Minggu, 18 Maret 2012

Hitam-Putihnya Haisa part VII

Haisa berjalan menyusuri jalan kompleknya dengan memakai sandal seadanya. Ia terus berjalan cepat seolah tidak mempunyai tujuan, tapi sebenernya ia punya tujuan yang jelas sangat jelas. Haisa menuju taman komplek perumahannya berharap menemukan Ari disana. Sebenernya Haisa belum tau apa yang akan dirinya lakukan, tetapi Haisa yakin setelah bertemu Ari pasti Ari akan membantunya.
            Namun apa daya Haisa jika Ari tak muncul. Harapan hanya sebuah harapan yang kadang tidak bisa berubah menjadi kenyataan. Setelah mencari setiap sudut taman, Haisa tetap tidak menemukan Ari. Haisa duduk dengan lunglai dibangku taman yang ada di pinggir kolam. Yaaaa, tempat duduk ini. Disini saat Ari menyatakan cintanya pada Haisa. Haisa sedang mengenang kejadian itu, dan membuat simpul manis di bibirnya yang khas.
            Haisa sadar, ia telah membuang waktunya disini. Haisa bingung dimanakah ia harus mencari Dicky. Mencari kakak kesayangannya itu. Sekolah. Yaa benar, Haisa akan kesekolah sekarang juga. Segera ia telepon taxi dan tak lama ia menunggu taxi itu datang. Haisa langsung pergi meninggalkan taman kenangannya menuju sekolahnya.
***
            “Jadi segini doang keberanian lo Dick ?” Tantang seseorang.
“Hey ! jangan cuma bisa nunduk doang dong lo !!” Ujar seorang perempuan.
“oke. Jadi apa mau kalian semua?” Ucap Dicky pelan.
“Yaa kita bertiga yang ada disini mau lo nikahin Kheila.” Teriak salah seorang dari mereka.
“Apaaa !!!!!!!!!!!!!!!!!?? Sinting kalian !! Gak mungkin lah ! Gue gak pernah ngapa-ngapain Kheila.” Teriak Dicky.
“Tapi lo harus mau dan harus ngelakuinnya Dick. Walaupun emang bukan lo, tapi gue maunya elo yang tanggung jawab.” Ujar perempuan tadi.
Haisa yang mendengar pembicaraan itu dari balik dinding, hanya bisa menutup mulutnya karena kaget. Shock berat yang ia rasakan. Mendengar semua ucapan yang baru saja ia dengar. Haisa meneteskan air matanya. Apa yang harus ia lakukan untuk kakaknya. Jadi, ini masalahnya. Kenapa Dicky pulang malam, kenapa Dicky membawa mobil malam-malam, kenapa mobilnya penyok, kenapa ada tulisan ancaman di mading, dan kenapa sikapnya menjadi pendiam. Ini jawabannya. Tak pernah terbayangkan akan ini semua. Terlalu berat untuk Dicky hadapi sendiri.
            “Jadi, lo mau kan Dick nikahin Kheila ? ya gampang aja sih kalo lo gamau, kita bisa aja ngancurin hidup lo hanya dengan 15 menit, dengan foto ini.” Ancam seorang laki-laki sambil menunjukan foto kedepan muka Dicky.
Haisa penasaran foto apa yang ada. Dicky telah melakukan apa. Tapi ia takut untuk muncul. Ia takut untuk ikut campur masalah kakaknya. Tetapi mana mungkin ia tega membiarkan kakaknya terancam. Akhirnya, dengan keberanian yang ada Haisa muncul.
“Jangan Cuma berani ngancem kakak gue dong !” Teriak Haisa yang tiba-tiba muncul dari balik tembok.
Semua orang yang ada disitu, kaget atas kemunculan Haisa yang tiba-tiba.
“Haisa !! ngapain sih lo disini !?” Ujar Dicky sambil menghampiri Haisa.
“Gue bantuin lo Dick. Gue ga mau diperes kayak gitu.” Jawab Haisa.
“Lo gak perlu kayak gini Sa. Gak perlu. Ini masalah gue, biar gue aja yang selesaiin. Inget, gue udah gede. Lo pulang gih nanti Bunda nyariin.” Bujuk Dicky.
“Kalo gue pulang, lo juga harus pulang. Kita pulang bareng-bareng Dick. Bunda juga gak bakal khawatir kok, kan gue sama lo.” Haisa menahan air matanya. Mengingat masa kecilnya yang indah. Dimana ia yang malah menjaga Dicky.
            Tiga orang yang mengancam Dicky tadi hanya menonton kejadian dramatis sepasang saudara itu. Tapi memang mereka semua tidak punya hati, mereka tidak luluh dengan semua itu. Dan malah balik ikut mengancam Haisa.
“Oh jadi lo mau jadi pahlawan yang sok-sokan nolongin kakak lo yang bego ini?” Tanya perempuan itu sinis.
“Heh ! kakak gue tuh gak bego. Malah elo tuh yang bego, mau mau aja digituin sama cowok. Murahan tau !” Teriak Haisa yang tidak terima kakaknya dihina.
“Apaa !? lo bilang gue murahan ? tapi kakak lo mau tuh pacaran sama gue. Berarti kakak lo bego kan ? udah deh lo tuh masih kecil gak ngerti apa-apa.” Balas Perempuan bernama Kheila yang ternyata pacar Dicky.
“APAAA !!? lo pacarnya Dicky ? gak mungkin. Sumpah yaa lo tuh kalo mau ngarang mikir-mikir dulu eh !” Haisa kaget tak menyangka.
“Dick, mending lo kasih tau adik lo yang bego ini juga deh.” Ujar Kheila pada Dicky.
            Mendegar pernyataan itu seperti ada yang menampar Haisa. Begitu kaget yang ia rasakan. Sejak kapan Dicky menjadi seperti ini ? sejak kapan ??? SEJAK KAPAAN !!? Haisa benar-benar tak menyangka. Haisa menangis, benar-benar menangis sekarang. Orang-orang disekitarnya malah menatapnya keheranan tapi Haisa tidak peduli lagi. Haisa menarik lengan Dicky dan menariknya untuk pulang bersamanya. Kheila tidak mencegahnya, mungkin Kheila masih berbaik hati untuk memberi kesempatan Haisa untuk berbicara pada Dicky untuk waktu yang lama dan mungkin sangat lama. Dicky pun tidak menolak lengannya ditarik. Malah sebenarnya Dicky ingin cepat memeluk adiknya itu dan menjelaskan semuanya. Dicky ingin mengusap air mata Haisa yang terus mengalir selama perjalanan dimotor yang dikendarainya.
***
            Kini mereka berdua telah ada dikamar Haisa. Setelah makan malam Haisa ingin berbicara dengan kakaknya tentang apa yang sudah terjadi dengan Dicky. Hanya ada kesunyian dalam kamar itu, Haisa dan Dicky hanya terdiam seolah enggan membuka mulutnya.
“Bukan salah gue Sa.” Ucap Dicky pelan membuka pembicaraan.
“Waktu itu, gue lagi main. Yang pas gue pulang malem itu loh Sa. Gue main dirumah Kheila. Tapi gak cuma gue doang, banyakan sama temen-temen gue yang lain juga. Lo tau kan Ken, Rama, Seto, Arme, Dimas, Cikho ? gue bareng sama mereka semua Sa. Tapi ternyata gue dijebak Sa. Mereka semua sialan Sa. Mereka masukin obat tidur keminuman gue, dan gue tidur. Pas gue tidur, mereka ngerjain gue Sa. Ya lo tau lah modusnya gimana. Gue bingung Sa, gue takut. Gue nyesel.” Jelas Dicky panjang lebar.
“Kenapa mobil penyok?” Tanya Haisa datar.
“Itu posisi gue lagi ribut sama Rama Sa. Gue marah besar sama dia. Gue ribut sama dia, dan yaudah mobil lepas kendali gitu aja.” Dicky menunduk.
“Kenapa lo gak bilang lo udah punya pacar? Dan kenapa mesti Kheila? Dia gak terkenal di Harapan Pertiwi.” Tanya Haisa lagi.
“Gue emang udah pacaran sama dia Sa, udah 2 bulan yang lalu. Gue sengaja pacaran sama anak yang gak terkenal biar gak jadi ribet masalahnya. Tapi, gue gak nyangka kalo ternyata Kheila semurahan itu. Gue nyesel Sa.”
“Gue percaya Dick, lo kakak gue. Lo baik, lo gak bego, gue percaya Dick. Gue bakal bantuin lo semampu gue. Gue gak mau lo ngerusak nama baik Bunda sama Ayah.” Haisa menangis kembali lagi.
“Sini Sa, gue pengen meluk lo.” Dicky mendekap Haisa yang menangis. Dicky mendekap erat Haisa seolah ia tak mau Adiknya pergi.
            Malam ini terasa panjang bagi sepasang saudara kandung ini. Khusus untuk malam ini, Haisa mengizinkan Dicky tidur sekamar dengannya. Tentunya Dicky membawa kasur sendiri dan tidur dibawah, sedangkan Haisa diatas. Mereka tidur sambil berpegangan tangan dengan erat seolah berjanji akan saling menjaga satu sama lain.
***
            “Dicky !!!!! banguuuuuuuuun !!!” Teriak Haisa kembali ceria.
“Ih kebluk ya ini manusia. Wooooy banguuun Dicky !! keboo banguun !!” Teriak Haisa yang kali benar-benar berkoar.
Ternyata Dicky benar-benar mengantuk gara-gara tadi malam ia tidur sangat larut. Mungkin Dicky kecapaian dan menginginkan tidur lebih lama. Haisa hanya tersenyum dan membiarkan kakaknya tidur pulas diatas kasur yang empuk miliknya. Saat Haisa sedang memakai sepatu dipinggir tempat tidurnya, tiba-tiba Dicky memeluknya dari belakang dengan erat. Jelas Haisa sangat kaget. Sudah lama Dicky tidak memeluknya seperti ini. Haisa merasakan betul, Dicky sedang rapuh.
“Ih ngapain sih lo peluk-peluk gue !! bau tau !!” Haisa berteriak dan loncat kesisi lain.
“Enak aja. Eh gue cool juga ya ternyata kalo abis bangun tidur hahahaha pantes aja gue disebut pangeran harapan pertiwi hahahahahaha.” Dicky tertawa lepas.
“Yee pede banget lo ngomong kayak gitu. Udah sono lo mandi ih bau juga. Mau sekolah gak?” Jawab Haisa.
“Mmm gue males ih sekolah, tapi gue sekolah kok tapi gue telat-telatin aja hehe.” Dicky nyengir.
“Dasar lo yaa. Yaudah gue berangkat bareng pak Jono yaa.”
“Sip.”
Saat Haisa hendak menutup pintu, Dicky kembali lagi memanggil Haisa.
“Eh, Haisaa..”
“ya?” Haisa menoleh.
“Sini deh.” Ujar Dicky.
“duuuh apaa sih......”
Dicky kembali memeluk Haisa. Kembali dengan erat sangat erat.
“Gue sayang banget sama lo, Dek.”
Haisa kageet. Dicky memanggilnya “Dek” artinya ia serius. Haisa pun membalas pelukan kakak satu-satunya itu. Sambil memberi bisikan semangat.
“Semangat yaa Dick, lo pasti bi.....”
Cup...
Belum sempat Haisa melanjutkan kata-katanya, Dicky mengecup pipinya.
“Ih gak usah pake cium-cium kali drama banget sih lo ihh nyebelin.” Teriak Haisa sambil mengambil ancang-ancang akan menimpuk Dicky dengann bantal.
“Biarin wleee hahahhahahahhahahahaha” Dicky pun bersiap untuk lari keluar kamar.
            Pagi ini, menjadi pagi terindah bagi Haisa. Dicky memeluk dan menciumnya tanda kasih sayangnya. Haisa bersyukur memiliki kakak seperti Dicky karena Dicky lumayan bisa dibanggakan sebagai kakak. Tapi yang jelas, Haisa ingin Dicky menjaganya untuk saat ini.


*TO BE CONTINUE...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar