingnya. Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pelan bahunya. Haisa kaget bukan main. Pelan-pelan tapi pasti ia menoleh kebelakang. Setelah menoleh, Haisa kaget bukan main.
“Ari.” Guman Haisa kaget.
            Ari berdiri dengan tegap didepannya. Membawa setangkai bunga mawar merah indah nan segar. Wajahnya terlihat sedikit gugup. Sepertinya Ari akan mengatakan sesuatu. Benar saja ia mengatakannya.
“Haisa, aku udah merhatiin dari lama. Aku tau ulang tahun kamu kapan, aku tau kamu suka apa, aku tau kamu benci apa. Aku tau kamu siapa. Awalnya kita berpapasan pas kamu lagi beli tali sepatu item dipinggir jalan gara-gara kepepet soalnya lagi ada razia dan kamu pake tali sepatu pink. Kita berpapasan pertama kali disitu. Tapi mungkin kamu gak nyadar ada aku disitu. Aku langsung jadi pengen merhatiin kamu. Sampai akhirnya aku berani muncul pas Handpone kau dicopet. Maafin aku. Aku begitu takut buat ketemu kamu. Sampai sekarang saatnya aku bilang semuanya.” Jelas Ari panjang lebar.
Mendengar cerita Ari, Haisa percaya tidak percaya akan kebenaranya. Haisa kaget akan pengakuan Ari bahwa Ari sudah mengenal dirinya sejak lama. Begitu baiknya Ari. Memerhatikan Haisa sampai seperti itu.
“Sa, kamu mau gak jadi pacar aku?” Tanya Ari tiba-tiba,
PLAAAAAAAAAK... ! seperti ada sesuatu yang menampar pipi Haisa. Baru kali ini ada orang yang menyatakan cintanya secara langsung. Haisa terenyuh sesaat. Ia speechless mendengar Ari berbicara kalimat itu. Tetapi semilir angin sore menyadarkan Haisa kembali. Dengan pelang ia berucap..
“Kenapa kamu baru berani muncul setelah udah lama kamu merhatiin aku?” Haisa bertanya balik.
“Karena aku malu. Aku Cuma tukang koran sama pengamen. Walaupun aku tau kamu gak pernah beda-bedain orang dari sisi derajat, tetep aja aku gak punya nyali.” Jelas Ari.
“Terus sekarang aku harus ngapain?” Tanya Haisa sedikit ragu.
“Kalo kamu nerima aku, kamu boleh ambil mawar ini. Tapi kalo kamu nolak, kamu bisa nampar aku. Bunganya juga boleh kamu buang ke danau itu.”
Haisa bingung. Baru kali ini iya diberi pilihan yang begitu susah. Lebih susah dari soal ulangan fisika disekolahnya. Hatinya berucap, Haisa suka Ari. Tapi Haisa sendiri ragu akan apa yang harus dia lakukan. Setelah hening beberapa saat, Haisa kini tau apa yang harus dilakukannya. Kini ia yakin dengan pilihannya.
“Bunganya bagus. Boleh aku simpen?” Tanya Haisa yang sebenarnya adalah jawaban dari pertanyaan Ari tadi.
“Haisaaa.. ka.mu.. kamu nerima?” Tanya Ari mendadak gugup.
Haisa hanya menundukan kepala sambil tersenyum indah. Senyuman itu, kini membuat Ari kembali terpesona dan bahagia karena kini, senyuman itu miliknya.



*TO BE CONTINUE...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar