“Ayah sama Bunda ngapain disini ?” Tanya Haisa masih kaget sambil mencoba duduk mendekati meja.
“Tadinya sih mau reuni sama temennya Ayah, eh ternyata om ini bawa anaknya. Yaudah daripada dia kasian sendirian Bunda suruh dia jemput kamu aja hehe.” Jelas Bunda sambil sesekali tersenyum kearah orang tua Ari.
“Eh iya, kalian udah kenalan belum ?” Tanya Om Darma, orang tua Ari.
“Udah dong Pi.” Jawab Ari sambil tersenyum kearah Haisa.
Ini makan malam yang menyenangkan bagi Haisa. Andai saja Dicky ikut ditengah-tengah kami mungkin akan lebih menyenangkan pikirnya.
Ternyata, Ari berasal dari keluarga yang bisa dikatakan menengah keatas. Tapi, kenapa ia harus berpura-pura menjadi tukang koran? Sudahlah itu tidak begitu penting. Yang jelas Haisa senang karena bisa bertemu kembali dengan Ari dan malah ia bisa mengenali keluarganya lebih dekat. Sehingga tidak ada yang dirahasiakan lagi. Lega hati Haisa saat ini.
***
Pagi ini, Haisa tidak kesekolah karena memang sudah selesai. Kelengkapan administrasi untuk masuk SMA sudah dipersiapkan 3 bulan lalu. Rencananya, hari ini ia akan berbelanja perlengkapan seragam SMA bersama Bunda. Asyiknya pergi bersama Bunda tersayang apalagi perban dikaki dan kepalanya sudah dilepas.
Haisa sudah standby di Mobil bersama pak Jono, tinggal menunggu Bunda yang terlalu lama dandan. Setelah sampai ditoko yang dituju, Haisa sangat antusias memilih mana baju seragam yang cocok untuknya. Maklum, kata Dicky saat SMA itu adalah masa masa terindah selama hidup kita. Haisa ingin melewati masa SMAnya dengan seragam yang akan membuatnya terlihat cocok dan cantik.
Setelah selesai membeli semuanya, Bunda ingin segera pulang tetapi Haisa masih ingin main. Akhirnya, Bunda pulang duluan dan Haisa masih ada diMall berjalan-jalan sendiri. Pikir Haisa, lebih baik didalam Mall sendirian daripada dirumah yang benar-benar sendirian. Saat sedang asyik melihat pernak-pernik kamar disebuah toko, dari kejauhan Haisa melihat sosok yang sepertinya ia kenali. Haisa pun meninggalkan toko tersebut dan mendekati orang yang baru saja dilihatnya itu.
Benar saja, ternyata itu Kheila. Sedang apa dia disini. Dia sendirian tanpa siapapun. Ini kesempatan bagus bagi Haisa untuk mengikuti Kheila ingat misinya untuk membantu Dicky. Saat ia ingin melangkah ada seseorang yang mengagetkannya.
“Hai Haisa !” Sapa seseorang yang ternyata Anto.
“Ih lo tuh ngagetin gue aja sih ah.” Ujar Haisa sambil mengelus dadanya.
“Hehe eh sendirian aja?” Tanya Anto dengan tampang so coolnya.
“Pengen tau banget sih.” Jawab Haisa sinis dengan mata mencari-cari jejak Kheila.
“Ah kayaknya lo sendirian, gue temenin deh ya.”
“Bawel banget lo.” Haisa sedikit membentak.
“Gue kan mau ke Paris Sa, minggu depan gue berangkat. Jadinya ya kapan lagi gue bisa ke Mall berduaan sama lo.” Ucap Anto mulai memelas. Haisa kasihan juga mendengar pernyataan Anto. Sudah 5 tahun Anto mengejar dirinya, tetapi Haisa tidak pernah memerdulikannya. Mungkin saat ini Haisa harus berbaik hati membiarkan Anto berada disampingnya sebentar. Toh nanti ia tidak akan bertemu dengan alien ini lagi.
“Yaudah. Tapi gak ribet ya To. Gue lagi mengintai seseorang nih.” Ucap Haisa akhirnya.
“Yeah akhirnya lo mau juga Sa. Yaudah gue ikut ngintai juga deh hehehe.” Anto merasa bahagia.
Akhirnya, Haisa dan Anto pun mengikuti Kheila. Sebenarnya dari tadi Anto bertanya Haisa mengintai siapa tetapi Haisa diam saja dan membuat Anto juga diam. Kheila memasuki sebuah cafe. Sepertinya ia akan bertemu seseorang. Haisa dan Anto pun ikut memasuki cafe itu. Mereka memilih meja pojok yang tidak memungkinkan untuk Kheila mengetahui keberadaan dirinya.
Lama menunggu, akhirnya ada seorang laki-laki yang menghampiri Kheila. Laki-laki itu cukup keren, ok, dan stylist juga tetapi bagi Haisa, Dicky tetap lebih keren. Laki-laki duduk disebelah Kheila. Mereka mengobrol dengan serius kelihatannya. Haisa makin penasaran apa yang dibicarakan mereka berdua. Apa ada hubungannya dengan Dicky ? Haisa selalu menebak-nebak. Ditengah pembicaraan Kheila dan laki-laki itu, tiba-tiba laki-laki itu mengeluarkan gadget dan diberikannya pada Kheila. Maksudnya apa ? Haisa masih berpikir. Sampai akhirnya Kheila pergi meninggalkan laki-laki itu.
Haisa hanya bisa diam dan diam. Anto yang melihatnya menjadi heran tetapi memilih untuk diam juga.
Apa yang dilakuin Kheila? Apa buat nyelakain Dicky ? Apa buat meres Dicky lagi ? Haisa kembali berguman.
“Sa, lo mau pulang kapan ? nanti gue yang anter ya.” Tawar Anto.
“Enggak perlu To, gue sama pak Jono kok.” Jawab Haisa.
“Yah. Tapi kapan-kapan mau ya gue anter.” Rengek Anto.
“Kalo lo udah normal, baru gue mau lo anter. Yaudah gue cabut ya. Makasih udah nemenin. Bye.” Ujar Haisa sambil meninggalkan Anto yang masih duduk di kursi cafe. Anto yang mendengarnya hanya bisa keheranan. Haisa memang aneh, tetapi selalu punya pesona sendiri. Yang membuat Anto setia menjadi penggemar fanatiknya.
***
“Iya Dick, gue ngeliatnya sih gitu.” Haisa menceritakan yang ia lihat tadi siang di Mall.
“Lo yakin Sa dia ngasih gadget ?” Tanya Dicky akhirnya setelah lama diam.
“Yakin. Tablet gitu. Gue takut ada apa-apa sama lo Dick.” Jelas Haisa menunduk. Dicky yang mendengar ucapan adiknya hanya bisa tersenyum. Mungkin ini sisi positif dari masalah ini, ini bisa membuat Haisa dan Dicky kembali bersama dan kompak.
“Lo tenang aja Sa. Kalo pun gue kenapa-napa, gue ngerasa oke oke aja kok.” Dicky nyengir konyol.
“Dasar aneh. Ohiya, Chaca nanyain lo tuh tadi nelpon gue.” Pancing Haisa. Haisa ingin tahu apakah Dicky masih suka atau tidak.
“Hah ? ngapain itu orang nanyain gue. Bilang aja gue udah ada cewek gitu.” Jawab Dicky sambil langsung merebahkan badannya dikasur.
“Uh dasar lo. Dia suka banget sama lo tau Dick. Udah 2 tahun. Dia kan cantik, manis, pinter lagi. Apa coba yang kurang. Lo malah sukanya sama tipe-tipe kayak Kheila yang gajelas gitu. Aaaah an..” Belum selesai Haisa bicara, Dicky sudah memotong.
“Sa, please deh. Jangan bandingin Kheila sama Chaca. Gue sadar mereka tuh beda jauh. Kalo lo ngomong kayak gitu, gue ngerasa bego banget.” Dicky memalingkan mukanya kearah lain. Haisa kesal, dan langsung membanting pintu kamar Dicky dan keluar.
“Terserah lo deh Sa !” Teriak Dicky lama setelah Haisa pergi.
Haisa merasa kesal Dicky berucap seperti itu. Ternyata Dicky masih saja memikirkan Kheila yang jelas-jelas orang yang menyaikitinya. Dicky memang terlalu baik. Terlanjur baik untuk disakiti tapi sayangnya Kheila tidak mengetahui hal itu. Kheila jahat dan tidak punya perasaan. Sesaat, Haisa merasa bersyukur memiliki Ari yang baik dan mengerti. Tetapi, Haisa belum bisa menceritakan Ari kepada Dicky, karena menurutnya masalah Dicky sudah cukup berat bagi Dicky sendiri. Hidup ini memang teka-teki, pikir Haisa.
***
Tiga minggu sudah berlalu, hari ini hari pertama Haisa memakai seragam putih abu-abu. Meninggalkan masa putih-biru dia SMP Harapan Pertiwinya. Sayangnya, Haisa tidak bisa mengikuti MOS karena selama 2 hari itu, Haisa flu dan Bunda tidak mengizinkannya. Tetapi hal itu tidak mengurangi semangat Haisa. Walaupun masih sedikit pusing, Haisa tetap sekolah dan senang karena memakai seragam barunya. Terlihat cocok dan cantik. Berdiri depan kaca terlalu lama, membuat Bunda berteriak-teriak memanggil Haisa untuk sarapan pagi bersama. Haisa pun bergegas.
“Ceileeh yang jadi anak SMA.” Ledek Dicky sambil mengoles selai kerotinya. Haisa hanya senyum-senyum sendiri diledek seperti itu.
“Berarti gak nebeng gue lagi ya. Kita beda sekolah deh Sa, akhirnya hahahhaha.” Tawa Dicky menggelegar.
“Ih nyebelin banget. Bundaaaa tuh Dickynya ih.” Haisa manyun. Bunda dan Ayah hanya tertawa kecil melihat tingkah kedua anaknya yang aneh tetapi menggemaskan.
“Bunda, aku dijemput sama Ari ya pulangnya.” Ujar Haisa tiba-tiba.
“Ari ? siapa tuh ? belom juga masuk sekolah, udah dapet gaetan aja lo Sa.” Tanya Dicky keheranan tetapi Haisa tidak menanggapi.
“Yaudah. Kalo mau mampir-mampir dulu telepon ke Bunda ya.” Ujar Bunda.
“Oke deh Bun. Yaudah aku berangkat yaaa hehehe.” Haisa kegirangan dan langsung berangkat kesekolah diantar pak Jono seperti biasa.
Sesampainya disekolah, Haisa duduk ditaman sekolah yang megah itu. Salah satu SMA favorit yang ada di Jakarta yang berbasis internasional. Haisa seperti mimpi dapat bersekolah ditempat itu. Haisa duduk sambil tersenyum-senyum tiba-tiba dari belakang ada yang menutup matanya.
“Duh siapa sih?” Ucap Haisa sambil meraba-raba jari orang yang menutup matanya itu.
“Baaaaa.. hahhahahhahhahahahhahahaha.” Tawa orang itu sambil melepaskan tangannya.
“Chacaaaaaa !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! ih nyebelin !!!” Teriak Haisa hingga berdiri. Orang-orang disekitarnya melihatnya keheranan.
“Eh gak usah pake toa kali neng hahaha. Kaget ya ?” Tawa Chaca.
“Ih nyebelin masuk sini gak bilang-bilang. Bagus yaa baguuusss.” Haisa manyun.
“Namanya juga surprise hehhee. Udah yuk ah kelapangan. Tuh udah dipanggil.” Ajak Chaca menarik tangan Haisa. Hidup ini indah, pikir Haisa sekali lagi.
***
Sayangnya, untuk kali ini Chaca dan Haisa tidak sekelas. Haisa kelas X-A sedangkan Chaca kelas X-E hmmh cukup jauh. Tapi Haisa dan Chaca berjanji akan terus bersama-sama kapanpun. Setelah memasuki ruang kelasnya, Haisa merasa ada kesamaan antara kelas barunya yang ini dan kelas lamanya di Harapan Pertiwi. Sama-sama nyaman. Orang-orangnya pun kelihatannya asik-asik. Tak sulit bagi Haisa untuk mendapatkan teman baru, karena memang ramah dan supel Haisa langsung kenal teman sekelasnya. Tanpa ragu, ia mengajak salah satu temannya untuk menemaninya ke toilet. Kelas yang bagus.
Bel tanda istirahat pertama dibunyikan. Waktu istirahat pertama yang Haisa alami di Budi Sentosa Internasional Senior High School ini. Haisa dan Chaca bersama-sama kekantin. Haisa memesan jus strawberry dan Chaca memesan pop ice avocado.
“Enak juga ya Kantinnya.” Ucap Haisa membuka pembicaraan.
“Iya enak. Apalagi kakak kelasnya. Cakep cakep hehhehe.” Chaca memperlihatkan wajah konyolnya lagi.
“Woo dasar cowok mulu.” Ujar Haisa sambil meminum jus strawberrynya.
“Mulu ? pacaran aja enggak pernah gue. Mulu lagi.” Chaca manyun.
“Ohiya ya hehe maaf maaf atuh. Tapi tetep aja gak ada yang secakep Ari.” Haisa mulai membayangkan Ari dan tersenyum manis.
“Emangnya Ari kayak gimana sih ? kata lo kan dia bohongin lu. Ternyata dia tajir. Gue jadi makin penasaran.” Chaca penasaran.
“Mmmh kebetulan banget Cha, nanti gue mau dijemput sama dia hehe.”
“Yah Haisa. Berarti gue gak bisa nebeng lo dong. Ah payah deh si Ari.”
“Hahaha ya kapan-kapan aja nebengnya. Tapi kan lo bisa liat dia Cha.”
“Ohiya bener juga ya. Ha.ha..ha..ha..” Mereka tertawa bersama dikantin itu.
Dari kejauhan, ada seseorang yang mengawasi mereka berdua. Tatapan itu dingin, sangat dingin. Tatapan sinis dari laki-laki yang kurang perhatian. Orang itu memperhatikan sikap Haisa, dan pergi setelah Haisa pergi.
Akhirnya, bel pulang berdering juga. Haisa sangat bersemangat mengemasi barang-barangnya yang berserakan dimeja. Setelah ia pamit ke teman sebangkunya, Haisa langsung keluar meninggalkan kelas itu. Diluar kelas, Chaca sudah menunggu Haisa. Haisa menghampiri Chaca dan mereka berjalan bersama ke gerbang sekolah. Diluar gerbang, mobil odsay hitam milik Ari sudah terparkir dan Ari berdiri disambing Mobilnya. Haisa dan Chaca pun menghampiri Ari.
“Hai Sa.. ih kamu cantik pake seragam baru nih yee.” Puji Ari yang juga masih memakasi seragam SMAnya.
“Apasih. Ohiya ini kenalin sahabat aku, Chaca. Chaca ini loh yang namanya Ari.” Haisa memperkenalkan Ari dan Chaca.
“Hai, gue Ari. ” Dip Ari memperkenalkan dirinya sambil menyipitkan sebelah matanya pada Chaca. Chaca yang melihatnya langsung merasa ada yang aneh dan merasa Ari... ah sudah lah mungkin itu memang kebiasannya. Karena merasa tidak nyaman, Chaca pamit langsung pulang duluan.
Haisa dan Ari pun memasuki mobil odsay tersebut dan langsung pergi meninggalkan sekolah itu. Dan meninggalkan tatapan seseorang yang melihat kejadian itu dengan detail.
*TO BE CONTINUE

Halo Tia disini.... kenal aku kan, cah. Sebagai sesama penulis Blog merangkap cerita. Saya akan memberikan saran. Semoga berguna ya ^^V
BalasHapusPertama-tama jika mau mulai ke cerita baru ada baiknya mulainya difaragraf baru. Contohnya
-(Haisa sudah standby di Mobil bersama pak Jono, tinggal menunggu Bunda yang terlalu lama dandan. Setelah sampai ditoko yang dituju,)
-(Haisa sudah standby di Mobil bersama pak Jono, tinggal menunggu Bunda yang terlalu lama dandan.
Setelah sampai ditoko yang dituju)
gitu aja.
terus dibagian yang ini
-(Haisa pun meninggalkan toko tersebut dan mendekati orang yang baru saja dilihatnya itu.)
akan lebih enak dibaca kalau gini:
-(Haisa bergegas meningalkan toko tersebut, dan berjalan mendekati orang yang tadi dilihatnya.) kan terasa lebih halus.
Segitu aja deh, semoga saranya berguna. Semua manusiakan tak lepas dari kesalahan. Saya pribadi juga begitu.
So... tetap semangat buat nerusin cerita. berjuang...
Ditunggu lagi ceritanya. Keep wirting (bener ga nulisnya.
Konichiwa...
samapai bertemu lagi di kelas X-9.
By: Tia